Perampokan anjungan tunai mandiri (ATM) di Kampus Universitas Bung Hatta (UBH), Padang, Sabtu (25/9) lalu yang berhasil menggasak uang ratusan juta rupiah diduga dilakukan kelompok teroris yang juga beraksi di Medan.

Seperti diketahui, tiga hari sebelum perampokan ATM UBH,
 Rabu (22/9) terjadi penyerangan terhadap Markas Kepolisian Sektor Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara yang menewaskan tiga anggota kepolisian. Penyerangan ini diduga sebagai bentuk balasan atas tindakan penyergapan aparat kepolisian tiga hari sebelumnya di tiga tempat yang menewaskan tiga tersangka teroris dan menangkap 20 orang. 13 orang yang lolos dari penyergapan diduga melakukan pembalasan.

Jika dugaan-dugaan itu benar, ancaman terorisme semakin nyata dan menakutkan. Sasarannya bukan lagi kepentingan-kepentingan Amerika dan sekutunya seperti kantor kedutaan negara-negara pro Amerika, serta simbol-simbol kepitalisme seperti hotel, mall, kafe, dan tempat-tempat hiburan malam kelas menengah atas, tapi lebih tertuju ke aparat kepolisian terutama Densus 88.

Sejalan dengan semakin sulitnya mencari bantuan dana baik dari jaringan internasional maupun dari dalam negeri, perampokan bank menjadi prioritas dalam mencari dana.

Cara ini dianggap lebih efisien. Di samping untuk mendapatkan dana segar dengan jumlah banyak, perempokan bank juga dianggap sebagai bentuk perang terhadap sistem keuangan yang bertentangan dengan syariat Islam. Ibaratnya, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Dengan merampok bank, sasaran untuk menciptakan keresahan dan membuat repot aparat keamanan juga tercapai.

Mengapa ancaman terorisme kian nyata di negeri ini? Penyebab utamanya karena negara gagal menciptakan rasa aman. Negara gagal dalam upaya mempersempit ruang gerak terorisme, meskipun upaya ini telah menghabiskan dana, tenaga, bahkan nyawa yang tak sedikit. Dalam sepuluh tahun terakhir (2000-2010), aksi terorisme dan upaya-upaya pemberantasannya, telah menewaskan ratusan orang dari warga masyarakat sipil, pelaku teror, dan juga aparat kepolisian.

Dalam merespon setiap aksi terorisme, pemerintah selalu menegaskan, negara tidak boleh kalah. Jika upaya menumpas, atau bahkan sekadar mempersempit ruang gerak terorisme gagal dilakukan, bukan tidak mungkin negara akan benar-benar kalah oleh teroris. Untuk mencegahnya, diperlukan langkah-langkah strategis. Yang paling utama adalah dengan menciptakan kesejahteraan masyarakat.

Semakin miskin dan semakin sulit kehidupan masyarakat, akan semakin kondusif bagi para teroris melebarkan sayap. Mereka kian mudah menyampaikan propaganda bahwa sistem kafir yang dianut pemerintah RI terbukti gagal menciptakan kesejahteraan. Jalan keluar yang mereka tawarkan adalah lahirnya negara yang berideologi Islam.

Doktrin ini, selain efektif menanamkan permusuhan terhadap pemerintah, juga sangat efektif untuk menanamkan keyakinan bahwa tindakan teror yang mereka lakukan benar-benar untuk memperjuangkan tegaknya negara Islam. Dalam melakukan tindakan teror (seperti merampok bank dan menyerang aparat keamanan) akan tumbuh di benak para teroris rasa percaya diri yang tinggi, karena jika mereka tertangkap dianggap sebagai risiko memperjuangkan ideologi yang mulia, jika tewas dianggap sebagai mati syahid.

Oleh karena itu, selain menciptakan kesejahteraan masyarakat, upaya yang juga mendesak untuk mencegah ancaman terorisme adalah memberikan pemahaman agama yang baik, yang menumbuhkan perdamaian dan rasa nyaman di tengah-tengah masyarakat yang plural. Tokoh-tokoh agama yang cenderung provokatif,baik dalam ceramah maupun dalam beribadah, diajak dialog, diberi pengertian, melalui diskusi-diskusi yang rasional dan konstruktif.

Penyebaran agama yang rasional dan konstruktif itu perlu juga dikembangkan melalui karya-karya kreatif seperti film, pentas musik, dan bentuk-bentuk ekspresi budaya yang lain, agar agama betul-betul hadir di lubuk hati melalui rasa, karsa, dan rasio yang menjunjung tinggi martabat kemanusiaan. Terorisme merupakan bentuk tindakan anti kemanusiaan, selain karena faktor politik, juga akibat pemahaman agama yang tidak konstruktif.

 

Leave A Comment