Ada tantangan berat untuk memunculkan nama-nama calon presiden (capres) alternatif, yakni dari kokohnya oligarki politik. Hanya partai-partai besar yang bisa mengusung capres. Dan hanya dari kalangan elitnya yang bisa menentukan siapa capres yang harus diusung dari partai besar tersebut. Kekokohan oligarki politik ini sulit ditembus kecuali dengan terobosan-terobosan kreatif untuk memunculkan capres-capres alternatif.

Terobosan itu antara lain sudah dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) yakni dengan menjaring capres melalui opinion leaders. Para pemangku jabatan, para pembuat kebijakan, pimpinan perusahaan, para eksekutif, dan lain-lain yang dalam batas-batas tertentu memiliki otoritas dalam menentukan opini dimintai pendapatnya tentang siapa capres yang dianggap layak. Dari nama-nama yang muncul memang masih didominasi muka-muka lama yang pada umumnya sudah mendapatkan dukungan dari partai-partai politik, tapi dari muka-muka lama itu juga menyeruak nama-nama baru yang sama sekali belum dicalonkan oleh partai politik.

Terobosan seperti ini menurut saya penting untuk lebih sering dilakukan agar bisa lebih banyak lagi terjaring capres-capres alternatif. Kita yakin di negeri ini menyimpan banyak calon pemimpin yang berkualitas dan mungkin lebih baik dari para pemimpin yang sudah bermunculan di permukaan. Masalahnya, para calon pemimpin alternatif itu, karena faktor idealisme atau karena faktor-faktor lain, membuatnya tidak mau muncul sehingga sama sekali tidak populer  dan karenanya tidak pernah masuk dalam survei-survei capres yang dilakukan secara konvensional.

Pola inkonvensional dengan menjaring pendapat opinion leaders, atau mungkin ada cara lain yang lebih kreatif, bisa jadi terobosan yang sangat bermanfaat untuk memunculkan nama-nama capres baru. Bahwa di antara nama-nama yang terjaring masih terdapat muka-muka lama, atau muka-muka baru yang sama sekali di luar dugaan dan dianggap pesanan oleh kelompok-kelompok tertentu adalah hal yang sangat wajar. Bahkan kalau kita ikuti secara saksama, jangan heran jika ada yang menuduh survei semacam ini punya kepentingan.

Menurut saya, survei punya kepentingan adalah hal yang lumrah. Apa masalahnya kalau kita punya kepentingan untuk memunculkan capres yang mungkin lebih baik dari yang sudah ada? Apa masalahnya kalau kita punya kepentingan untuk memunculkan nama-nama baru untuk bisa dipilih rakyat dalam Pemilu? Soal setelah dimunculkan kemudian direspon secara positif atau negatif merupakan hal yang biasa juga karena respon itu sendiri pada dasarnya menunjukkan adanya perhatian dan awareness—yakni suatu langkah awal menuju popularitas.

Setelah ada perhatian, jika terus dikelola dengan baik, dengan bantuan media dan alat peraga kampanye yang kreatif, capres yang sebelumnya tidak populer sangat mungkin akan menjadi populer. Jika dari pernyataan dan pandangan-pandangannya tentang masa depan Indonesia dinilai bernas dan berkualitas, bukan tidak mungkin popularitasnya terus meningkat dan menggeser popularitas capres-capres yang sudah diajukan partai politik. Kalau sudah terjadi demikian, saya yakin akan ada partai yang bersikap realistis dengan melamarnya sebagai capres atau setidaknya sebagai cawapres untuk mendampingi capres yang sudah ada.

Apa yang terjadi pada Pemilukada DKI Jakarta bisa kita jadikan contoh. Setahun atau bahkan setengah tahun sebelum Pemilukada berlangsung, belum ada orang yang betul-betul mengira akan muncul nama Joko Widodo (Jokowi). Tapi karena sebagai Walikota Solo sukses dengan terobosan-terobosan politik yang mengesankan, pada akhirnya ada partai politik yang jeli dan mengajukannya sebagai calon gubernur alternatif diluar nama-nama yang jauh lebih popular di mata warga Jakarta.

Dalam menjaring capres-capres, pola yang sama bukan tidak mungkin terjadi, yakni munculnya nama baru di sela-sela nama-nama capres yang sudah sangat populer. Perlu digarisbawahi, dalam setiap survei yang dilakukan secara konvensional, undecided voters atau mereka yang belum menentukan pilihan selalu tinggi persentasinya, dan biasanya mengalahkan tingginya persentase pilihan-pilihan terhadap yang sudah ada. Artinya, rakyat mungkin sudah jenuh dengan capres-capres yang sudah ada. Mereka membutuhkan figur baru. Namun sayangnya  figur yang dimaksud belum ada. Oleh karena itulah, langkah terobosan untuk menjaring nama-nama capres baru harus terus diupayakan.

Leave A Comment