, ,

Untuk berkonsentrasi memenangkan pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Erick Thohir mundur dari jabatan Presiden Inter Milan yang dijalaninya sejak November 2013. Pemilihan Presiden 2019 akan menjadi pertaruhan prestasi sekaligus penanda bari Erick menuju dunia baru, dunia politik kepemimpinan nasional.

Kalau mencermati fakta-fakta dan indikator politik yang tersaji saat ini, rasanya Pilpres 2019 sudah “selesai”, karena sejatinya, Pilpres kali ini hanya babak lanjutan dari Pilpres 2014 lalu. Meskipun cawapresnya berbeda, siapa pun yang paham sistem politik di Indonesia, yang berkompetisi sesungguhnya capres, cawapres hanya “ban serep” yang peranannya kurang signifikan.

Kesuksesan Erick Thohir memimpin perhelatan olah raga terbesar di Asia (Asian Games), membuat Presiden Joko Widodo tertarik untuk memintanya memimpin Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin. Dengan begitu, sosok yang menarik bagi kelompok milenial yang menjadi target cawapres Sandi Uno itu sebagian besar akan memilih Jokowi-Ma’ruf antara lain karena faktor Erick Thohir.

Artinya, Pilpres hanya rangkaian proses menunggu waktu tiba, sedangkan pemenangnya sudah jelas Jokowi-Ma’ruf. Bahwa tidak sedikit yang menginginkan Prabowo-Sandi menang, itu hal yang wajar, tidak ada masalah. Setiap orang punya hak politik untuk menentukan pilihan.

Karena Pilpres 2019 kita anggap sudah “selesai” maka mari kita tengok Pilpres 2024. Pilpres ini akan sangat menarik karena tanpa sosok petahana. Yang berkompetisi merupakan aktor-aktor baru yang dari sekarang pun sudah bisa kita prediksi, baik yang berasal dari kepala daerah yang sukses, atau pun dari kader-kader partai yang potensial.

Kepala daerah yang kemungkinan sukses seperti Nurdin Abdullah di Sulawesi Selatan; Tri Rismaharini, Khififah Indar Parawansa, dan Emil Dardak di Jawa Timur; Ganjar Pranowo di Jawa Tengah; Ridwan Kamil di Jawa Barat; Anies Baswedan di Jakarta; dan  Zaky Iskandar di Tangerang Banten, adalah tokoh-tokoh yang layak maju menjadi capres atau cawapres.

Selain kepala-kepala daerah yang berhasil, ada tokoh-tokoh potensial menjadi capres atau cawapres yang berasal dari partai politik seperti Puan Maharani (PDI Perjuangan), Sandiaga Uno (Gerindra), Airlangga Hartarto (Golkar), Muhaimin Iskandar (PKB), dan bahkan Grace Natalie –tentu bila Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang dipimpinnya mampu menembus threshold 4% suara dalam Pemilu 2019.

Di samping tokoh-tokoh di atas, akan ada nama baru yang tampil, yang biasanya fokus pada bidang bisnis dan olahraga, yaitu Erick Thohir. Sebelum menggeluti dunia bisnis untuk menggantikan ayahnya, Teddy Thohir, Erick menyelesaikan pendidikan sarjana di Glendale University dan program magister Administrasi Bisnis di National University, keduanya di California, Amerika Serikat.

Berbeda dengan putra pebisnis pada umumnya yang mengawali karir dengan meneruskan usaha sang ayah, Erick lebih diajurkan ayahnya untuk membuka bisnisnya sendiri. Bersama Muhammad Lutfi, Wisnu Wardhana, dan R. Harry Zulnardy, Erick mendirikan perusahaan bernama Mahaka Group.

Mahaka berkembang pesat. Antara 2001-2009 telah berhasil menguasai Harian Republika, majalah a+, Parents Indonesia, Golf Digest, dan Sin Chew Indonesia yang sebelumnya bernama Harian Indonesia. Di media penyiaran, Mahaka menguasai JakTV, stasiun radio GEN 98.7 FM, Prambors FM, Delta FM, dan Female Radio. Di samping itu, Erick juga pemilik saham minoritas Viva Group yang mengelola vivanews.com, TVOne, dan ANTV.

Tak puas di bisnis media, Erick mengembangkan sayap di dunia olahraga. Di klub bola basket, ia memiliki Satria Muda dan Philadelphia 76ers yang berlaga di National Basketball Association (NBA), liga utama bola basket AS yang paling bergengsi di dunia. Di asosiasi bola basket Erick pernah menjadi Ketua Umum Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) periode 2006-2010, dan Presiden Asosiasi Bola Basket Asia Tenggara (SEABA) periode 2006 sampai saat ini.  

Di klub sepakbola, di samping ikut memiliki Persib Bandung, Erick merupakan pemilik klub di Liga Utama AS (Major League Soccer/MLS), D.C United (AS), dan klub Liga Utama (Seri A) Italia,  Internazionale atau Inter Milan yang kemudian mengantarkannya menjadi presiden klub ke-21, dari November 2013 hingga akhir Oktober 2018.

Hadirnya Erick Thohir sebagai tokoh politik diawali dengan memimpin TKN Jokowi-Ma’ruf. Rangkaian kesuksesannya di dunia bisnis dan politik tentu akan memberikan warna baru dan menarik dalam hiruk pikuk politik Pilpres 2024. Yang paling mengesankan publik Indonesia tentu pada saat memimpin Asian Games ke-18, Agustus lalu yang berhasil meraih tri-sukses: sukses dalam menyediakan sarana dan prasarana, sukses penyelenggaraan, sukses dalam meraih prestasi (jauh di atas target yang telah ditetapkan).

Kesuksesan penyelenggaraan Asian Games mendapat apresiasi yang tinggi dari semua pemimpin negara yang ikut berpartisipasi. Nama Indonesia semerbak di negara-negara Asia. Bahkan Presiden Olympic Council of Asia (OCA), Sheikh Akhmad Fahd Al-Sabah, secara khusus menyebut penyelenggaraan Asian Games telah menjadikan mimpi Asia sebagai The Energy of Asia menjadi kenyataan.

Kompetensi sebagai syarat mutlak memimpin negara besar seperti Indonesia ini adalah sesuatu yg tidak bisa ditawar. Munculnya  Erick Thohir akan menambah keyakinan bahwa banyak sekali putra putri terbaik bangsa kita yang bagus dan kompeten.

Sayangnya dalam berbagai perbincangan dengan penulis, Erick selalu menolak saat disinggung soal kemungkinan maju dalam Pilpres 2024. Dengan rendah hati dia mengatakan, masih banyak yang jauh lebih bagus dan kompeten ketimbang dirinya. Tapi, jika rakyat menghendaki, menjadi Presiden RI 2024-2029 merupakan hal yang tidak mustahil bagi Erick Thohir.

 

Leave A Comment