Realitas objektif kita, kapan pun dan di mana pun, tak bisa dipisahkan dari tiga dimensi waktu yang saling berkelindan, yakni masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Ada banyak pihak yang berupaya memuja, atau hanyut di dalam salah satu dari ketiga dimensi waktu tersebut.

Masa lalu biasanya dipuja para sejarawan, masa kini dipuja para hedonis yang memburu kenikmatan sesaat, dan masa depan dikampanyekan para futurolog. Sikap yang baik adalah yang menempatkan ketiganya sesuai proporsinya.

Yang perlu dicermati, pada setiap menjelang Pemilu, selalu muncul kelompok yang mencoba melalukan glorifikasi masa lalu. Mereka tampil seolah-olah sejarawan padahal bukan. Mereka tak lebih dari barisan politisi yang berupaya meraih kekuasaan dengan memanfaatkan kejayaan para pendahulunya.

Kesalahan-kasalahan seperti ketimpangan sosial, kemiskinan, pengangguran, dan hal-hal yang kurang elok saat ini mereka munculkan ke permukaan, lalu dengan bahasa yang provokatif, dibandingkannya dengan kebaikan-kebaikan masa lalu.

Kita tidak menolak kritik terhadap apa yang terjadi saat ini, juga tidak melupakan kebaikan-kebaikan masa lalu. Yang perlu kita luruskan adalah membandingkan masa lalu dengan masa kini dengan cara-cara yang tidak proporsional.

Bahwa pemerintahan saat ini masih memiliki banyak kekurangan adalah fakta yang sulit dibantah, tapi apakah dengan demikian lantas bisa disimpulkan masa lalu lebih baik dari saat ini. Saya kira tidak. Setiap pemerintahan memiliki kelebihan dan kekurangan. Cara membandingan kekurangan dengan kelebihan itulah langkah politik yang tidak proporsional.

Masa lalu adalah bagian dari sejarah. Kelebihan dan kekuarangannya harus kita lihat secara objektif. Kelebihannya bisa dijadikan contoh, dan kekurangannya bisa dijadikan pelajaran agar kita tidak terjerumus pada kesalahan yang sama.

Untuk sejarah kelam masa lalu, ada baiknya kita memaafkan, bukan untuk melupakan. Memaafkan masa lalu bagian dari kearifan politik generasi zaman now agar tidak ada lagi dendam sehingga terjalin rekonsiliasi nasional. Sikap seperti ini perlu dikembangkan karena dendam politik tidak akan membawa manfaat bagi siapa pun, juga bagi bangsa ini.

Tapi jangan pula kita melupakan dosa masa lalu. Pada saat kita melupakannya, akan terbuka celah untuk tergoda, terbuai dengan janji-janji manis partai-partai yang mencoba menghidupkan kembali semangat Orde Baru. Untuk meraih masa depan yang lebih baik, seyogianya kita mewaspadai manisnya rayuan kembali ke masa lalu.

Untuk menumbuhkan kewaspadaan, ada baiknya kita mencermati ciri-ciri gerakan politik yang mencoba mengembalikan dinasti politik masa lalu. Pertama, seperti disinggung di atas, dengan cara memuji-muji kejayaan masa lalu dan membandingkannya dengan keburukan-keburukan masa kini.

Dengan berbagai cara, masa lalu diglorifikasi, terutama dengan menyasar mereka yang tengah dalam kesulitan. Mereka datang bagaikan malaikat penolong, memberi janji-janji, juga “amunisi” yang menggiurkan.

Kedua, seraya menglorifikasi masa lalu, pemerintahan saat ini terus menerus ditampilkan dengan wajah yang buruk. Mempertahankan pemerintahan yang ada saat ini diibaratkan seperti memutar roda menuju bencana. Semua program pemerintah direduksi dalam framing berita sesuai keinginan mereka.

Ketiga, dengan memanfaatkan barisan “sakit hati”. Para “mantan” pendukung pemerintah yang balik badan karena kecewa, lantaran, misalnya dicopot dari jabatannya, atau karena belum mendapatkan imbalan apa-apa dari dukungannya terhadap pemerintah, didorong untuk membuat semacam testimoni sehingga keburukan itu seolah tampak nyata, tanpa rekayasa.

Keempat, dengan mendelegitimasi semua produk politik pasca reformasi seperti lepasnya Timor Timur, amandemen UUD 1945, serta pemberian hak pada rakyat untuk memilih pemimpin secara langsung (presiden, gubernur, bupati/wali kota) yang dianggapnya sebagai bentuk penyelewengan dari pembukaan UUD 1945 dan sila keempat Pancasila.

Kelima, setiap ada berita yang miring tentang pemerintah, mereka dengan antusias memviralkannya ke semua platform media sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter, dan grup-grup WhatsApp. Dalam konteks ini, karena sama-sama menginginkan presiden baru, kita sulit membedakan antara haters dan pemuja masa lalu. Mereka berbeda tapi memiliki kepentingan politik yang sama.

Dengan mencermati kelima ciri kelompok yang berupaya mengembalikan kejayaan masa lalu ini, selain untuk meningkatkan kewaspadaan, juga bisa menjadi pedoman, terutama bagi generasi baru yang lahir pasca reformasi, yang tidak ikut merasakan keburukan rezim masa lalu.

Segenap rakyat perlu disadarkan akan massifnya rayuan politik kembali ke masa lalu. Sekali kita lalai, terpikat dengan rayuannya, maka pada saat itulah kita telah memberikan peluang bagi kebangkitan Orde Baru.

Generasi muda yang memiliki kesadaran politik akan kemungkinan bangkitnya Orde Baru harus memperkuat barisan, bergerak bersama, bahu membahu, untuk menumbuhkan kesadaran yang sama, terutama pada pihak-pihak yang rawan menjadi korban rayuan.

Leave A Comment