Garuda Indonesia telah menjadi ikon maskapai penerbangan dengan pelayanan terbaik di Tanah Air. Siapa pun yang menginginkan jadwal penerbangan yang tepat waktu dengan pelayanan hiburan dan kudapan yang memadai pasti akan memilih Garuda Indonesia. Harga tiket yang sedikit mahal tak menjadi soal. Bagi kalangan profesional, waktu benar-benar identik dengan uang. Ketepatan waktu dan kenyamanan dianggap jauh lebih penting dari sekadar hitung-hitungan soal harga tiket. Diakui atau tidak, di bawah kepemimpinan Emirsyah Satar, Garuda, berada pada performa yang terbaik. Inovasi-inovasi yang ditempuhnya antara lain menjunjung tinggi komitmen pelayanan, zero tolerance untuk keterlambatan/penundaan (kecuali karena alasan keamanan), percepatan penambahan armada, dan ekspansi rutenya benar-benar menjadikan Garuda sebagai penerbangan first class di Tanah Air. Dalam hal mempermuda armada, Garuda tercatat sebagai maskapai paling agresif. Untuk penerbangan domestik, Garuda sudah menggunakan Boeing 737-800, yang benar-benar baru didatangkan langsung dari pabriknya di Everett, Seattle, Washington, Amerika Serikat. Keistimewaan pesawat ini, selain minim guncangan, di bangku kelas ekonomi saja sudah dilengkapi layar video yang bisa dioperasikan dengan sentuhan (touch screen) dan bisa dipilih sesuai dengan permintaan masing-masing penumpang (video on demand). Sampai 2014, Garuda sudah memesan 50 pesawat Boeing 737-800, dan 10 pesawat Boeing 777-300 ER (extended range) yang berbadan lebar dengan kemampuan daya tempuh yang lebih jauh dari Boeing 777-300 biasa. Pesawat model baru yang mampu terbang ke Eropa tanpa transit ini sudah bisa diterima Garuda tahun depan (2011), yang rencananya akan melayani penerbangan ke Eropa dan Amerika. Sedangkan untuk tahun ini saja Garuda akan menerima 23 pesawat Boeing 737-800 dan satu pesawat Airbus 330-200. Dalam hal ekspansi rute penerbangan, mulai 1 Juni 2010, Garuda akan membuka kembali penerbangan setiap hari rute Ja-karta-Arnsterdam (Schiphol). Penerbangan ini akan dilayani dengan Airbus 330-200 dengan satu persinggahan di Dubai, Uni Emirat Arab. Pesawat ini dapat mengangkut 222 penumpang, terdiri atas 36 penumpang kelas bisnis dan 186 penumpang kelas ekonomi. Pesawat ini juga dapat menempuh jarak hingga 12.500 kilometer. Pe-numpang di kelas bisnis dapat merebah-kan tempat duduknya hingga 180 derajat. Sebagaimana Boeing 737-800, pesawat terbaru Garuda jenis Airbus 330-200 sudah dilengkapi dengan in-flight entertainment terbaru dengan personal TV pada setiap seat yang dilengkapi audio video on demand (AVOD) dengan ragam pilihan hiburan TV, musik, dan game. Tidak tiba-tiba Dalam sejarah penerbangan sipil di negeri ini, banyak maskapai muncul, besar secara tiba-tiba lalu hilang. Pada zaman Orde Baru, kita pernah mengenal kejayaan Sempati Air, yang kemudian gulung tikar bersamaan dengan datangnya krisis ekonomi. Di zaman reformasi, ada beberapa maskapai penerbangan yang gagal berkompetisi dan terpaksa berhenti beroperasi. Kemajuan yang dicapai Garuda tidak secara tiba-tiba. Maskapai penerbangan nasional yang menggunakan nama burung mitos dajam legenda pewayangan ini sudah ada sejak 1940-an, saat Indonesia masih berperang melawan Belanda. Pada 26 Januari 1949, Garuda terbang pada jalur spesial dengan pesawat DC-3 26. Tanggal itulah yang kemudian dianggap sebagai hari jadi maskapai penerbangan ini. Namanya masih Indonesian Airways. Pesawatpertamanya bernama Seulawah atau Gunung Emas, yang dibeli seharga 120 ribu dolar Malaya (setara dengan 20 kilogram emas) dari sumbangan masyarakat Aceh. Pada awal berdirinya, maskapai ini banyak dibantu pemerintah Burma. Sebagai imbal jasa, pada saat maskapai ini diresmikan sebagai perusahaan dengan nama Garuda Indonesia Airways (GIA) pada 31 Maret 1950, telah disumbangkan kepada pemerintah Burma satu pesawat DC-3. Pada 1953, GIA memiliki 46 pesawat, dan pada 1956 sudah bisa membuka jalur penerbangan pertama ke Mekkah. Tahun 1960-an adalah puncak kejayaan GIA. Pada 1965, GIA mendapat dua pesawat baru berupa jet Convair 990 dan pesawat turboprop Lockheed L-118 Electra. Pada 1961, GIA membuka jalur menuju Bandar Udara Internasional Kai Tak di Hong Kong. Pada 1965, saat era jet tiba, dengan DC-8, GIA membuka jalur penerbangan ke Bandara Schiphol di Haarlem-meer, Belanda. Pada 1970-an, GIA sudah mampu menggunakan DC-9 dan 36 jet kecil jenis Fokker F28, yang saat itu merupakan operator pesawat terbesar di dunia untuk jenis pesawat tersebut. Pada 1980-an, GIA sudah menggunakan Airbus 300, Boeing 737, dan McDonnell Douglas MD-11. Memasuki 1990-an, GIA mengalami be-berapa musibah dan memasuki masa-masa sulit. Pada era reformasi, GIA mengubah nama menjadi Garuda Indonesia (tanpa Airways) dan baru mampu mengatasi kesulitan-kesulitan yang dialaminya pada tahun 2000-an. Karena persaingan Perlu dicatat, meskipun Garuda pernah mengalami kejayaan pada 1960-an, secara bisnis maskapai ini tidak banyak membawa keuntungan bagi negara, bahkan cenderung merugi dari tahun ke tahun. Apa yang dialami Garuda saat itu sama seperti yang dialami sejumlah badan usaha milik negara saat ini, seperti PT Kereta Api, PT PLN, dan Pertamina, yang neracanya senantiasa merugi. Garuda tercatat mulai bergeliat secara menguntungkan terutama setelah diperbolehkannya pengoperasian maskapai-maskapai penerbangan swasta. Dengan adanya persaingan, Garuda dituntut melakukan pembaruan-pembaruan. Efisiensi ditekankan dengan memangkas biaya-biaya yang tak perlu. Pelayanan konsumen ditingkatkan dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip dasar bisnis. Sejak dipimpin Emirsyah Satar (2005), Garuda mengalami perkembangan pesat. Jumlah penumpangnya meningkat dari tahun ke tahun. Meningkatnya jumlah penumpang tentunya paralel dengan peningkatan keuntungan. Di tengah situasi krisis ekonomi global yang masih belum pulih, pada 2009, Garuda berhasil membukukan keuntungan (laba bersih) sebesar Rp 1.009 triliun dengan laba usaha (operating profit) sebesar Rp 807,6 miliar. Keuntungan (laba bersih) ini jauh meningkat dibanding keuntungan sebelumnya (2008) sebesar Rp 669 miliar. Pencapaian tersebut dapat diraih karena Emirsyah Satar berhasil menempuh langkah dan program dalam aspek komersial, operasional, keuangan, peningkatan produktivitas karyawan, serta program efisiensi. Sebagai hasilnya, selain peningkatan keuntungan, Garuda berhasil menurunkan utang perusahaan secara signifikan dari US$ 868 juta (termasuk kewajiban kepada European Credit Agency) pada 2006 menjadi US$ 527 juta pada Januari 2010. Mencermati apa yang dialami Garuda Indonesia, saya kira mungkin akan lebih baik jika BUMN lain yang masih memonopoli, seperti PT Kereta Api, PT PLN, dan Pertamina, belajar pada kemajuan Garuda dengan cara membuka diri pada kompetisi. http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2010/06/02/Opini/krn.20100602.202179.id.html

Leave A Comment