Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta masih kurang lebih dua tahun lagi, namun sejumlah nama yang akan maju menantang Basuki Tjahaja Purnama sudah bermunculan. Walikota Bandung Ridwan Kamil, mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Adyaksa Dault, dan pengusaha nasional Sandiaga Salahuddin Uno, adalah tiga di antara nama-nama yang sudah banyak disebut akan maju dalam Pilkada DKI.

Sebelum benar-benar menjadi calon gubernur, tentu saja semua bakal calon itu harus memenuhi syarat, termasuk Basuki sebagai inkamben. Syarat utama adalah dukungan dari partai politik atau gabungan partai politik, atau bisa juga dengan dukungan warga DKI Jakarta melalui jalur perorangan. Melalui opsi kedua (jalur perorangan), misalnya, relawan yang tergabung dalam “Teman Ahok” tengah berjibaku mengumpulkan satu juta tandatangan dukungan dan (foto kopi) Kartu Tanda Penduduk (KTP) untuk pencalonan Basuki.

Siapa di antara mereka yang paling berpeluang menjadi Gubernur DKI Jakarta 2017-2022, Basuki atau para penantangnya? Masih terlalu dini untuk bisa menjawab pertanyaan ini. Selain belum ada hasil survai yang sudah mendeteksi popularitas dan elektabilitas mereka, pola dukungan terhadap bakal calon gubernur juga masih sangat cair.

Untuk saat ini, sebagai inkumben, mungkin Basuki yang paling popular. Tapi bukan tidak mungkin juga jika pada saat-saat menjelang Pilkada nanti, popularitas Basuki akan disalip oleh para penantangnya. Dalam politik, popularitas politisi sangat fluktuatif.

Kita masih ingat, pada saat Pilkada DKI Jakarta 2012 lalu, bahkan sampai menjelang hari “H” popularitas Fauzi Bowo (Foke) sebagai inkumben masih di atas angin. Tapi siapa sangka, sang penantang, Joko Widodo, yang memenangkan pemilihan pemimpin ibu kota (tahap kedua).

Tentu saja, meskipun sama-sama inkumben, antara Foke dan Basuki tak bisa disamakan. Keduanya sangat jauh berbeda secara penampilan dan kinerja. Selain itu, lawan-lawan Foke juga tak bias dibandingkankan dengan para penantang Basuki saat ini. Lawan Foke saat itu, Jokowi dan Basuki, dua tokoh fenomenal pada masanya.

Sementara para penantang Basuki saat ini, seperti disinggung di atas, adalah tokoh-tokoh yang sudah kita kenal bagaimana rekam jejaknya. Dari ketiganya, yang paling menarik tentu Ridwan Kamil yang populer dipanggil Kang Emil, sebagai Walikota Bandung dia cukup populer dan dianggap berprestasi. Media-media sering mensejajarkan Kang Emil dengan Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah, atau Jokowi pada saat menjadi Walikota Solo.

Sebelum menjadi Walikota, Kang Emil merupakan arsitek yang banyak menginspirasi dengan meraih sejumlah penghargaan bergengsi, terutama berkaitan dengan konsep-konsep baru tata ruang perkotaan yang sesuai kebutuhan zaman dan lebih ramah lingkungan. Kelemahan Kang Emil, pada tahun ini Bandung masih menduduki posisi sebagai salah satu kota terkotor meskipun bukan dengan nilai terbawah seperti tahun-tahun sebelumnya pada saat masih dipimpin Dada Rosada.

Selain Kang Emil, Sandiaga Salahuddin Uno atau lebih populer disebut Sandi Uno, juga profil yang menarik karena latar belakangnya sebagai interpreneur. Kelebihan interpreneur, biasanya memiliki kreativitas di atas rata-rata, bisa berpikir dan bergerak di luar kebiasaan (out of the box). Jokowi dan Jusuf Kalla adalah di antara contoh pejabat publik yang berlatar belakang interpreneur. Pernah jatuh bangun di dunia usaha serta berpengalaman memimpin Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) bisa menjadi modal sosial yang baik bagi Sandi Uno. Kelemahan Sandi Uno, belum memiliki pengalaman memimpin birokrasi pemerintahan.

Penantang lain, Adyaksa Dault, salah satu tokoh pemuda yang punya pengalaman relatif lengkap, pernah memimpin Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Menteri Pemuda dan Olahraga (2004-2009), dan sekarang memimpin Kwartin Nasional Pramuka. Kemunculannya sebagai bakal calon gubernur didukung oleh sejumlah komponen masyarakat yang selama ini menolak kepemimpinan Basuki.

Ketiga (calon) penantang Basuki merupakan tokoh-tokoh muda yang mumpuni. Yang perlu disadari, menantang bukan berarti harus menang. Soal kalah menang biarlah rakyat (warga DKI Jakarta) yang akan menentukan. Maju dalam Pilkada, yang paling penting adalah untuk pendidikan politik. Dalam proses Pilkada, para kandidat akan merasakan secara langsung praktik politik yang sesungguhnya. Jika pengalaman adalah guru terbaik, maka berpolitik secara langsung merupakan guru terbaik bagi para kandidat dan pendukung-pendukungnya.

Dalam kompetisi politik yang sehat, kesediaan menerima kekalahan merupakan pendidikan politik yang berharga bagi rakyat (para pemilih) dan bagi generasi mendatang, bahwa berpolitik bukan untuk menang-menangan. Politik menang-menangan pasti akan menghalalkan segala cara. “Boleh curang yang penting menang” akan menjadi moto praktik politik menang-menangan.

Kesadaran akan pentingnya mengedepankan pendidikan politik inilah yang pertama-tama harus menjadi pegangan para penantang berikut inkumben dalam setiap proses pemilihan kepala daerah, termasuk Basuki dan para penantangnya.

Leave A Comment