Apa makna tahun politik di Indonesia? Artinya, apa pun yang kita omongkan, kita lihat, dan kita dengarkan, yang ada di ruang publik kita, bisa dihubung-hubungkan dengan politik. Bahkan angka-angka yang bisu sekalipun, oleh yang memiliki kepentingan, bisa diolah menjadi “gutak-gatik-gatuk” yang ditafsirkan ke arah pergantian presiden.

Di mata para oposan, semua hal, apalagi yang negatif, bisa dijadikan alat (istilahnya digoreng) untuk mendiskreditkan presiden. Yang positif diubah perspektifnya menjadi negatif. Atau yang optimistis diubah menjadi pesimistis.

Fenomena berkembangnya narasi pesimistis sudah memenuhi ruang publik kita. Inilah produk paling nyata pada saat apa pun dilihat secara negatif.

Kondisi seperti ini diperparah dengan munculnya media-media online baru yang “kejar tayang” untuk meningkatkan “kunjungan” para netizen. Semakin negatif isinya, akan semakin mendorong netizen untuk membacanya. Bahkan berita positif pun diframing/dispin dari sisi yang negatif. Semakin banyak kunjungan, semakin menguntungkan pemilik medianya. Bahwa berita negatif akan berdampak kurang baik bagi masyarakat, tidak menjadi pertimbangan bagi mereka.

Banyak yang berpendidikan tinggi, dan tidak sedikit juga para agamawan yang rajin membaca kitab suci, ikut menyebarluaskan berita-berita yang negatif. Inilah yang sangat memprihatinkan kita. Para cerdik pandai pun ikut serta dalam gelombang narasi pesimistis.

Keruh dan Kotor

Kehidupan politik seperti ini menjadi ibarat kubangan air yang bercampur lumpur. Keruh dan kotor. Bahkan kalau ada emas atau intan berlian pun di bawah kubangan itu, tidak akan bisa dilihat, kecuali oleh orang-orang yang memiliki mata batin yang jernih dan kuat.

Ada dua macam orang yang paling beruntung pada suasana seperti ini, pertama, mereka yang hobi memancing di air keruh. Semakin banyak air keruhnya, semakin kegirangan karena kesempatan untuk memancing semakin terbuka.

Kita tahu, memancing di air keruh adalah peribahasa yang menunjukkan kegiatan mengambil keuntungan di tengah-tengah kekacauan, atau mengambil manfaat dari kerugian yang diderita banyak orang. Orang yang melakukan tindakan ini –meminjam bahasa Cinta pada Rangga dalam “Ada Apa dengan Cinta 2”— jahat! Tapi, bagi pemancing di air keruh, kejahatannya itulah kesenangannya.

Kedua, para politisi bermental ikan lele. Istilah ini pernah dilontarkan Buya Syafii Maarif pada saat menjadi pembicara dalam Simposium Nasional “Restorasi Indonesia” di Jakarta pada 1 Juni 2010 silam. Menurut Buya, ikan lele itu, makin keruh airnya, makin senang karena makin banyak makanan. Jadi bagi politisi bermental ikan lele, lanskap politik yang kotor dan keruh bisa dijadikan sarana untuk mengambil keuntungan.

Berkembangnya wacana yang tidak konstruktif akan memunculkan kegaduhan. Semua kalangan memberikan komentar. Nah di tengah kegaduhan itulah, politisi bermental ikan lele akan mendapatkan peluang untuk melakukan tindakan-tindakan yang menguntungkan dirinya, dan luput dari perhatian publik yang tengah sibuk mencermati kegaduhan.

Dibutuhkan Kejernihan

Pada suasana seperti ini, yang kita butuhkan adalah kejernihan berpikir dan bertindak. Menurut saya tidak perlu juga Presiden Jokowi terpancing untuk menanggapi setiap komentar yang buruk tentang dirinya. Kritik-kritik yang tidak bernalar, apalagi hoaks dan fitnah, anggap saja seperti radio rusak yang hanya bisa mengganggu telinga orang yang mendengarnya, tapi tidak ada pengaruhnya sama sekali.

Jokowi lebih baik fokus bekerja mengejar ketertinggalan Indonesia dibanding negara-negara lain. Hal-hal yang baik terus ditingkatkan, dan hal-hal yang masih kurang sempurna disempurnakan. Dengan fokus membangun Indonesia seperti itu, pasti akan membuat para oposan kéder. Kritik dan kecamannya tidak akan ada yang memperhatikan kecuali yang berasal dari kelompok mereka sendiri.

Kejernihan berpikir dan bertindak menjadi kata kunci, kalau kita tidak bisa, bersabarlah, tunggu sampai kekeruhan itu hilang dan suasana menjadi jernih kembali. Ungkapan, “katakanlah yang baik-baik atau lebih baik diam” layak kita jadikan pedoman. Toh rakyat sudah pintar, sudah bisa membedakan mana suara yang keluar dari gending emas dan mana yang keluar dari kaleng rombeng.

Akan lebih baik memang jika semua orang berprinsip, “lebih baik menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan”. Tapi kita juga harus realistis, tidak mungkin hal itu terjadi. Setiap orang yang menginginkan (calon) presiden selain Jokowi, tampaknya akan semakin gundah gulana pada saat semakin banyak orang berbicara yang baik-baik saja di negeri ini. Memprihatinkan memang, tapi itulah fakta yang banyak kita temukan saat ini.

 Artikel ini dimuat di Geotimes.co.id

Leave A Comment