Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan oleh karena itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Demikian sepenggal kalimat dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 yang menjadi salah satu pilar negara kita. Bangsa pada hakikatnya merupakan komponen sosiologis dari sebuah negara. Tidak ada negara tanpa bangsa.

Bangsa –dalam suatu negara biasanya disebut dengan suku bangsa—merupakan entitas yang terdiri dari sekelompok rakyat atau warga negara yang biasanya memiliki kesamaan entis/suku, bahasa, dan berasal dari nenek moyang yang sama. Sebagai negara, Indonesia terdiri dari beragam suku bangsa yang oleh konstitusi dijamin keberadaannya, dan antara suku bangsa yang satu dengan yang lainnya memiliki hak dan kewajibanyang sama. Karena begitu pentingnya posisi suku bangsa dalam suatu negara maka kemerdekaan suku bangsa pun menjadi syarat mutlak bagi kemerdekaan sebuah negara.

Karena begitu pentingnya kemerdekaan, wajarlah jika kita merayakannya dengan suka cita. Maka lihatlah, setiap datang bulan Agustus sebagai bulan kemerdekaan, bendera merah-putih dikibarkan di seantero pelosok negeri, ada warna-warni umbul-umbul di jalan-jalan, dan ada hiasan beragam gapura di setiap ujung gang. Dari anak-anak balita hingga yang renta semua terlibat merayakan kemerdekaan dengan mengikuti beragam perlombaan dari yang lucu-lucuan hingga yang serius. Ada ingar-bingar yang menggetarkan setiap jiwa yang merasa memiliki sebuah bangsa merdeka bernama Indonesia.

Namun, pada saat yang bersamaan, senantiasa muncul pertanyaan dari lubuk hati yang terdalam: untuk apa kemerdekaan itu kita rayakan? Untuk sebagian kecil orang mungkin kemerdekaan memang layak dirayakan.Tapi untuk sebagian besar rakyat yang masih terperangkap dalam kemiskinan dan ketakberdayaan, perayaan itu menjadi semacam pelarian sejenak. Setelah perayaan usai, ketakberdayaan akan semakin berat dirasakan. Ibarat penderita sindrom narkoba berkepanjangan, ada luapan kesenangan pada saat ada zat adiktif merasuk dalam tubuhnya, untuk sejenak, setelah itu derita lebih berat mendera.

Untuk sebagian kecil orang, kemerdekaan begitu bermakna karena memang ada sarana dan fasilitas untuk mengisi dan memanfaatkannya. Tapi untuk sebagian besar rakyat yang hidupnya terlunta-lunta, kemerdekaan hanyalah angan-angan yang entah sampai kapan bisa diwujudkan.

Pekik kemerdekaan yang heroik, yang dikumandangkan 17 Agustus 1945 silam memang menandakan titik klimaks dari upaya para bapak bangsa, Bung Karno, Bung Hatta,  dan kawan-kawan dalam memperjuangkan kemerdekaan negeri ini dari penjajahan asing.

Namun hingga memasuki usia 70 tahun, kemerdekaan masih ditandai keterbelahan antara sebagian kecil mereka yang merayakan kemerdekaan di Istana Negara dan di gedung-gudung pemerintah dengan serbaneka busana mewah dan santapan yang serba lezat, dengan sebagian besar rakyat yang masih dalam tekanan dan ketertindasan yang bahkan dianggap tidak punya hak untuk sekadar hidup di gubuk-gubuk reot yang mereka bangun sendiri di atas tanah yang dulu diperjuangkan para pahlawan. Tragisnya, di antara yang terlunta-lunta itu, seperti yang kita simak dari berita media, ada yang berasal dari keluarga pahlawan.

Maka, kembali kita bertanya, untuk apa kemerdekaan dirayakan? Setidaknya untuk mengingatkan kita semua bahwa pernah ada saat dimana para bapak bangsa berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan bukan untuk dirinya sendiri, atau untuk keluarga dan kerabatnya, tapi untuk semua rakyat Indonesia. Hingga, pada saat mereka menyusun konstitusi, dengan jelas mencantumkan bahwa orang-orang miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Jika sekarang kemerdekaan itu hanya milik segelintir orang, pertanda ada deviasi yang begitu lebar dari makna kemerdekaan.

Kemerdekaan itu untuk semua. Artinya negara –yang dulu diperjuangkan kemerdekaannya—diperuntukkan bagi semua rakyatnya. Para pemimpin yang kini dipercaya mengelola negara, wajib memberikan hak kepada semua rakyat untuk hidup sebagai manusia-manusia yang merdeka, dalam arti bisa hidup layak di negerinya sendiri. Masih adanya rakyat yang tak bisa hidup layak menandakan kegagalan pengelola negara. Semakin banyak yang terlunta semakin nyata kegagalan pengelola negara.

Negara memang telah merdeka dari penjajahan fisik parakolonialis, namun kemerdekaan itu akan semakin bermakna jika negara mampu mengantarkan rakyatnya pada kemerdekaan yang sesungguhnya: terbebas dari belenggu kebodohan, kemiskinan, dan ketidakberdayaan.

Merayakan kemerdekaan menjadi penting pada saat diisi dengan usaha keras pemerintah untuk memberantas kebodohan, mengentaskan kemiskinan, dan melepaskan segenap rakyat dari ketidakberdayaan. Dan memang untuk tugas inilah yang paling pokok, rakyat mempercayakan mandat kepada pemerintah untuk mengelola negara ini.

Leave A Comment