Dalam setiap lomba lari atau renang, biasanya ada atlet yang fokus melihat ke depan dan ada yang sibuk mengamati pergerakan lawan. Dari dua jenis atlet ini, siapa yang menang? Jawabannya pasti yang fokus melihat ke depan.  Karena ia konsentrasi penuh menuju titik finis, tanpa terganggu dengan pikiran-pikiran yang lain.

Mengapa Presiden Joko Widodo –yang diperkirakan sebagian lawan politiknya akan jatuh di tengah jalan– masih bisa bertahan hingga saat ini, bahkan dengan tingkat kepuasan yang terus menanjak? Jawabannya, karena Jokowi fokus bekerja dan bekerja. Presiden RI ke-7 ini bukan tidak peduli dengan kritikan publik, tapi ia lebih memilih untuk menjawab kritik dengan aksi, bukan dengan cara membela diri.

Membela diri adalah menjawab kritik dengan kata-kata (retorika), yang mungkin saja bisa menjawab kritik yang disampaikan. Dengan argumentasi yang canggih si pengritik bisa saja dikalahkan, atau lebih tepatnya  dibungkam dengan jawaban-jawaban retoris. Tapi apakah cara ini bisa memuaskan? Pasti tidak. Publik hanya bisa dipuaskan dengan kerja nyata.

Kerja nyata adalah jawaban dari semua keraguan. Meskipun kerja nyata belum tentu bisa menjawab semua pertanyaan. Setidaknya, dengan kerja nyata, seorang pemimpin terbukti tidak sekadar obral janji. Bahwa belum semua janji terpenuhi, kerja nyata akan menumbuhkan optimisme bahwa terpenuhinya seluruh janji hanyalah soal waktu dan kesempatan. Karena tidak semua hal bisa dikerjakan pada saat yang bersamaan.

Selain tidak bisa menjawab semua pertanyaan, kerja nyata juga tidak mungkin bisa memuaskan semua orang. Bekerja adalah satu hal. Kepuasan atas hasil kerja adalah hal yang lain. Dengan cara apa pun, seorang pemimpin, tidak mungkin akan bisa memuaskan semua orang. Itu tidak ada masalah karena tugas pemimpin sejatinya bukan untuk memuaskan rakyatnya.

Tugas pemimpin yang terpenting adalah bagaimana membuat segenap rakyatnya selalu optimistis dalam menghadapi masa depan. Optimisme adalah modal yang baik bagi siapa pun untuk sukses dan maju. Optimisme adalah energi yang konstruktif bagi siapa pun untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Lantas, adakah cara yang tepat untuk menumbuhkan optimisme? Selain dengan kerja nyata, adalah dengan melihat segala sesuatu dengan positif (berpikir positif/positive thinking atau berprasangka baik/husnudzan). Ketika dikritik, atau bahkan dikecam, ia tanggapi dengan positif. Mungkin terdengar naif, tapi percayalah, bersikap positif pada setiap kritik dan kecaman akan menumbuhkan suasana kehidupan yang lebih baik. Karena ada harmoni yang terbangun pada saat aura negatif dipertemukan dengan aura yang positif.

Mengapa selalu ada yang bersikap negatif pada seorang pemimpin? Ada hater yang terus-menerus menghembuskan kabar buruk, atau bahkan kabar bohong (hoaks) tentang pemimpin? Karena memang tidak akan ada seorang pun pemimpin yang disukai semua orang. Karena memang begitulah takdir alam raya, yang senantiasa diisi oleh dua kutub yang saling bertentangan. Kebaikan dan keburukan selalu hadir secara bersamaan.

Apakah kita juga harus berpandangan positif terhadap keburukan? Untuk pertanyaan ini, jawabannya bisa ya bisa tidak. Ya, untuk keburukan yang relatif, dan tidak untuk keburukan yang mutlak. Keburukan yang relatif adalah yang muncul karena perbedaan perspektif. Contoh, kritik pada seorang pemimpin sudah pasti buruk bagi seorang pengikut setia (die hard lover), tapi baik pagi pengikut yang objektif.

Sedangkan keburukan yang mutlak adalah sesuatu yang sudah pasti buruk, contohnya kejahatan, yakni tindakan yang bertentangan dengan norma dan hukum positif seperti mencuri, melukai orang lain, membunuh, dan sebagainya. Untuk keburukan seperti ini, kita tidak boleh berpandangan positif.

Dalam negara demokrasi yang menjunjung tinggi norma-norma hukum, sangat mudah membedakan mana keburukan yang relatif, dan mana yang mutlak. Caranya dengan bersikap objektif dan adil. Objektif artinya terbebas dari kepentingan, dan adil artinya bersikap proporsional dan menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Oleh karena itu, cara lain untuk menumbuhkan optimisme adalah dengan bersikap objektif dan adil. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Pada saat kita memandang kebaikan dan keburukan seseorang berdasarkan kepentingan yang kita miliki, itu artinya kita bersikap tidak objektif. Dan, pada saat kita melihat seseorang dengan cara membandingkannya dengan orang yang kita dukung/cintai, itu artinya kita bersikap tidak adil.

Bagi seorang pemimpin, kerja nyata, berpikir positif, dan bersikap objektif dan adil adalah kombinasi yang mampu menumbuhkan optimisme di hadapan rakyatnya. Dan, pada saat optimisme sudah tumbuh, tugas pemimpin adalah menjaganya agar tetap tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat.

 

Artikel ini juga dimuat di Geotimes.co.id

Leave A Comment