Pada saat Jepang mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi makro hingga 4,9%, Yukio Hatoyama justru mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan Perdana Menteri. Sebelum Hatoyama memimpin, angka pertumbuhan ekonomi Jepang hanya berkisar 3% atau bahkan minus hingga 15,3%.

Penyebab utama Hatoyama mundur, karena merasa gagal merealisasikan janji kampanye untuk memindahkan pangkalan militer Amerika yang terdapat di pulau Okinawa. Pada saat kampanye, Hatoyama berjanji akan memindahkan atau bahkan berupaya mengeluarkan pangkalan militer Amerika dari wilayah Jepang.

Tapi apa yang terjadi? Tegangnya hubungan Korea Utara dan Korea Selatan serta makin agresifnya angkatan laut Cina membuat Hatoyama cemas dan dikhawatirkan akan mengganggu stabilitas politik dan keamanan Jepang. Oleh karena itu ia memutuskan untuk tetap mempertahankan pangkalan militer Amerika. Keputusan yang cukup masuk akal. Namun di mata publik Hatoyama dianggap tidak konsisten karena telah mengingkari janji yang dikampanyekannya selama ini.

Selain itu, Hatoyama juga dianggap punya kaitan dengan skandal keuangan yang dilakukan Ichiro Ozawa, Sekjen Partai Demokratik Jepang (DPJ) yang dikenal sebagai ahli strategi kampanye yang berhasil memenangkan Hatoyama. Di bawah pimpinan Ozawa, tim kampanye Hatoyama menerima bantuan dana sebesar 4 juta dolar Amerika tanpa ada laporan yang pasti. Padahal selama kampanye, DPJ senantiasa menyuarakan pentingnya pemerintahan yang bersih, transparan, dan akuntabel. Akibat skandal itu, tiga mantan pembantu utama Ozawa diadili dan membuat pamor DPJ ambruk di mata publik

Perihal peningkatan pertumbuhan ekonomi, publik Jepang lebih percaya sebagai dampak langsung dari pulihnya resesi ekonomi global yang mengakibatkan peningkatan ekspor produk manufaktur yang sebelumnya mengalami kelesuan akibat krisis ekonomi global. Dalam kondisi demikian, siapa pun pemimpinnya, rakyat Jepang yakin pertumbuhan ekonomi negaranya akan meningkat.

Apa pun penyebab Hatoyama mundur, yang pasti, langkah Presiden DPJ ini memberi kita pelajaran berharga bahwa seorang pemimpin betul-betul terikat dengan ucapan-ucapannya. Seorang pemimpin harus konsisten dengan apa yang dikampanyekannya. Pada saat konsistensi gagal dipertahankan, dengan alasan yang rasional sekali pun, ia harus mundur dari jabatannya. Dan tampaknya Hatoyama menyadari betul dengan tradisi politik luhur semacam itu.

Tradisi politik Jepang itu betul-betul bertolak belakang dengan tradisi politik di Indonesia. Di negeri ini, seorang pejabat negara senantiasa mengingkari janji-janjinya dalam kampanye. Tradisi buruk inilah antara lain yang mendorong sebagian besar rakyat ramai-ramai meminta konsesi, meminta “jatah” di depan sebelum para politikus naik tahta. Karena rakyat yakin, politikus yang terpilih nantinya akan ingkar janji. Selain itu, skandal keuangan yang dilakukan para politikus pada saat kampanye juga dianggap biasa.

Di negeri ini, pertumbuhan ekonomi yang merupakan dampak perbaikan ekonomi global senantiasa diklaim sebagai bagian dari keberhasilan pemerintah Sebaliknya, pada saat perekonomian nasional memburuk, selalu diklaim sebagai akibat resesi ekonomi global. Para penguasa di negeri ini benar-benar tak punya rasa malu. Tak ada tradisi mundur akibat kegagalan, yang ada dimundurkan melalui proses pemakzulan. Dan untuk menghindari pemakzulan, segala potensi negara dikerahkan, nasib rakyat makin ditelantarkan.

Oleh karenanya, negeri ini membutuhkan kebijakan politik restoratif, sebagaimana dulu Jepang melakukan Restorasi Meiji. Yang perlu kita lakukan, pertama, restorasi negara bangsa yang antara lain berupaya membangun keteladanan pemimpin; kedua, restorasi kehidupan rakyat yang antara lain berupaya membangun kebijakan berdasarkan arus bawah dan prakarsa rakyat; dan ketiga restorasi kebijakan internasional yang antara lain berupaya membangun keseimbangan baru dalam tata dunia yang lebih adil dan damai.

Itulah kebijakan restorasi yang kita butuhkan, disesuaikan dengan kebutuhan objektif bangsa Indonesia pada saat ini. Dalam pelaksanaanya tidak harus mengadopsi sepenuhnya Restorasi Meiji ala Jepang pada tahun 1868. Restorasi Meiji hanya kita jadikan inspirasi.

 

Leave A Comment