Menurut diplomat kenamaan Inggris, Sir Ernest Mason Satow (1843-1929), diplomasi adalah “the application of intelligence and tact to conduct of official relation between the government of independent states,” (suatu penerapan kecerdasan dan taktik dalam pelaksanaan hubungan resmi antara pemerintah negara-negara yang merdeka/berdaulat).

Dilihat dari gayanya, secara umum diplomasi ada dua cara, yakni cara keras (hard) dan cara lunak (soft). Diplomasi cara keras umumnya dipraktikkan oleh pemimpin negara-negara yang (cenderung) berhaluan sosialis atau bekas negara sosialis seperti Korea Utara, Bolivia, Venezuela, Libya, Iran, dan lain-lain, terutama dalam menghadapi negara-negara kapitalis yang diwakili Amerika Serikat. Pemimpin negara-negara tersebut tidak sungkan-sungkan menyebut Presiden AS sebagai “setan besar”.

Diplomasi cara lunak pada umumnya diterapkan oleh negara-negara demokrasi dalam menjalin hubungan dengan negara-negara demokrasi yang lain seperti hubungan antara Amerika dengan sekutu-sekutunya seperti Inggris, Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, dan lain-lain.

Indonesia pada era Soekarno pernah menerapkan gaya diplomasi yang keras misalnya pada saat meneriakkan “Inggris kita linggis, Amerika kita setrika.” Pada masa konfrontasi dengan Malaysia (1962-1966) Soekarno pernah menyerukan “ganyang Malaysia”. Untuk  mengimplementasikan seruannya, Soekarno mengeluarkan maklumat “Komando Aksi Sukarelawan” yang ia tandatangani pada 3 Mei 1964.

Isi pidato dan maklumat Soekarno yang waktu itu menyebut dirinya sebagai “Pemimpin Besar Revolusi” pada beberapa hari ini banyak kita baca di  status-status facebook, twitter, dan jejaring-jejaring sosial dunia maya yang lain, termasuk yang dikirim secara berantai dalam bentuk pesan singkat (SMS) yang dibumbui dengan kata-kata provokasi.

Diplomasi keras ala Soekarno telah menginspirasi sejumlah aksi demonstrasi “anti Malaysia” yang digelar di depan Keduataan Malaysia di Jakarta, di Makassar, Banten, Solo, dan lain-lain. Di tengah aksi-aksi mereka, Soekarno bagaikan hidup kembali. Kaset pidatonya diputar, ungkapan-ungkapan kerasnya ditulis di poster-pester.

“Kemarahan” publik itu selain dipicu oleh ulah Malaysia yang dianggap mengganggu kehormatan dan kedaulatan RI, juga sebagai akibat langsung dari gaya diplomasi lunak yang diterapkan pemerintah. Pidato Presiden SBY yang disampaikan di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta, juga  menunjukkan betapa lunak (lemah) Indonesia di mata Malaysia.

Selain memicu demonstrasi, diplomasi lunak juga mendorong lahirnya inisiatif-inisiatif masyarakat untuk membuka posko penggalangan aksi pengganyangan Malaysia. Bahkan sejumlah anggota Resimen Mahasiswa (Menwa) yang biasanya sangat pro-pemerintah sudah mulai berani memprotes kebijakan Presiden SBY yang dinilai terlalu lunak pada Malaysia.

Di jagat maya, sekelompok hacker Indonesia juga ikut “berinisiatif” menyerang situs-situs penting di Malaysia seperti situs pemerintah, situs lembaga pendidikan, situs perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang sekuritas, trading, dan lain-lain. Akibat serangan hacker Indonesia, Malaysia dikabarkan menderita kerugian hingga 7,5 triliun rupiah.

Kita boleh saja tidak setuju atau bahkan tidak suka dengan “gaya preman” yang ditempuh sejumlah komponen masyarakat itu. Kita juga boleh saja mengancam “gaya pengecut” yang dilakukan para hacker. Tapi ingatlah kata pepatah “tak ada asap jika tak ada api”. Inisiatif-inisiatif masyarakat itu tak mungkin ada jika bukan karena kecintaan mereka pada negaranya yang begitu dalam. Mereka tidak suka negaranya dihina oleh Malaysia. Maka tindakan mereka seyogianya kita pahami, selain  sebagai protes keras terhadap tindakan Malaysia, juga sebagai implikasi dari diplomasi pemerintah yang terlalu lunak.

Leave A Comment