Tantangan Kebebasan Beragama

Pada perayaan Natal, 25 Desember 2012, ternyata masih belum ada perkembangan yang berarti. Seperti Natal tahun lalu, masih ada sejumlah jemaat yang tak bisa melakukan ibadah. Bukan karena sakit atau halangan fisik lainnya, tapi karena mereka mendapatkan tantangan dari sekelompok orang yang tak mengizinkan mereka beribadah seperti yang dialami umat Kristiani di Filadelfia, Bekasi, dan di kompleks perumahan Yasmin, Bogor. (more…)...
Read More

Demokrasi Minus Toleransi

Banyak kalangan menilai, Indonesia saat ini merupakan negara paling demokratis di dunia. Bahkan Amerika, yang kita kenal sebagai gurunya demokrasi, dalam batas-batas tertentu sudah kalah oleh Indonesia. Dalam memilih calon presiden, misalnya, cara yang digunakan di Indonesia lebih demokratis dibanding cara Amerika. (more…)...
Read More

Terobosan Memunculkan Calon Presiden

Ada tantangan berat untuk memunculkan nama-nama calon presiden (capres) alternatif, yakni dari kokohnya oligarki politik. Hanya partai-partai besar yang bisa mengusung capres. Dan hanya dari kalangan elitnya yang bisa menentukan siapa capres yang harus diusung dari partai besar tersebut. Kekokohan oligarki politik ini sulit ditembus kecuali dengan terobosan-terobosan kreatif untuk memunculkan capres-capres alternatif.Terobosan itu antara lain sudah dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) yakni dengan menjaring capres melalui opinion leaders. Para pemangku jabatan, para pembuat kebijakan, pimpinan perusahaan, para eksekutif,…...
Read More

Tantangan Multikulturalisme

Multikulturalisme merupakan keniscayaan sejarah. Di tengah arus globalisasi tampaknya tak ada satu pun negara di dunia ini yang bisa berkembang secara homogen, menutup diri dari budaya lain. Bagi Indonesia, multikulturalisme bahkan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan, karena negeri ini ditakdirkan lahir dengan beragam suku, agama, bahasa, dan budaya.Meskipun demikian, bukan berarti tak ada kalangan yang mencoba menafikan kondisi objektif masyarakat Indonesia. Dengan mengatasnamakan agama tertentu atau etnik tertentu dan dengan metode tertentu, mereka berupaya menjadikan Indonesia sebagai negara yang…...
Read More

Demokrasi Multikultural

Demokrasi meniscayakan persamaan derajat dalam proses pengambilan keputusan seperti pemilihan umum dan di depan hukum. Dalam pemilihan umum (Pemilu) di suatu negara, tak ada perbedaan suara antara satu etnis dengan yang lainnya, atau antara pemeluk suatu agama dengan pemeluk agama yang lainnya. Begitu pun di depan hukum (before the law), ada persamaan (equality) yang tak bisa direduksi baik oleh kelas sosial maupun jabatan struktural. Demokrasi yang secara generik bermakna pemerintahan oleh dan untuk rakyat bertujuan untuk membangun ketertiban sekaligus kesejahteraan. Negara-negara…...
Read More

Merawat Persatuan dan Kebersamaan

Tahun ini, perayaan Hari Raya Idul Adha berhimpitan dengan peringatan hari Sumpah Pemuda (26 dan 28 Oktober 2012). Momentum ini penting dicermati karena antara keduanya (Idul Adha dan Sumpah Pemuda) mempunyai semangat yang sama, yakni pengorbanan dan persatuan.Dalam Idul Adha, segenap umat Islam dianjurkan untuk mengorbankan sebagian harta yang dimilikinya, yang direpresentasikan dalam bentuk binatang ternak (kambing, kerbau, sapi, dan unta). Artinya, yang harus dikorbankan, selain konsumerisme (kepemilikan harta) juga watak kebinatangan kita yang egois, serakah, dan kegemaran berbuat sesuatu…...
Read More

Tragedi Mazhab Minoritas

Solid diluar, rapuh di dalam. Inilah gambaran toleransi yang ditunjukkan umat Islam di Indonesia. Toleransi pada kehidupan agama-agama lain relatif cukup baik (jika dibandingkan dengan yang terjadi di negara-negara lain), tetapi pada sesama pemeluk Islam sendiri tampaknya sangat buruk. Ada kesan, jika dalam hubungan antaragama berlaku hukum negara, tapi dalam hubungan sesama mazhab berlaku hukum rimba, yang kuat menindas yang lemah. Maka lihatlah bagaimana nasib mazhab Syiah dan Ahmadiyah yang senantiasa dinistakan oleh “oknum”  yang mengaku Sunni, mazhab mayoritas muslim…...
Read More

Aktualisasi Solidaritas Sosial

Dengan berpuasa, menahan sengatan lapar dan haus dari terbit fajar hingga maghrib, setidaknya kita akan ikut merasakan betapa sengsaranya hidup berjam-jam tanpa makan minum. Dan kesengsaraan seperti itulah yang menjadi keseharian mereka yang tak punya apa-apa untuk dimakan atau diminum. Disadari atau tidak, masih banyak di sekitar kita fakir miskin yang terpaksa “berpuasa” sepanjang hidupnya, tak hanya di bulan Ramadhan.Dalam konstitusi kita tertera, “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”. Karena banyak faktor, terutama disebabkan kebijakan-kebijakan politik yang jauh…...
Read More

Menumbuhkan Rasa Saling Percaya

Puasa merupakan wahana membangun kepercayaan. Dalam praktik, kepercayaan tumbuh karena adanya rasa saling percaya. Di kolom ini saya sudah menulis bahwa puasa di bulan Ramadhan mengandung pendidikan kejujuran. Anda bisa saja mengaku puasa, tapi siapa yang bisa menjamin, di tempat sepi misalnya, diam-diam Anda makan dan minum. Itulah sebabnya maka kejujuran menjadi pilar utama puasa. (more…)...
Read More

Menyikapi Isu NII

Jika kita baca sejarah, Negara Islam Indonesia (NII) pertama kali diproklamirkan di Malangbong, Jawa Barat, 7 Agustus 1949 oleh Sukarmadji Maridjan Kartosuwirjo. Gerakan ini kemudian berkembang ke beberapa daerah seperti Jawa Tengah (1950), Kalimantan Selatan (1951), Sulawesi Selatan (1952) dan Aceh (1953). Karena dianggap sebagai bentuk pemberontakan terhadap negara,  pada 16 Agustus 1962, NII secara resmi dibubarkan pemerintah.   Meskipun sebagai “negara” sudah dinyatakan bubar, tapi sebagai gerakan ideologi NII tetap hidup. Nafas ideologinya bisa dirasakan dalam gerakan-gerakan keislaman yang…...
Read More