Ada beberapa kalangan yang salah duga, curiga, atau bahkan buruk sangka terhadap Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Akibatnya, muncullah tuduhan-tuduhan yang tidak proporsional ditujukan kepadanya. Ia, misalnya dituduh akan menjadikan Jakarta sebagai kota yang hanya bisa dihuni oleh orang-orang kaya, para taipan, dan meminggirkan orang-orang miskin.

Salah duga terhadap Basuki pada dasarnya sama dengan salah duga terhadap manusia yang disebut ilmuan Prancis Alexis Carrel sebagai the unknown (makhluk misterius). Manusia memiliki multidimensi. Jika dilihat hanya dari satu dimensi saja, sudah bisa dipastikan akan melahirkan paham yang salah (gagal paham) tentang manusia, persis seperti hikayat empat orang buta yang meraba seekor gajah yang kemudian masing-masing punya persepsi yang berbeda tentang gajah sesuai dengan bagian tubuh (dimensi) yang dirabanya.

Begitu pun pandangan beberapa kalangan terhadap Basuki. Karena hanya melihat dari satu dimensi saja, misalnya dalam hal ketegasannya merelokasi pemukiman-pemukiman kumuh yang umumnya ditinggali orang-orang miskin, maka kemudian lahirlah kesimpulan Basuki anti rakyat miskin.

Atau pada saat dilihat semata-mata dari ucapan-ucapannya yang terkadang kasar, atau bahkan penuh makian dengan menyebut nama binatang dan kotoran manusia, maka lahirlah kesimpulan bahwa Basuki adalah sosok pemimpin yang pemarah dan bermulut kotor.

Padahal, setiap ucapan dan tindakan, apalagi dari seorang pemimpin, sudah pasti memiliki latar belakang atau alasan-alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Mengapa Basuki melakukan relokasi tempat tingga (menggusur –dalam bahasa para pembencinya)? Alasan utamanya, selain untuk menertibkan dan mempercantik lingkungan, yang lebih penting adalah untuk memperbaiki nasib mereka yang direlokasi itu.

Coba perhatikan tempat-tempat yang direlokasi penduduknya, pada umumnya berubah menjadi taman kota yang indah dan nyaman bagi siapa pun yang berkunjung ke tempat itu. Memang, tidak semua warga yang direlokasi lantas berubah nasibnya menjadi orang-orang kaya. Tapi setidaknya mereka bisa tinggal di tempat yang jauh lebih baik dari tempat yang ditinggali sebelumnya.

Di tempat baru yang lebih baik niscaya akan menumbuhkan harapan, memunculkan semangat baru dan optimisme yang selama tinggal di tempat kumuh tidak akan bisa didapatkan. Bahwa tidak semua orang mampu mengaktualisasikannya dalam bentuk yang lebih konkret seperti tambahnya income adalah hal yang wajar karena masing-masing orang memiliki etos dan kinerja yang berbeda-beda.

Bagi yang malas bekerja, dimana pun tempatnya, nasibnya akan tidak jauh berbeda. Tapi bagi yang tekun dan rajin, produktivitasnya akan semakin meningkat pada saat tersedia daya dukung yang memadai. Relokasi di tempat yang lebih baik otomatis akan mengubah nasib menjadi lebih baik bagi mereka yang memiliki etos kerja yang baik.

Terkait Basuki yang terkesan sebagai gubernur pemarah dan pemaki, coba kita perhatian dengan cermat, kepada siapa amarah dan makian itu ditujukan? Apakah ditujukan pada orang-orang baik dan terhormat. Tidak, akan tetapi ditujukan pada mereka yang diyakini korup dan culas. Untuk orang-orang baik, Basuki menyampaikan ucapan-ucapan yang baik juga. Ia bersikap proporsional. Ia punya cara yang khas kepada siapa ia berbicara. Bahwa mungkin ada ucapan yang salah sasaran, misalnya ada orang baik-baik yang terkena makian, itulah hal yang perlu diperbaiki dari Basuki.

Sehebat apa pun Basuki, ia tetap manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Jika ada ungkapan dan umpatan yang salah sasaran, tentu itu kesalahan yang perlu diperbaiki, dan Basuki yang saya kenal bukan orang yang menutup diri dari koreksi dan masukan-masukan. Siapa pun boleh memberi masukan, dan bahkan ia memberi ruang seluas-luasnya untuk siapa pun yang akan menyampaikan kritik dan saran.

Untuk setiap saran dan kritikan yang masuk akal, Basuki akan menerimanya dengan lapang dada, dan merealisasikan masukan dan saran yang baik bukan sesuatu yang tabu baginya. Keterbukaan inilah saya kira, yang menjadi salah satu kunci sukses Basuki dalam memimpin, termasuk memimpin Provinsi DKI Jakarta.

Mungkin banyak kalangan terheran-heran, mengapa Basuki yang kadang mengeluarkan kata-kata kotor itu, dalam setiap survei yang dilakukan secara objektif selalu mendapatkan apresiasi yang baik, kinerjanya dianggap bagus dengan tingkat elektabilitas yang jauh meninggalkan lawan-lawannya.

Saya kira ada dua hal yang bisa mengikis rasa heran ini. Pertama, seperti yang sudah saya paparkan, karena salah sangka. Banyak orang melihat Basuki hanya dari penampilan “kulit luar” terutama dari tutur katanya, bukan melihat dari kinerjanya. Elektabilitas yang tinggi bagi petahana tidak mungkin terjadi jika bukan karena baiknya kinerja.

Kedua, mungkin karena sejauh ini belum ada lawan politik Basuki yang seimbang, yang popularitasnya tinggi dan memiliki rekam jejak yang baik sebagai pemimpin. Tingginya popularitas dan rekam jejak yang baik adalah kombinasi yang selama ini membuat Basuki unggul dalam setiap survei. Mungkin ada calon gubernur yang rekam jejaknya baik tapi popularitasnya rendah. Atau ada juga yang popularitasnya menjulang tapi rekam jejaknya biasa-biasa saja atau bahkan buruk.

Leave A Comment