Seorang pemimpin harus memiliki komitmen yang jelas untuk menjaga keutuhan bangsa dan negara yang dipimpinnya. Jika yang dipimpin merupakan negara dengan keragaman budaya, suku, ras, dan agama, maka ia harus memiliki komitmen untuk menjaga keragaman itu.

Dalam perspektif Indonesia, komitmen menjaga keragaman merupakan perintah konstitusi (UUD 1945). Mengorbankan keragaman, untuk kepentingan apa pun, sama artinya dengan mengabaikan konstitusi. Konstitusi menjadi alat perekat yang bisa mempertemukan berbagai kepentingan, kelompok, dan aspirasi.

Konstitusi menjadi salah satu tiang utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena begitu pentingnya keberadaan dan fungsi konstitusi maka wajar jika ada kepala negara yang terbukti mengabaikan konstitusi, konsekuensinya harus dimakzulkan.

Siapa pun yang menjadi pemimpin di Indonesia, pada level mana pun, ia harus taat dan patuh pada konstitusi. Ketaatan dan kepatuhan pada konstitusi bukan wilayah yang bisa ditawar-tawar bagi setiap warga negara. Maka penegasan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama bahwa ia rela mati demi membela konstitusi, itulah komitmen yang memang sudah seharusnya dimiliki seorang pemimpin.

Penegasan komitmen itu penting karena di atas panggung republik ini sudah terlalu banyak pemimpin yang ternyata hanya peduli dengan kelompoknya saja, entah itu kelompok agama, suku, atau yang lebih sempit lagi, keluarganya. Pada saat kepentingan kelompok lebih dikedepankan, jangan berharap keadilan bisa ditegakkan.

Pengutamaan kelompok akan membuat seorang pemimpin kehilangan perspektif keindonesiaan yang utuh. Akibatnya akan memicu konflik, serta segregasi kelompok yang tidak menjadi bagian dari kelompok yang dipentingkannya. Contoh-contoh dari munculnya fenomena ini sudah banyak kita jumpai seperti dalam kasus penolakan berdirinya tempat ibadah

Pendirian tempat ibadah adalah bagian dari ekspresi kebebasan beragama yang dijamin konstitusi. Tempat ibadah diharapkan bisa menjadi naungan bagi mereka yang dilanda kegersangan jiwa; menjadi tempat kembali bagi mereka yang tersesat jauh dari jalan Allah.

Jika tempat ibadah dilarang berdiri maka kemana mereka yang kehausan spiritual itu akan pergi? Ini harus menjadi pertimbangan, bahwa banyak kalangan membutuhkan katarsis dari kegersangan jiwanya. Jika tidak ada tempat untuk menyaluran, jiwa itu akan terguncang dan kemungkinan akan melahirkan ekspresi yang destruktif yang merugikan orang lain. Selain itu, segregasi kelompok juga bisa membuat banyak pengikut sekte atau mazhab yang terlantar di rumahnya sendiri, atau bahkan dinistakan dan diusir dari tanah kelahirannya sendiri.

Padahal mereka adalah warga negara yang juga memiliki hak-hak –seperti warga negara lainnya—yang dijamin konstitusi. Lihatlah pengikut Syiah dan Ahmadiyah, berapa banyak di antara mereka yang rumahnya dibakar, tempat ibadahnya diluluhlantakkan, hanya karena mereka dianggap kafir dan sesat. Fatwa ulama –yang mengafirkan dan menyesatkan—bukan mendamaikan malah mengakibatkan kesengsaraan.

Selain penegakkan konstitusi, anti korupsi adalah komitmen yang harus dimiliki seorang pemimpin. Dan, lagi-lagi, Gubernur DKI Jakarta yang populer dipanggil Ahok juga pernah menegaskan bahwa dirinya rela mati untuk melawan korupsi. Karena menurutnya, akar dari semua persoalan bangsa ini adalah korupsi. Karena korupsi, rakyat sengsara, pembangunan terabaikan.

Ada pepatah, seekor ikan akan membusuk dari kepalanya. Pemimpin harus menjadi contoh bagi segenap rakyatnya. Gubernur harus menjadi contoh semua aparat yang ada di bawahnya, terutama dalam hal komitmen memberantas korupsi. Tapi jika pemimpinnya sudah terbiasa korupsi, atau bahkan sudah membusuk, maka tunggulah saatnya akan tiba pembusukan negara secara umum.

Maka penegasan anti korupsi bagi seorang pemimpin menjadi penting karena dengan cara itulah ia bisa dihormati. Dengan cara itulah ia bisa menjadi contoh dan disegani. Banyak pemimpin gagal, titah-titahnya tak diindahkan, hanya karena ia dianggap tidak patut dicontoh.

Kalau kita berkaca kepada para pemimpin, terutama para founding father negeri ini, semuanya bisa dicontoh. Komitmen mereka dalam menjaga kebhinekaan, dan dalam menjaga diri dari tindakan-tindakan yang merugikan negara, tak perlu diragukan. Soekarno, Hatta, Syahrir, Natsir, Kasimo, dan lain-lain adalah di antara pemimpin yang patut dicontoh.

Membaca riwayat perjuangan mereka senantiasa memberi inspirasi, membangkitkan energi positif untuk mengabdi.  Bagi para pemimpin ini, jangankan korupsi, mereka  rela mengorbankan harta milik pribadinya untuk kepentingan negara. Komitmen membangun negara sudah menjadi bagian dari nafas kehidupan. Menjaga kebersamaan dalam keragaman sudah menjadi bagian integral dari watak perjuangan.

Leave A Comment