Manusia, secara alami, merupakan makhluk yang punya kecenderungan suka mengeluh. Hanya orang-orang tertentu saja, yang apabila dihadapkan pada suatu masalah, mampu menghadapinya dengan tegar, dengan sikap optimistis. Mereka itulah para pemimpin.

Tidak ada satu pun tokoh-tokoh besar yang menjadi pemimpin dunia yang lepas dari ujian. Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, Soekarno, dan lain-lain, sepanjang hidupnya penuh dengan ujian. Bahkan Nabi Muhammad SAW –pemimpin yang menurut Michael H Hart paling berpengaruh di dunia– sejak usia yang sangat dini, sudah sarat dengan ujian, dari yang ringan hingga yang amat berat.

Sejarah hidup pemimpin merupakan rangkaian episode penuh ujian. Tapi hanya pemimpin sejati yang menganggap ujian sebagai tantangan untuk meraih kesuksesan. Siapa pun baru bisa disebut sukses setelah lulus dari ujian. Yang tidak lulus ujian disebut orang gagal. Jika dia seorang pemimpin, sudah pasti bukan pemimpin yang sesungguhnya.

Untunglah Tuhan maha pengasih. Dalam kitab suci (al-Quran) Dia berjanji tidak akan pernah memberi ujian pada makhlukNya kecuali sebatas kemampuan. Maka jika ada orang yang mengeluh karena merasa tidak mampu menghadapi ujian, sesungguhnya ia tengah menihilkan dirinya sebagai makhluk Tuhan.

Oleh sebab itu, ibarat pepatah, semakin tinggi pohon, semakin kencang pula tiupan angin yang menerpanya. Ujian yang diberikan Tuhan pada manusia sudah pasti sesuai kadarnya. Pemimpin biasa diberi ujian yang biasa, dan pemimpin luar biasa akan diberi ujian yang luar biasa.

Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi), dan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), adalah contoh di antara sejumlah pemimpin kekinian yang sarat ujian. Sejak masa kampanye hingga saat ini, Jokowi dan Ahok tak pernah lepas dari ujian.

Pada masa kampanye, ujian terberat Jokowi adalah penyebaran fitnah yang dilancarkan lawan-lawan politiknya. Setelah menjadi Presiden, ujian yang dihadapinya jauh lebih berat dan kompleks, bukan hanya fitnah, tapi juga tantangan real di arena birokrasi yang korup dan penuh mafia.

Ujian Jokowi yang tidak kalah berat berupa tantangan dari parlemen yang kerap menghadang program-program yang telah dicanangkannya. Jika program berhasil dihambat, Jokowi tak sekadar terancam gagal, tapi juga bisa dicap pendusta karena ia tak bisa merealisasikan janji-janji kampanyenya.

Mantan mitra Jokowi di Jakarta,  Ahok, juga menghadapi ujian yang sama. Birokrasi pemerintahan yang koruptif, parlemen (DPRD DKI Jakarta) yang siap menghadang program-programnya, dan tindakan rasis dari sejumlah tokoh yang tak segan memperalat agama untuk kepentingan politiknya. Belum lagi aktivis-aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang hanya melihat kulit luarnya dari langkah-langkah Ahok dalam menertibkan bantaran kali Ciliwung sehingga begitu mudahnya menuduh melanggar kemanusiaan dan HAM.

Tududuhan serius inilah yang kemudian dikapitalisasi untuk menolak kepemimpinan Basuki. Tagar #TolakAhok pun dijadikan alat kampanye secara massif dan terus-menerus direproduksi di jagat maya dan alam nyata. Kampanye #TolakAhok dilakukan dengan melibatkan banyak kalangan, bahkan termasuk mereka yang tak mengerti apa-apa.

Apakah kampanye yang mengandung banyak kebohongan itu bisa berhasil? Sangat mungkin, jika publik tidak segera menyadari kebohongan-kebohongan yang ditampilkannya. Untuk membangkitkan kesadaran publik itulah diperlukan langkah-langkah cerdas dan strategis. Tidak perlu mengcounter dengan cara serupa, cukup dengaan langkah-langkah nyata.

Pertama, publik yang merasakan manfaat nyata dari kebijakan-kebijakan Ahok selama memimpin Jakarta seyogianya dibiarkan bersuara, memberi kesaksian, menyodorkan fakta-fakta. Itulah salah satu cara jitu agar Ahok bisa menghalau kebohongan-kebohongan yang terus dikampanyekan lawan-lawan politiknya.

Kedua, dengan bersilaturrahim, menjalin hubungan baik dengan banyak kalangan, para tokoh dan pemangku adat yang masih memiliki intergitas moral tinggi di mata masyarakat. Pada saat kepercayaan sudah tertanam di sanubari tokoh-tokoh ini, niscaya gempuran kebohongan yang dilontarkan bertubi-tubi pun tidak akan mampu menggoyahkan posisi Ahok.

Ketiga, dengan tetap berpegang teguh pada konstitusi, pada prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan. Melenceng sedikit saja dari prinsip-prinsip ini, akan terjerembab pada aksioma sosiologis, sekalin lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya. Kelemahan utama para penantang dan penyerang Ahok adalah mereka yang pada umumnya sudah lancung ke ujian.

Jika ketiga cara ini bisa dilakukan dengan baik, niscaya antara loyang dan emas akan terlihat dengan jelas. Siapa pemimpin sesungguhnya, Basuki atau mereka yang terus-menerus menistanya? Publik pasti bisa menjawabnya secara objektif.

Leave A Comment