Sir Winston Leonard Spencer Churchill, lahir di Oxfordshire, Inggris, 30 November 1874 dan meninggal di London, 30 Januari 1965. Perdana Menteri Inggris Raya ini memerintah pada saat masa-masa sulit menghadapi Perang Dunia kedua. Tapi justru karena pada masa sulit itulah ia tampil menginspirasi dunia dengan tindakan dan karya-karyanya.

Selain negarawan, Churchill adalah sastrawan yang melahirkan banyak karya sastra bermutu hingga meraih penghargaan tertinggi, Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1953. Dalam karya-karyanya itulah tertuang banyak nasihat, kata-kata mutiara, atau ungkapan-ungkapan yang senantiasa aktual, tak lekang oleh zaman.

Pada saat menghadapi banyak masalah seperti sekarang ini, ada baiknya kita membaca kembali nasihat-nasihat Churchil. Di antara nasihatnya adalah, this is no time for ease and comfort, it is time to dare and endure.  Jokowi memulai pemerintahannya dengan mengajak berlari para menteri yang telah dipilihnya. Baginya, menjadi pejabat negara bukan waktu untuk berleha-leha, bersenang-senang, atau berdiam diri dalam zona kenyamanan. Menteri-menteri Jokowi yang disebutnya dengan Kabinet Kerja adalah mereka yang siap bekerja siang malam.

Jokowi sadar betul dengan kondisi negara yang membutuhkan tampilnya para pemimpin yang siap bekerja keras. Untuk itu ia menyontohkannya sendiri dengan gerak dinamika yang –dalam batas-batas tertentu—luar biasa gesitnya. Para wartawan, atau siapa pun yang pernah menyertai perjalanan Jokowi ke daerah-daerah, merasakan betul kegesitan itu dan berbeda sama sekali dengan presiden sebelumnya.

“Healthy citizen are the greatest asset any country can have,” kata Churchill. Program yang pertama kali digalakkan Jokowi adalah penerbitan dan pembagian Kartu Indonesia Sehat (KIS). Karena kesehatan warga negara adalah asset terbesar yang dimiliki suatu negara di mana pun. Ada yang mengatakan pendidikan sangat penting, tapi siapa pun tidak bisa belajar dengan baik jika fisiknya sakit. Oleh karena itu, sebelum menerbitkan dan membagikan Kartu Indonesia Pintar, Jokowi terlebih dahulu menggalakkan KIS.

Nasihat lain dari Churchill, kites rise highest against the wind-not with it. Layang-layang bisa terbang mencapai puncak ketinggian karena melawan angin, bukan dengan ikut arus angin.  Menentang arus memang bukan pilihan terbaik pada saat kita tidak mampu melawannya, tapi ikut arus tentu bukan pilihan terbaik karena akan membuat kita terombang-ambing, terbentur kesana kemari tanpa arah dan tujuan yang jelas.

Apa yang ditempuh Presiden Jokowi –dalam banyak kasus, termasuk bagian dari cara mengatasi situasi—dengan tidak begitu saja mengikuti arusnya. Pada awalnya kita ragu apakah Jokowi mampu melakukan itu karena belum apa-apa ia sudah tersandra oleh kepentingan partai-partai yang mendukungnya. Ia, misalnya, dianggap sebagai “petugas partai”, suatu sebutan pejoratif yang berdampak negatif dan menjadi olok-olok (meme) yang terus menerus dilakukan oleh lawan-lawan politiknya.

Tapi, pada faktanya, Jokowi banyak melakukan hal-hal yang dianggap melawan kebiasaan. Dalam mengangkat Panglima TNI ia merombak tradisi bergiliran antar angkatan Darat, Laut, dan Udara. Setelah Jenderal TNI Moeldoko yang berasal dari Angkatan Darat, lazimnya diteruskan oleh Marsekal Angkatan Udara. Tapi, Jokowi tidak melakukannya. Ia mengangkat Jenderal TNI Gatot Nurmantyo yang juga berasal dari Angkatan Darat.

Jokowi juga melawan arus dengan menggeser Komisaris Jenderal Budi Waseso yang dinilai banyak kalangan sebagai perwira polisi yang pemberani dalam memberantas korupsi dan dianggap sukses memimpin Badan Reserse Kriminal Maskas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Reskrim Polri). Jokowi ingin menunjukkan bahwa penilaian publik itu tidak sepenuhnya benar. Caranya bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan nyata.

Pada saat menghadapi krisis nilai tukar rupiah, banyak kalangan menjerit, pesimisme menyebar ke segala penjuru melalui berbagai bentuk media, terutama media sosial yang tidak mengenal batas ruang dan waktu, bahkan etika. Meme yang mencemooh rupiah bagaikan penyakit menular yang mewabah dan menjalar ke semua penjuru.

Tapi Jokowi melihat ini sebagai peluang untuk memicu perbaikan mutu dan daya saing produk dalam negeri sehingga bisa meningkatkan nilai ekspor. Inilah pilihan yang harus ditempuh jika kita ingin menaikkan nilai tukar rupiah yang antara lain dipicu oleh ketidakberimbangan antara nilai impor dan ekspor –selain tentu disebabkan oleh perbaikan kebijakan perekonomian Amerika yang dampaknya juga dirasakan oleh negara-negara lain, tak hanya Indonesia. Langkah Jokowi ini sesuai dengan ungkapan Churchill, the pessimist sees difficulty in every opportunity, the optimist sees the opportunity in every difficulty.

Apakah Jokowi membaca nasihat-nasihat Churchill? Wallahu a’lam!  Yang jelas apa yang ditempuhnya sesuai dengan nasihat Perdana Menteri Inggris yang pernah berpindah haluan dari Partai Konservatif  (1900-1904) ke Partai Liberal (1904-1924), lalu kembali lagi ke Partai Konservatif (1924-1964).

Leave A Comment