Tahun ini, perayaan Hari Raya Idul Adha berhimpitan dengan peringatan hari Sumpah Pemuda (26 dan 28 Oktober 2012). Momentum ini penting dicermati karena antara keduanya (Idul Adha dan Sumpah Pemuda) mempunyai semangat yang sama, yakni pengorbanan dan persatuan.
Dalam Idul Adha, segenap umat Islam dianjurkan untuk mengorbankan sebagian harta yang dimilikinya, yang direpresentasikan dalam bentuk binatang ternak (kambing, kerbau, sapi, dan unta). Artinya, yang harus dikorbankan, selain konsumerisme (kepemilikan harta) juga watak kebinatangan kita yang egois, serakah, dan kegemaran berbuat sesuatu tanpa akal sehat.

Untuk apa pengorbanan dilakukan? Yang paling utama adalah untuk membangun semangat persatuan. Idul Adha identik dengan ibadah haji yang dalam prosesinya selain mengorbankan harta, juga harus mengorbankan tahta dan berbagai atribut kepangkatan yang bersifat fisik untuk bersatu dalam kesetaraan hubungan kemanusiaan di hadapan Tuhan. Dalam ibadah haji, semua dipersatukan dalam keyakinan yang mengikis egisme individual dan sektoral.

Dalam Sumpah Pemuda, cikal bakal warga negara Indonesia yang diwakili anak-anak muda dari berbagai suku dan golongan dari seluruh nusantara, bertekad mengorbankan egoisme agama, suku, dan kelompoknya masing-masing untuk kepentingan membangun Indonesia yang merdeka dan berdaulat. 

Tiga poin Sumpah Pemuda, yakni bangsa, tanah air, dan bahasa, merupakan aspek-aspek yang secara subjektif dimiliki oleh setiap pemuda yang apabila masing-masing bersikukuh dengan egoisme subjektifnya niscaya tidak akan terbangun keindonesiaan yang merdeka. Sekadar contoh, jikalau mereka yang bersuku Jawa bersikukuh dengan egosentrisme kesukuannya, karena jumlahnya mayoritas, mereka bisa saja memaksakan kehendak untuk melahirkan Republik Jawa dengan Jawa sebagai bahasa nasionalnya. Tapi karena semangat pengorbanan, Jawa yang mayoritas pun setuju lahirnya sebuah bangsa dan tanah air Indonesia dengan bahasa Indonesia (Melayu) sebagai bahasa nasional.

Pengorbanan adalah cara yang paling efektif untuk membangun dan merawat persatuan. Kebhinekaan suku, ras (warna kulit), agama, dan golongan senantiasa ada dan berkembang di negeri ini, jika masing-masing tidak memiliki jiwa pengorbanan, tentulah negeri ini akan tercerai berai, terbagi-bagi dalam suku dan agama.

Dalam sejarah perjalanan republik, upaya untuk mendirikan negara yang berdasarkan suku dan agama  itu sudah sering dilakukan oleh sekelompok orang, baik melalui perjuangan fisik, maupun perjuangan diplomatis dalam sidang-sidang konstituante pada era memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, dan dalam sidang-sidang lembaga legislatif (DPR dan MPR) pada era mengisi kemerdekaan dan membangun republik.

Problem yang dihadapi republik ini kian rumit di tengah “pergaulan bebas” antar bangsa-bangsa di dunia. Ketika ideologi nasionalisme tak lagi efektif untuk mencegah intervensi politik dan ekonomi dari negara-negara yang –secara politik dan ekonomi– lebih kuat, maka dibutuhkan kreativitas agar persatuan tetap terjaga, agar kebersamaan tetap tumbuh di tengah-tengah masyarakat yang berbeda-beda.

Selain pengorbanan, cara lain untuk merawat semangat persatuan dan kebersamaan adalah melalui dialog intensif yang melibatkan berbagai komponen suku, ras, agama, aliran kepercayaan, dan antargolongan. Ideologi menutup diri yang menafikan perjumpaan dan dialog, berpotensi besar melahirkan semangat memisahkan diri dari persatuan. Di tengah kesemrawutan sistem politik dan ekonomi, dengan tingkat kemiskinan dan kebodohan yang terus meningkat, potensi itu semakin besar dengan iming-iming kesejahteraan di tengah keterpurukan.

Dengan membuka diri dan dialog, selain terjalin persatuan, juga akan tumbuh rasa kebersamaan untuk saling bahu-membahu, saling membantu bila terdapat kelompok masyarakat yang hidup dalam kesulitan baik disebabkan karena kemiskinan atau pun karena ditimpa musibah bencana alam. Semangat kebersamaan dan bahu-membahu inilah saya kira yang membuat Indonesia tetap berdiri kokoh dalam rajutan perbedaan suku, ras, serta agama;  dan tetap survive walaupun hidup dalam wilayah “cincin api” yang sewaktu-waktu terjadi bencana alam yang tak terduga. Hanya persatuan dan kebersamaan yang membuat Indonesia tetap ada.

 

 

Leave A Comment