Pragmatisme yang Positif

Di era menjelang perhelatan politik, pemilu legislatif (Pileg) dan pemilu Presiden (Pilpres), pragmatisme menjadi fenomena yang sangat lekat dengan proses politik. Penentuan siapa yang diusung atau didukung menjadi pasangan capres-cawapres, pragmatisme menjadi pertimbangan utama –walau dalam kepentingan komunikasi politik kerap dibalut dengan idealisme. Pragmatisme yang dimaksud, yang paling utama menyangkut faktor keterpilihan (elektabilitas) capres-cawapres. Pragmatisme politik semacam ini kerap menuai kritik karena elektabilitas sejatinya tidak identik dengan kualitas. Tapi perlu juga digarisbawahi bahwa antara elektabilitas dan kualitas bukan dua hal…...
Read More
,

Bahaya Politisasi Agama

Bagaimana hubungan agama dan politik adalah perdebatan klasik yang tak kunjung usai, entah sampai kapan. Ada yang mengatakan perdebatan ini akan berhenti dengan sendirinya manakala masyarakat sudah beranjak dewasa dan bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Ternyata, di negara-negara maju sekalipun, kerumitan hubungan antara agama dan politik tetap terjadi. Di Indonesia, kita menemukan banyak fakta bahwa dosis agama akan menguat pada setiap saat menghadapi kontestasi untuk merebut jabatan-jabatan politik. Penggunaan dosis agama dalam berpolitik inilah yang sering kita sebut dengan poilitisasi…...
Read More

Menjaga Integritas Demokrasi dari Daerah

Pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak tahap ketiga berlangsung 27 Juni 2018 di 171 daerah, dengan rincian 17 provinsi, 115 kabupaten, dan 39 kota. Ini merupakan salah satu peristiwa penting, terutama dalam menjaga integritas demokrasi dari daerah. Dari sisi jumlah daerah, Pilkada kali ini masih kalah jumlah dibandingkan Pilkada tahap pertama tahun 2015 lalu yang berlangsung di 269 daerah. Tapi dari sisi keterlibatan pemilih, jauh lebih banyak, bahkan jika dibandingkan dengan gabungan dua tahap sebelumnya. Ada 152 juta lebih pemilih terdaftar…...
Read More

Menguatkan Komitmen Membela Bangsa

Penangkapan tiga terduga teroris di dalam kampus Universitas Raiu baru-baru ini mengkonfirmasi temuan sejumlah survei yang menunjukkan tumbuh dan berkembangnya radikalisme di lembaga-lembaga pendidikan. Meskipun rata-rata persentasenya masih kecil, jika tidak dilakukan upaya pencegahan yang serius, bukan tidak mungkin embrio yang kecil itu akan tumbuh menjadi kekuatan besar. Mengapa harus dicegah, karena radikalisme, terutama dalam memahami dan menafsirkan agama, dalam konteks Indonesia yang ultientik dan agama, berpotensi memecah belah dan bisa meruntuhkan pilar-pilar kebangsaan yang sudah dibangun para pejuang pendahulu…...
Read More

Menjaga Kepercayaan Masyarakat Terhadap Demokrasi

Democracy is the best form of government. Ini sudah menjadi keyakinan umum karena sejauh ini belum ada sistem lain yang dianggap lebih baik. Oleh karena itulah, menjaga kepercayaan masyarakat terhadap demokrasi menjadi narasi yang terus menerus digaungkan di ruang public. Mengapa demokrasi? Karena ada jaminan kebebasan semua warga negara tanpa kecuali. Demokrasi mewakili pandangan dan gagasan semua warga negara, baik mayoritas maupun minoritas. Demokrasi membantu kita untuk menyelesaikan konflik dan pertengkaran dengan cara yang adil dan elegan. Menghormati hak asasi…...
Read More

Implementasi Agama dan Politik, Belajarlah pada Hatta

Hubungan agama dan politik menjadi isu seksi yang tak pernah usang. Baik agama maupun politik tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Keduanya mengatur tata cara hidup manusia dari lahir, bangun tidur, hingga tidur lagi. Bagaimana kita memandang hubungan antara keduanya, ada baiknya belajar pada Sang Proklamator, Muhammad Hatta. Di tengah hiruk pikuk kontroversi tentang halal-haram mengenai penggunaan masjid sebagai tempat kegiatan politik. Kiranya penting untuk melihat kembali pandangan dan perilaku politik Hatta. Ada yang berpandangan bahwa berkegiatan politik di masjid…...
Read More

Membangun Kesadaran Kritis yang Konstruktif

Semakin dekat waktunya dengan pemilihan umum (Pemilu) akan semakin banyak bermunculan isu-isu politik di ranah publik, baik yang positif maupun negatif. Membangun kesadaran kritis yang konstruktif menjadi keniscayaan untuk membangun peradaban. Kalau kita cermati, isu yang muncul pada saat menjelang Pemilu 2014 lalu, direproduksi dengan sedikit modifikasi, dan disebarluaskan kembali dengan tujuan untuk mempengaruhi opini publik, yang paling menonjol misalnya soal antek asing (terutama China), kriminalisasi ulama, dan kebangkitan komunisme. Mengapa isu-isu bernuansa ideologis ini dimunculkan, diduga kuat karena adanya…...
Read More

Fenomena Berkembangnya Narasi Pesimistis

Apa makna tahun politik di Indonesia? Artinya, apa pun yang kita omongkan, kita lihat, dan kita dengarkan, yang ada di ruang publik kita, bisa dihubung-hubungkan dengan politik. Bahkan angka-angka yang bisu sekalipun, oleh yang memiliki kepentingan, bisa diolah menjadi “gutak-gatik-gatuk” yang ditafsirkan ke arah pergantian presiden. Di mata para oposan, semua hal, apalagi yang negatif, bisa dijadikan alat (istilahnya digoreng) untuk mendiskreditkan presiden. Yang positif diubah perspektifnya menjadi negatif. Atau yang optimistis diubah menjadi pesimistis. Fenomena berkembangnya narasi pesimistis sudah…...
Read More

Rayuan Politik Kembali Ke Masa Lalu

Realitas objektif kita, kapan pun dan di mana pun, tak bisa dipisahkan dari tiga dimensi waktu yang saling berkelindan, yakni masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Ada banyak pihak yang berupaya memuja, atau hanyut di dalam salah satu dari ketiga dimensi waktu tersebut. Masa lalu biasanya dipuja para sejarawan, masa kini dipuja para hedonis yang memburu kenikmatan sesaat, dan masa depan dikampanyekan para futurolog. Sikap yang baik adalah yang menempatkan ketiganya sesuai proporsinya. Yang perlu dicermati, pada…...
Read More

Politik Berpijak Akal Sehat

Dunia politik merupakan bidang aktualisasi pengabdian pada negara yang berdimensi banyak dan beragam. Multidimensi politik inilah yang membuat banyak orang sulit atau bahkan gagal memahami konstelasi politik, terutama di Indonesia yang berjalan fluktuatif, belum benar-benar mapan. Ketidakmapanan politik di Indonesia terutama disebabkan oleh masih banyaknya kalangan yang memasukkan unsur-unsur irrasionalitas dalam berpolitik, misalnya dengan melibatkan dukun atau pawang politik. Upaya memenangkan kompetisi di panggung politik dicapai dengan cara-cara yang sulit diterima akal sehat. Padahal, jika yang bersangkutan benar-benar memenangkan kompetisi,…...
Read More