Setelah Partai Nasdem secara resmi berdiri 26 Juli 2011 lalu di Jakarta, masih ada pertanyaan krusial yang harus dijawab: Bagaimana hubungan antara Ormas dan Partai Nasdem mengingat tidak semua anggota Ormas otomatis menjadi anggota Partai dan begitu pun sebaliknya?

Banyak orang menduga antara keduanya identik. Kita bisa memahami dugaan ini karena yang mendeklarasikan Partai Nasdem pada umumnya merupakan aktivis Ormas Nasdem. Apalagi, sejauh ini, lambang antara keduanya pun mirip sekali. Lambang Partai hanya membalik lambang Ormas. Ormas dan Partai Nasdem tidak identik karena dari awal Ormas Nasdem tidak diorientasikan menjadi partai. Kalau niatnya mau dijadikan partai tentu sangat tidak logis dan tidak etis mengajak tokoh-tokoh seperti Ahmad Syafii Maarif, Anies Baswedan, Rizal Sukma dan tokoh-tokoh independen yang lain untuk menjadi deklarator. Mereka juga bersedia karena tahu Ormas Nasdem tidak untuk diarahkan menjadi partai. Itu yang pertama. Kedua, banyak juga tokoh-tokoh partai politik yang sudah mapan yang ikut mendeklarasikan dan menjadi pengurus Ormas Nasdem. Mereka mau bergabung karena dari awal, seperti tokoh-tokoh independen itu, tahu betul bahwa Ormas Nasdem tidak diorientasikan menjadi partai politik. Lantas mengapa Ormas membolehkan Partai Nasdem berdiri? Karena sebagai institusi yang menjunjung tinggi demokrasi, Ormas tidak mungkin akan meredam aspirasi para anggotanya, terutama dari kalangan anak-anak muda yang menginginkan berdirinya partai politik. Apalagi partai itu berada dalam koridor visi dan misi yang sama dengan Ormas Nasdem. Perihal pilihan nama yang sama antara Partai dan Ormas saya kira tak ada masalah karena dalam AD/ART Ormas sendiri tak ada ketentuan yang menyebut Nasdem sebagai nama yang eksklusif dan tidak boleh dipakai pihak lain. Malah sekarang ini, secara hukum sebenarnya Ormas sudah tidak boleh lagi memakai nama Nasdem. Penyebutan nama Ormas yang benar harus “Nasional Demokrat”, bukan Nasdem. Karena “Nasdem” sudah “dihakciptakan” oleh Partai. Hal ini penting dikemukakan selain untuk menepis kesalahpahaman publik dalam melihat dan mempersepsi hubungan antara Ormas dan Partai Nasdem, sekaligus juga untuk sedikit mengoreksi pendapat salah satu motor deklarator Partai Nasdem, Sugeng Suprawoto yang menganggap hubungan antara keduanya diumpamakan seperti hubungan antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), atau antara Muhammadiyah dan Partai Amanat Nasional (PAN). Perumpamaan ini tidak tepat karena PKB benar-benar lahir dari rahim NU, sedangkan PAN meskipun tidak lahir dari rahim Muhammadiyah tapi tetap ada peran besar Muhammadiyah dalam melahirkan dan memfasilitasi berdirinya PAN. Secara historis, PAN lebih tepat dikatakan lahir dari Majelis Amanat Rakyat (MARA). Antara Ormas dan Partai Nasdem punya hubungan yang khas. Dilihat dari proses kelahirannya, keduanya sama-sama didorong karena tuntutan situasi politik yang sama, yakni karena desakan untuk melakukan gerakan restorasi Indonesia. Oleh karena itu wajar belaka jika platform dan visi-misi antara keduanya pun relatif sama. Perbedaan signifikan antara keduanya terdapat pada status keanggotaan para aktivis dan jalur strategi yang ditempuhnya. Dari segi keanggotaan sebagian besar memiliki status keanggotaan ganda, Ormas sekaligus Partai, namun tak sedikit pula yang tidak memiliki keanggotaan ganda, karena memang tidak semua anggota/aktivis Ormas otomatis menjadi anggota/aktivis Partai. Dari segi strategi, Ormas berada di jalur non-politik, sedangkan Partai jelas dan tegas berada di jalur politik. Ormas berjalan dalam koridor hukum sebagaimana yang diatur dalam Undang Undang Keormasan, sedangkan Partai harus berada dalam koridor hukum sebagaimana yang diatur dalam paket Undang Undang Politik dengan segala dinamikanya. Tapi perlu digarisbawahi, karena memiliki platform serta visi dan misi yang relatif sama, antara keduanya menjalin kerjasama yang erat dan bisa saling memanfaatkan (simbiosis mutualitis). Partai Nasdem bisa memanfaatkan sumberdaya Ormas untuk kepentingan konsolidasi, dan sebagai gerakan moral dan kebudayaan, Ormas bisa memanfaatkan Partai Nasdem sebagai “kaki” agar gerakan “Restorasi Indonesia” benar-benar berjalan di atas bumi, tidak hanya mengawang-awang.

Leave A Comment