Untuk yang ke sekian kalinya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono “curhat” di depan publik. Sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat SBY mengeluhkan adanya media (pers) yang selalu membesar-besarkan masalah yang dihadapi Partai Demokrat. SBY juga menyayangkan adanya pers yang menjadikan sumber dari SMS dan blackberry messenger (BBM) dari seseorang yang mengaku Nazaruddin sebagai headline (berita utama).

Jika SBY menyayangkan pers, publik menyayangkan mengapa SBY yang nota bene orang nomor satu di negeri ini harus disibukkan dengan masalah yang remeh temeh seperti SMS dan BBM. Sebagai Presiden, SBY seharusnya fokus pada masalah-masalah besar yang dihadapi bangsa ini. Soal kisruh yang dihadapi Partai Demokrat, cukuplah dibahas oleh pimpinan partai secara internal. Kalau pun harus disampaikan ke hadapan publik, yang sepatutnya menyampaikan adalah Anas Urbaningrum. Dengan begitu publik akan melihat Anas sebagai Ketua Umum Partai Demokrat benar-benar berfungsi, tak hanya berdiri mematung (layaknya pengawal) di belakang SBY.

Soal mengapa pers membesar-besarkan masalah yang dihadapi Partai Demokrat, seyogianya SBY instrospeksi mengapa hal itu terjadi. Bagi pers, dimana pun berlaku adagium, bad news is good news. Itu satu hal. Hal lain, pers punya fungsi kontrol. Sebagai alat kontrol (watch dog) , pers berkewajiban memberitakan penyimpangan-penyimpangan yang ada di lembaga-lembaga publik.

Partai politik adalah lembaga publik yang harus dikontrol oleh pers. Publik berhak tahu apa pun yang terjadi pada partai politik, bukan dari iklan atau advertorial yang hanya menampilkan sisi baiknya saja, tapi dari pemberitaan yang objektif, kalau baik dikatakan baik, buruk dikatakan buruk.

Ibarat berdiri di muka cermin, itulah yang selalu ingin ditampilkan oleh pers, yakni menjadi pantulan secara apa adanya. Maka jika ada partai politik yang ditampilkan pers dengan wajah buruk, bukan persnya yang harus dicaci maki, tapi wajah partai politik itu yang harus diperbaiki. Janganlah bertindak bagaikan pepatah, buruk muka cermin dibelah.

Banyak hal yang memperburuk wajah Partai Demokrat saat ini, terutama kasus dugaan korupsi yang dilakukan Nazaruddin di sejumlah proyek yang nilainya ratusan miliar. Beritanya semakin buruk karena Nazaruddin melarikan diri ke luar negeri, menjadi buronan Interpol dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Selain itu, kasus Nazaruddin juga memicu konflik internal. Dalam sejumlah talk show di televisi, ada beberapa pimpinan Partai Demokrat yang saling hujat satu sama lain. Itulah fakta. Fakta itulah yang diberitakan media.

Jika ingin memperbaiki berita-berita Partai Demokrat maka perbaikilah karakter para kadernya. Bawa Nazaruddin pulang untuk diproses secara hukum. Jika ia bisa membuktikan dirinya bersih dan tak bersalah, tentu namanya akan direhabilitasi. Sepanjang  Nazaruddin masih melarikan diri, sepanjang itu pula berita buruknya akan terus dilansir media.

Selain Nazaruddin, masih banyak lagi kader Partai Demokrat yang bermasalah secara hukum, yang semuanya memberi kontribusi signifikan bagi buruknya wajah Partai Demokrat di mata publik.

Sebenarnya partai-partai lain pun banyak yang kader-kadernya tersangkut masalah hukum, Sejauh ini memang belum ada pun partai yang benar-benar bersih. Cuma partai-partai lain tak mau menyalahkan media yang memberitakannya.

Leave A Comment