Setiap negara yang penduduknya terdiri dari beragam suku bangsa (etnis), pasti akan mengalami fase dimana masing-masing etis ingin menonjolkan jati dirinya, tanpa kecuali etnis itu menjadi bagian yang paling besar (mayoritas). atau paling kecil (minoritas).

Menurut Will Kymlica, profesor filsafat pada Queen University, Kanada, masyarakat modern sering dihadapkan pada kelompok minoritas yang menuntut pengakuan atas identitas mereka, dan diterimanya perbedaan budaya mereka. Dalam konteks Indonesia, pengalaman demikian pernah dialami oleh masyarakat keturunan Tionghoa.

Banyak di antara warga etnis Tionghoa yang harus berjuang keras menuntut pengakuan identitas, bahkan yang harus (terpaksa) mengubah nama seperti Nio Hap Liang menjadi Rudi Hartono (salah satu tokoh legenda bulutangkis Indonesia), Soe Hok Djin menjadi Arief Budiman (sosiolog), Zhong Wan Xie menjadi Basuki Tjahaja Purnama (Wakil Gubernur DKI Jakarta), dan lain-lain.

Harus diakui, posisi warga keturunan Tionghoa dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara kadangkala masih ada yang melihatnya sebelah mata. Dalam pergaulan sehari-hari masih sering terlontar rasa kekurangsukaan, atau bahkan sinisme yang dilontarkan sebagian orang terhadap mereka. Tidak jarang mereka disebut “aseng” yang disejajarkan dengan kata“asing” dalam konotasiyang negatif.

Selain itu, banyak juga yang mempersepsi mereka sebagai “makhluk ekonomi” yang semata-mata mengejar keuntungan dan cenderung tidak peduli pada lingkungan tempat tinggalnya. Apalagi, persepsi ini kemudian diperkuat dengan adanya klan-klan dan blok-blok yang secara khusus menjadi tempat tinggal mereka di tengah-tengah atau di sudut-sudut kota.

Padahal selama berabad-abad, etnis keturunan Tionghoa sudah berperan menanamkan spirit kebangsaan dengan kapasitasnya masing-masing, dan di lingkungannya masing-masing. Maka menjadi sangat mengherankan jika kemudian, etnis keturunan Tionghoa di Indonesia dipinggirkan secara politik, padahal sejatinya sejak berabad silam, jauh sebelum Indonesia merdeka, dalam perjalanan sejarah bangsa-bangsa yang berada, hadir, dan ikut membangun negeri ini, peranan mereka sangat besar, dan eksistensi etnis mereka tak bisa dipisahkan dari etnis-etnis lain dalam merajut sejarah keindonesiaan.

Dalam sejarah perjalanan keindonesiaan, perbedaan etnik menjadi mosaik yang menjadikan simfoni kebangsaan terasa lebih indah. Membeda-bedakan peran boleh saja dilakukan, tapi atas dasar minat, bakat, kecenderungan, dan keahlian, bukan atas dasar etnisitas. Pembedaan status berdasarkan etnis bertentangan dengan prinsip-prinsip universal hak-hak asasi manusia (HAM), sama seperti pembedaan status atas dasar agama dan ras atau warna kulit. Semangat kebangsaan harus diarjut dengan semangat kebersamaan  dan saling menghormati antar perbedaan etnis, agama, dan warna kulit.

Dalam konteks kebersamaan, perayaan Imlek bisa menjadi momentum untuk mengonsolidasikan spirit kebangsaan.Etnis Tionghoa sudah tidak perlu lagi menutup-nutupi jati diri, dengan mengubah nama dan sebagainya. Untuk menjadi Indonesia tidak harus mengubah identitas, karena keberagaman pada dasarnya merupakan raison de’tre dari terbangunnya negara Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika.

Sebagai bangunan multikultural, Indonesia  memang membutuhkan dukungan semua elemen yang ada di dalamnya. Setiap unsur etnis, budaya, maupun agama, harus tumbuh produktif secara bersama-samasehingga menjadi kekuatan yang mampu mencegah dan mengatasi konflik sosial yang kerap muncul mengatasnamakan (egosentrisme) etnis dan agama.

Masing-masing entis memiliki hak untuk memperjuangkan identitas dan kepentingan politisnya. Tetapi semangat primodialisme ini tak boleh menjadi hambatan dalam menggerakkan kemajuan secara bersama-sama dalam perspektif kebangsaan.

EtnisTionghoa, seperti etnis lainnya, punya hak untuk mempertahankan identitas, nama, bahasa, dan budayanya. Tapi pada saat yang sama juga punya kewajiban menjaga keutuhan Indonesia, dengan cara bekerja keras bersama-sama, bahu-membahu bersama etnis-etnis lainnya, memajukan dan menyejahterakan Indonesia.

Sayangnya, pengekangan berlebihan oleh rezim Orde Baru membuat etnis Tionghoa tidak punya andil dalam pengembangan karakter bangsa.Setelah pengekangan itu dihilangkan, sudah tinggi saatnya bagi etnis Tionghoa untuk kembali tampil bersama-sama komponen bangsa yang lain untuk membangun solidaritas dan soliditas yang lebih kokoh.

Imlek memang berasal dari China (Tiongkok). Namun, tradisi dan peradabannya dapat digali dan menjadi inspirasi bagi siapa pun, di mana pun. Dengan mengambil inspirasi dari Imlek, kita berharap Indonesia bisa tumbuh menjadi negara yang kuat yang mampu menyejahterakan seluruh komponen warganya tanpa diskriminasi.

Leave A Comment