Merek salah satu roti produk nasional ini tiba-tiba menjulang, dapat berkah iklan gratis karena dalam satu sesi wawancara MetroTV dengan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, jingle-nya terdengar sayup-sayup. Padahal pada awal wawancara, tersangka kasus korupsi proyek wisma atlet SEA Games 2011 di Palembang ini mengaku berada di luar negeri yang disebutnya sebagai ”tempat yang aman dari segala rekayasa politik”.

Terdengarnya suara jingle itu kontan memunculkan dugaan bahwa Nazaruddin berada di Indonesia karena suara serupa biasa kita dengar di jalan-jalan sempit Jakarta dan sekitarnya tempat para penjual menjajakan ”Sari Roti”. Belakangan, pada saat Nazaruddin berbicara langsung dengan blogger Iwan Piliang dari ”Press Talk” melalui fasilitas skype (video call), ia mengaku jingle yang menghebohkan itu berasal dari ringtone (salah satu) handphone miliknya. Pengakuan ini cukup meyakinkan publik bahwa ia memang benar-benar berada di luar negeri. Apalagi pada saat berbicara dengan Iwan tampak sekali ada cahaya matahari menembus masuk ruangan tempat ia berada, padahal pembicaraan dilakukan pada malam hari untuk waktu Indonesia. Artinya Nazaruddin berada di suatu tempat (negara) yang perbedaan waktunya sangat mencolok (antara siang dan malam). Ada dugaan, ia berada di Amerika Latin. Mengapa jingle “Sari Roti” menjadi isu menarik? Tak lain karena dari awal sudah dibangun asumsi adanya rekayasa di balik ”nyanyian” sumbang Nazaruddin yang kian menyudutkan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Pengakuan bahwa jingle itu berasal dari handphone miliknya tak lantas menghapus dugaan itu. Aroma rekayasa terutama diperkuat oleh inkonsistensi pernyataan Nazaruddin yang pada awalnya mengaku bahwa uang dari proyek wisma atlet mengalir ke beberapa petinggi Partai Demokrat termasuk Sekjen Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas). Belakangan pengakuan itu ia ”ralat” karena, kata dia, waktu Kongres berlangsung ia berseberangan dengan Ibas dan karenanya tak punya kepentingan untuk mengalirkan dana ke putra bungsu Presiden. Bantahan yang cukup masuk akal tapi tetap menyisakan pertanyaan, mengapa tiba-tiba ia tampak ingin sekali menjatuhkan Anas, sampai harus mengatakan baru akan pulang jika Anas sudah dijadikan tersangka oleh KPK. Padahal sebelum ”melarikan diri” ia masih bersahabat dan tak pernah menyudutkan mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu. Dugaan sementara karena masih ada sisa-sisa perseteruan dalam Kongres. Pihak-pihak yang kalah bukan tidak mungkin merekayasa, atau setidak-tidaknya ikut memanas-manasi Nazaruddin agar terus bernyanyi menyudutkan Anas. Jika Anas benar-benar jatuh, tentu mereka akan bertepuk tangan. Dugaan lain, bisa saja ada kekuatan tertentu yang meskipun tidak ikut berkompetisi dalam Kongres tapi dari awal memang tidak menginginkan Anas menjadi Ketua Umum. Ada asumsi, di belakang Anas terdapat jaringan HMI/KAHMI yang sangat kuat dan tidak semuanya mendukung pemerintahan Yudhoyono. Begitu ”sulitnya” aparat hukum menangkap Nazaruddin yang begitu mudah berinteraksi dengan media memperkuat dugaan ini. Benar atau tidak dugaan-dugaan itu yang jelas Nazaruddin tampak begitu menikmati ”permainan”. Dalam wawancara, tak ada sedikit pun terdengar nada ragu-ragu, apalagi rasa takut. Ini sangat mengherankan. Padahal yang bersangkutan sudah dinyatakan buron dan masuk daftar pencarian orang (wanted) dalam rilis (media/website) yang dikeluarkan jaringan kepolisian internasional (Interpol). Kondisi ini jelas menjadi gangguan yang serius buat Anas Urbaningrum. Dalam Rakornas Partai Demokrat yang berlangsung 23-24 Juli 2011 di Sentul, Bogor, Jawa Barat, boleh saja Anas selamat dari ancaman Kongres Luar Biasa (KLB) yang dihembuskan lawan-lawan politiknya. Tapi sepanjang nyanyian sumbang Nazaruddin tetap berkumandang, tampaknya Anas tetap tidak akan tenang.

Leave A Comment