,

Politik Menebar Ketakutan

Mencermati suasana politik nasional saat ini mengingatkan saya pada film “Our Brand is Crisis” (2015) yang menceritakan tentang pemilihan Presiden di Bolivia pada tahun 2002. Pesan utama film yang dibintangi Sandra Bullock ini bahwa, dengan politik menebar ketakutan (krisis), seorang kandidat presiden yang pada awalnya tidak populer bisa berhasil memenangkan Pilpres. Suasana krisis bisa diciptakan dengan menebarkan persepsi negatif tentang kondisi sosial dan ekonomi. Suasana krisis juga bisa diciptakan dengan memutar balikkan fakta. Suasana yang sejatinya diformat oleh sang kandidat…...
Read More
, ,

Dari Presiden Inter Milan menuju Presiden RI 2024-2029

Untuk berkonsentrasi memenangkan pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Erick Thohir mundur dari jabatan Presiden Inter Milan yang dijalaninya sejak November 2013. Pemilihan Presiden 2019 akan menjadi pertaruhan prestasi sekaligus penanda bari Erick menuju dunia baru, dunia politik kepemimpinan nasional. Kalau mencermati fakta-fakta dan indikator politik yang tersaji saat ini, rasanya Pilpres 2019 sudah “selesai”, karena sejatinya, Pilpres kali ini hanya babak lanjutan dari Pilpres 2014 lalu. Meskipun cawapresnya berbeda, siapa pun yang paham sistem politik di Indonesia, yang berkompetisi sesungguhnya capres,…...
Read More

Memupuk Kearifan dalam Berpolitik

Di tengah suhu politik yang kian menghangat, kearifan berpolitik menjadi keniscayaan agar suasana hati tetap adem walau cuacanya panas. Bahkan peristiwa pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia yang terjadi pada saat hari santri, 22 Oktober 2018, yang telah menjadi political heater, harus kita sikapi dengan kearifan tingkat tinggi. Politik bendera adalah fenomena yang tidak bisa dihindari, terlebih pada saat berada di medan kompetisi, apa pun bentuk kompetisi itu. Di arena kompetisi olah raga antar negara misalnya, bendera harus ada, untuk menjadi…...
Read More
,

Melawan Berita Bohong

Berita bohong harus kita lawan, karena dampaknya bagi kehidupan sosial dan politik sangat destruktif, bisa mengoyak keharmonisan bangsa dan menyuburkan tradisi yang buruk di tengah kehidupan masyarakat. Berita bohong menjadi menjadi topik yang terus-menerus diperbincangkan, terlebih setelah “tragedi” Ratna Sarumpaet. Peristiwa Ratna kita sebut tragedi karena melibatkan banyak kalangan. Hampir semua tokoh yang berada di barisan oposisi terlibat dalam tragedi ini. Tragedi nasional yang unik yang sejatinya tidak masuk akal. Betapa tidak, tokoh-tokoh sekaliber Prabowo Subiyanto, Amien Rais, dan lain-lain…...
Read More

Mewaspadai Kegaduhan Politik Sebelum Masa Kampanye

Kegaduhan politik menjadi fenomena yang selalu muncul pada setiap menjelang perhelatan politik. Apalagi, perhelatan politik 2019, akan mengulang sejarah 2014, yakni adanya polarisasi dua kekuatan, antara pendukung Joko Widodo dan Prabowo Subiyanto. Tanding ulang ini sejatinya membuktikan bahwa sejarah perpolitikan nasional kita belum beranjak jauh, terutama dari sisi kaderisasi kepemimpinan nasional. Di luar kompetisi head to head Jokowi-Prabowo, kegaduhan politik merupakan hal biasa dalam negara yang menganut sistem demokrasi multipartai karena antara partai satu dengan yang lainnya mempunyai kepentingan dan…...
Read More

Pelajaran dari Tiga Peristiwa Politik

Stuntman atau pemeran pengganti dalam pembukaan Asian Games, ibadah haji yang diwarnai gerakan politik #2019GantiPresiden, dan (tragedi) penolakan kehadiran Neno Warisman di beberapa tempat, adalah tiga peristiwa politik yang belakangan ini menjadi trending topic di berbagai media. Ketiganya patut kita cermati dan ambil pelajaran. Aksi Presiden Joko Widodo dalam scene film pendek dengan mengendarai motor yang atraktif untuk mengawali pembukaan Asian Games mengundang decak kagum bukan hanya dari para pendukungnya, tapi juga dari masyarakat yang “netral” termasuk dari para tamu…...
Read More

Menjaga Demokrasi yang Beradab

Pemilu untuk memilih anggota legislatif (Pileg), dan Pemilu untuk memilih presiden dan wakil presiden (Pilpres) yang mulai 2019 akan dilakukan secara bersamaan merupakan salah satu cara untuk mengimplementasikan sistem demokrasi yang kita akui sebagai mekanisme politik paling beradab di muka bumi. Meskipun tidak sedikit kritik bahkan kecaman terhadap demokrasi, toh para pengritik itu belum mampu menghadirkan mekanisme politik (alternatif) baru yang benar-benar kompatibel untuk perkembangan dunia modern. Alih-alih menjadi penantang tangguh demokrasi yang berkembang pesat di Barat, komunisme Uni Soviet…...
Read More

Pragmatisme yang Positif

Di era menjelang perhelatan politik, pemilu legislatif (Pileg) dan pemilu Presiden (Pilpres), pragmatisme menjadi fenomena yang sangat lekat dengan proses politik. Penentuan siapa yang diusung atau didukung menjadi pasangan capres-cawapres, pragmatisme menjadi pertimbangan utama –walau dalam kepentingan komunikasi politik kerap dibalut dengan idealisme. Pragmatisme yang dimaksud, yang paling utama menyangkut faktor keterpilihan (elektabilitas) capres-cawapres. Pragmatisme politik semacam ini kerap menuai kritik karena elektabilitas sejatinya tidak identik dengan kualitas. Tapi perlu juga digarisbawahi bahwa antara elektabilitas dan kualitas bukan dua hal…...
Read More
,

Bahaya Politisasi Agama

Bagaimana hubungan agama dan politik adalah perdebatan klasik yang tak kunjung usai, entah sampai kapan. Ada yang mengatakan perdebatan ini akan berhenti dengan sendirinya manakala masyarakat sudah beranjak dewasa dan bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Ternyata, di negara-negara maju sekalipun, kerumitan hubungan antara agama dan politik tetap terjadi. Di Indonesia, kita menemukan banyak fakta bahwa dosis agama akan menguat pada setiap saat menghadapi kontestasi untuk merebut jabatan-jabatan politik. Penggunaan dosis agama dalam berpolitik inilah yang sering kita sebut dengan poilitisasi…...
Read More

Menjaga Integritas Demokrasi dari Daerah

Pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak tahap ketiga berlangsung 27 Juni 2018 di 171 daerah, dengan rincian 17 provinsi, 115 kabupaten, dan 39 kota. Ini merupakan salah satu peristiwa penting, terutama dalam menjaga integritas demokrasi dari daerah. Dari sisi jumlah daerah, Pilkada kali ini masih kalah jumlah dibandingkan Pilkada tahap pertama tahun 2015 lalu yang berlangsung di 269 daerah. Tapi dari sisi keterlibatan pemilih, jauh lebih banyak, bahkan jika dibandingkan dengan gabungan dua tahap sebelumnya. Ada 152 juta lebih pemilih terdaftar…...
Read More