Oleh Jeffrie Geovanie

Anggota Komisi I DPR RI

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menunjukkan kesedihan di depan publik hingga menitikan air mata. Hal ini terjadi saat berpidato pada puncak peringatan 50 tahun Agraria Nasional di Istana Bogor, Jawa Barat, Kamis (21/10). Dalam catatan kita, ini bukan tangisan yang pertama. Beberapa kali Presiden menangis, atau setidaknya menunjukkan kesedihan di depan publik. Apa artinya ini? Apakah benar-benar karena terharu, atau sekadar ingin meraih simpati publik, agar segenap rakyat iba kepada pemimpinnya?

Jika dilihat dari suasana dan spontanitasnya, tampaknya tangisan Presiden kali ini benar-benar tulus, murni karena terharu menyaksikan sejumlah petani mendapatkan tanah dari negara lengkap dengan sertifikatnya. Terharu karena petani yang pada umumnya hidup susah mendapatkan  sesuatu yang diidam-idamkannya. Antara petani dan tanah ibarat tentara dengan baraknya. Tanpa tanah, petani tak bisa hidup dengan layak, hanya bisa jadi buruh yang upah sangat minim. Kondisi inilah barangkali yang membuat Presiden terharu, menangis.

Artinya, jika mayoritas rakyat Indonesia hidup dari bertani, maka mayoritas rakyat Indonesia adalah orang-orang kalah yang tak bisa survive tanpa bantuan negara. Kenapa para petani tak bisa survive dan berbondong-bondong mendatangi ibu kota? Karena kebijakan pembangunan yang dijalankan pemerintah lebih berorientasi ke kota, bahkan terpusat ke ibu kota. Jika disebabkan karena menyaksikan kondisi seperti ini tentu tangisan Presiden bermakna positif.

Tapi bisa bermakna negatif jika tangisan itu karena kekagetan, lantaran  semua laporan yang selama ini diberikan oleh para pembantunya, entah para menteri, pejabat setingkat menteri, para staf khusus,Dewan Pertimbangan (Wantimpres), dan pejabat-pejabat lain yang bertugas di kantor kepresidenan, hanya memberikan laporan-laporan yang baik tentang kondisi dan nasib petani di tanah air.

Jika laporan yang diberikan para pembantunya tidak  ABS (Asal Bapak Senang) tentunya Presiden akan memahami betul seperti apa kondisi para petani kita sehingga tak perlu kaget saat mengetahui secara langsung bahwa kondisi petani pada umumnya ternyata masih sangat jauh dari kesejahteraan, bahkan untuk sekedar hidup layak pun masih banyak yang kesulitan.

Sebenarnya, selain petani, masih banyak dari segmen masyarakat yang hidup dalam ketidaklayakan, sebut saja para pekerja sektor informal seperti pedagang kaki lima, pedagang keliling, buruh angkut (porter) tidak resmi di pelabuhan-pelabuhan dan di bandara, para pengamen, pemulung, para sopir angkutan umum, dan lain-lain yang kesemuanya masih hidup dalam jerat kemiskinan.

 Yang Presiden saksikan dan dengarkan seperti juga kita saksikan dan dengarkan selama ini, adalah laporan-laporan tentang peningkatan kesejahteraan, berkurangnya angka pengangguran, kemiskinan, dan indikator-indikator makro ekonomi yang terus meningkat. Padahal di balik angka-angka yang menunjukkan kebaikan itu terdapat kondisi ekonomi mikro yang terengah-engah.

Artinya, Presiden selama ini hanya terbius dengan angka-angka statistik yang tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi real yang ada di tengah-tengah masyarakat. Indikator ekonomi yang dilaporkan para pejabat adalah satu hal, sedangkan kondisi real masyarakat adalah hal yang lain. Kedua hal ini senantiasa menunjukkan ketimpangan yang kadang luput dari perhatian Presiden. Maka wajar jika Presiden kaget pada saat melihat kondisi real masyarakat yang (ternyata) masih sangat memprihatinkan.

Menurut saya, Presiden memang layak menangis saat menyaksikan rakyatnya menderita. Tapi segera dicatat bahwa tangisan itu tanpa makna apa-apa jika tak ditindaklanjuti dengan kebijakan-kebijakan politik yang pro rakyat. Petani, nelayan, buruh,  para pekerja sektor informal, dan kelompok-kelompok masyarakat yang umumnya termajinalkan butuh kebijakan yang memberdayakan, yang tidak membuat mereka kian terpelanting di pinggir hiruk-pikuk pembangunan. Mereka tak butuh laporan-laporan yang menggembirakan dari menteri-menteri bidang ekonomi. Yang mereka butuhkan adalah pekerjaan yang layak yang bisa membuat mereka sejahtera.

Leave A Comment