Upaya meneguhkan toleransi merupakan tindak lanjut dari proses membangun kebersamaan dan kesetiakawanan di antara umat beragama yang memiliki perbedaan keyakinan dan cara pandang satu sama lain. Upaya meneguhkan toleransi, (mungkin) ditakdirkan menjadi pekerjaan rumah yang terus menerus tanggungjawab yang harus diemban sebagian warga negara Indonesia.

Tantangan dalam melakukan upaya ini datang silih berganti, dan intensitasnya akan meningkat terutama pada saat-saat menjelang perhelatan politik seperti Pemilu atau Pilkada. Bagaimana cara menjawab tantangan inilah antara lain tulisan sederhana ini diarahkan.

Bagi bangsa Indonesia, bulan Desember adalah di antara bulan yang menjadi tantangan serius bagi pelaksanaan toleransi. Karena di bulan inilah, di ruang-ruang publik seperti taman, pusat perbelanjaan, dan lain-lain, terpasang ornamen-ornamen natal dengan beragam bentuk dan pernik-perniknya. Dan akan selalu menyulut kontroversi pada saat ada orang yang diketahui beragama Islam mengenakan atribut natal seperti topi santa atau yang sejenisnya.

Karena itulah, pada Desember 2016 lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram bagi Muslim mengenakan atribut natal. Tapi apakah dengan demikian kontroversinya berhenti? Tidak. Karena fatwa itu sendiri pun menimbulkan kontroversi di tengah-tengah masyarakat.

Belum lagi soal halal-haram bagi seorang Mualim mengucapkan selamat natal. Ini kontroversi klasik yang senantiasa muncul menjelang perayaan natal. MUI boleh saja mengharamkan karena itu merupakan bagian dari kewenangan yang dimilikinya. Tapi apakah publik akan mengikutinya atau tidak, merupakan aspek tersendiri yang layak kita cermati.

Yang pasti, Desember akan selalu hadir dengan pernak-pernik natalnya, sama seperti pada saat Ramadhan tiba, selalu diikuti dengan pernik-pernik keislaman dan lebaran.

Mencermati masalah ini, kiranya penting bagi kita untuk meneguhkan toleransi. Caranya dengan memupuk kesadaran akan pentingnya menjalin kebersamaan dalam masyarakat yang beragam. Kesadaran inilah yang menajdi pintu masuk utama bagi peneguhan toleransi.

Kesadaran menjalin kebersamaan, sejatinya sudah menjadi bagian dari karakteristik masyarakat Indonesia. Sudah puluhan, atau bahkan ratusan tahun masyarakat nusantara hidup dalam keragaman kultur, ras, dan keyakinan. Kekayaan tradisi kebersamaan ini tercermin dalam beragam simbol, misalnya dalam situs-situs budaya, artefak, juga karya seni arsitektur yang ditinggalkan orang-orang dulu yang menggabungkan beragam kultur.

Yang menjadi persoalan, pada saat muncul pihak-pihak tertentu yang mencoba merusak kesadaran publik dengan cara melakukan provokasi dengan menonjol-nonjolkan pandangan yang mengharamkan ucapan selamat natal atau yang sejenisnya. Kebersamaan yang sudah terajut selama bertahun-tahun itu pun terkoyak dalam hitungan hari, jam, atau bahkan menit.

Upaya provokasi tersebut, diakui atau tidak, biasanya justru dilakukan oleh para cerdik pandai yang pada hakikatnya sudah memiliki pemahaman yang cukup baik tentang bagaimana cara menjaga keharmonisan. Tapi ambisi politik untuk meraih kekuasaan, biasanya menjadi faktor pemicu yang menumpulkan kesadaran sehingga ia akan melakukan apa pun demi memenuhi ambisi politik yang dicita-citakannya.

Agama sebagai bagian dari aspek kehidupan yang bersentuhan langsung dengan kesadaran emosional, dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berambisi meraih kekuasaan dengan memunculkan fanatisme subjektif agar berpihak pada agama yang seolah-olah merupakan bagian dari panggilan keimanan yang tumbuh dari kedalaman ruhaninya. Padahal, bisa jadi, yang muncul hanyalah kesadaran simbolik yang artifisial.

Mengapa artifisial? Karena kesadaran beragama yang benar adalah yang menumbuhkan keharmonisan, kedamaian, dan suasana saling membantu satu sama lain. Kesadaran beragama yang memicu konflik antar sesama manusia, bukanlah kesadaran yang otentik, tapi ambisi subjektif kepentingan duniawi yang mengatasnamakan kesadaran beragama.

Maka, pada waktu dan tempat di mana perhelatan politik akan atau tengah dilakukan, niscaya akan kita temukan langkah-langkah politik subjektif yang dimanifestasikan dengan mengatasnamakan kesadaran beragama yang otentik. Dan pada saat itulah, upaya meneguhkan toleransi antarumat beragama menjadi pekerjaan yang tidak mudah dilakukan.

Meskipun demikian upaya itu harus tetap dilakukan sebagai bagian dari implementasi tanggungjawab kemanusiaan. Karena semua manusia pada hakikatnya sangat membutuhkan suasana kehidupan yang damai, harmonis, dan menyenangkan. Mereka yang terus-menerus mengupayakan konflik dan perpecahan, barangkali bukan manusia yang sesungguhnya, tapi mungkin iblis yang menyerupai manusia.

Leave A Comment