Tahun 2014 merupakan tahun politik karena di dalamnya full kegiatan dan isu politik, terutama proses pemilihan umum baik legislatif (DPR/DPD/DPRD) maupun eksekutif (Presiden dan Wakil Presiden).

Ada asumsi, tahun politik adalah masa-masa yang menyulitkan, terutama bagi rakyat pada umumnya yang menjadi objek politik. Sebagai objek, rakyat diombang ambing oleh isu-isu yang sulit divalidasi kebenarannya, dan dipaksa masuk dalam ranah tarik menarik dukungan yang tak jarang melahirkan konflik.

Itu semua terjadi karena demokrasi kita belum bisa berjalan sempurna sehingga hampir semua isu dan konstalasi politik tergantung bukan pada sistem, tapi pada aktor/figur, pada media massa yang mewarnai ranah publik, dan pada aspek-aspek lain di luar sistem yang baku secara politik.

Tapi, jangan lupa, justru karena demokrasi yang kita jalankan belum sempurna itulah, rakyat bisa merayakan kegembiraan dalam berpolitik. Rakyat bisa larut dalam arena tanpa hambatan struktural dan ketakutan seperti yang terjadi pada era Orde Baru. Rakyat bisa ikut mewarnai isu politik, ikut melontarkan pandangan, kritik, atau bahkan kecaman pada pihak-pihak yang tidak disukainya. Rakyat punya kebebasan penuh, kebebasan yang tak bisa dinilai harganya. Kalau dilihat dari kalkulasi-kalkulasi materialistik mungkin tak ada untungnya, tapi dari segi kebebasan mengekspresikan kemauan dan harapan, sangat tinggi nilainya.

Kemauan dan harapan merupakan modal politik yang tak terlihat namun memiliki dampak yang luar biasa bagi kemajuan bangsa. Bayangkan sebuah negara yang tertib secara politik, namun rakyatnya terkungkung dalam suasana ketakutan dan penuh ancaman, tentu akan sulit meraih kemajuan.

Kiranya wajar jika pada era revolusi fisik muncul semboyan, lebih baik mati berkalang tanah dari pada hidup terjajah. Karena kemerdekaan tak bisa dinilai dengan ukuran-ukuran material, dan makna kemerdekaan di era demokrasi adalah kebebasan berekspresi dalam segala dimensinya. Itulah sisi positif dari tahun politik. Kita bisa mengekspresikan dan merasakan kebebasan politik dalam arti yang sebenarnya.

Apakah tahun 2015 bukan lagi tahun politik? Tampaknya masih. Mengawali tahun ini, selain diwarnai berbagai bencana, juga akan ada sejumlah agenda politik. Ada sejumlah partai politik yang hendak melakukan suksesi. Sebagian besar isu yang berkembang mungkin parsial karena menyangkut kepentingan sektoral kepartaian, tapi saya yakin dampaknya bisa menyeluruh bagi kehidupan lebangsaan.

Mengapa demikian? Karena partai politik adalah hulu dari semua kebijakan politik yang ada di negeri ini. Partai politik menjadi arena awal rekrutmen politik yang di kemudian hari akan menjadi pemimpin nasional. Partai politik juga tempat penggodokan aturan main (kebijakan-kebijakan) yang di kemudian hari aturan-aturan itu akan ikut mewarnai perundang-undangan yang menjadi hukum positif secara nasional.

Karena dari partai politik lahir kader-kader yang akan mengisi hampir semua jabatan politik, dan dari partai politik juga lahir orang-orang yang akan ikut menyeleksi jabatan-jabatan strategis yang independen (non politis) seperti komisioner komisi-komisi nasional, Panglima TNI, Kepala Polri, Duta Besar, dan lain-lain. Ada sejumlah ketentuan yang seharusnya menjadi hak prerogatif Presiden tapi dalam praktiknya tidak bisa lepas dari dukungan DPR yang nota bene berisi kader-kader partai politik.

Dari fakta-fakta itulah maka kita harus concern dengan proses demokrasi yang terjadi pada partai politik karena jika buruk praktik demokrasi di partai politik kemungkinan besar akan buruk pula praktik demokrasi secara nasional.

Ada beberapa partai politik yang masih dipenuhi atau belum bisa lepas dari praktik dinasti politik. Ini harus kita kecam karena sistem dinasti sangat destruktif bagi demokratisasi. Sistem dinasti akan menutup peluang kader-kader berkualitas untuk bersaing dalam bursa rerkrutmen kepemimpinan.

Sejumlah partai politik masih sulit melakukan proses regenerasi dengan mengangkat kembali secara aklamasi pemimpin petahana. Ini juga harus kita kecam karena selain akan menutup ruang akselarasi rekrutmen kepemimpinan, juga akan melahirkan apatisme politik akibat tidak adanya kesesuaian antara usia dan jabatan, antara pola pikir dan ruang gerak, antara harapan dan kenyataan.

Selain itu, padaa tahun ini juga kemungkinan besar, cepat atau lambat, akan terjadi reshuffle kabinet yang jika tidak dipersiapkan secara cermat dan tepat, akan menimbulkan kegaduhan politik baru. Kemungkinan bukan sebatas reposisi menteri-menteri, tapi juga mungkin terjadi regrouping koalisi politik yang berakibat munculnya keseimbaangan baru di parlemen.

Jadi, sekali lagi, tahun ini pun tampaknya kita tetap berada dalam tahun politik. Tahun yang tak perlu dikhawatirkan kehadirannya melainkan harus diantisipasi dan dikelola secara proporsional. Politik yang dijalankan secara proporsional akan melahirkan banyak aspek kehidupan (yang bersentuhan dengan politik) menjadi proporsional.

 

Leave A Comment