Dalam bahasa sederhana, klenik berarti hal-hal yang tidak masuk akal namun dipercaya masyarakat sebagai kebenaran. Setiap datang bencana hampir selalu ada klenik yang menyertainya. Sebelum erupsi Gunung Merapi dikabarkan ada kamera penduduk yang berhasil menangkap gumpalan awan di puncak Merapi yang menyerupai wajah Petruk menghadap ke kanan. Dalam dunia pewayangan, Petruk merupakan salah satu putera Semar, di samping Gareng dan Bagong. Semar dan anak-anaknya menjadi punakawan (pembantu,pengikut) yang setia bagi Pandhawa. Dalam perang saudara (Bharatayudha) yang terjadi di Padang Kurusetra, Pandhawa melambangkan “golongan putih” dengan strategi perangnya yang kesatria. Sedangkan yang berada di “golongan hitam” adalah Kurawa dengan strategi yang licik. Ketika dimainkan di pentas wayang, Petruk selalu menghadap ke kiri, ke arah Sang Dalang, sebagai simbol kepatuhan rakyat pada pemimpinnya. Pada saat Petruk menghadap ke kanan, berarti ada yang salah pada Sang Dalang. Ada pembangkangan rakyat yang disebabkan karena kesalahan pemimpin. Banyak kalangan percaya, munculnya “wajah Petruk” di puncak Merapi sebagai tanda bahwa Gunung Merapi merupakan perwujudan dari Mbah Petruk, salah satu anggota para punakawan (rakyat) yang setia pada kebenaran. Erupsi Merapi menjadi manifestasi kemarahan Mbah Petruk. Artinya rakyat tengah marah pada kesewenang-wenangan penguasa. Itulah sebab,munculnya “wajah Petruk” yang menghadap ke kanan di puncak Merapi dipercaya banyak warga masyarakat sebagai tanda bahaya. Tentu saja. Siapa yang tidak percaya dengan bahaya erupsi Merapi? Siapa yang tidak percaya bahaya awan panas? Tapi apakah bahaya itu muncul karena adanya awan berbentuk “wajah Petruk”. Pasti bukan karena itu. Tapi karena awan panas yang dimuntahkan Merapi memang material berbahaya. Karena ketinggian panasnya antara 600 hingga 1000 derajat Celcius awan panas merapi bisa memusnahkan apa pun yang dilewatinya. Gunung Merapi sarat dengan klenik, munculnya Mbah Petruk hanya salah satunya. Itulah fakta yang kita hadapi. Para pengamat sosial memasukkan klenik sebagai bagian dari kearifan lokal. Ibarat kata pepatah, dimana bumi dipijak, disitu langit kita junjung, maka kearifan lokal pun harus dijunjung tinggi. Dalam kasus Merapi, tokoh dunia nyata yang menjadi simbol kearifan lokal adalah Mbah Maridjan. Juru kunci yang mendapat mandat dari Sultan HB IX untuk menjaga Gunung Merapi ini kadang lebih dipercaya oleh masyarakat ketimbang para fulkanolog, yang memantau aktivitas Merapi secara ilmiah. Faktor inilah saya kira yang menjadi penghambat utama mitigasi. Antara klenik dan mitigasi menjadi bertolak belakang. Tidak mengungsinya Mbah Maridjan dianggap sebagai “tanda” Merapi masih bisa dikendalikan. Padahal Mbah Maridjan sendiri menegaskan tidak akan meninggalkan tugas yang telah diamanatkan oleh Sultan HB IX. Bahkan jika yang memerintahkan mengungsi itu seorang Presiden, Mbah Maridjan tidak akan mau,karena mengungsi sama artinya dengan menghianati amanat. Karena setianya pada amanat, Mbah Maridjan pun tewas tersapu awan panas. Dan karena percaya pada klenik, banyak warga masyarakat yang mengikuti langkah Mbah Maridjan. Jika sejak peringatan dini muncul masyarakat dengan segera mengungsi, korban erupsi Merapi tentu tidak akan sebanyak saat ini. Proses meminimalisasi dampak bencana (mitigasi) menjadi tidak maksimal karena kepercayaan masyarakat pada klenik yang masih melekat. Oleh karenanya, menurut saya, Sultan HB X tidak perlu lagi mengangkat juru kunci baru pengganti Mbah Maridjan. Juru kunci Merapi cukup diserahkan pada para vulkanolog dan ahli mitigasi. Selain klenik, yang juga menghambat mitigasi adalah kurangnya kesiap siagaan pemerintah. Tidak adanya alat deteksi tsunami yang akurat –karena dicuri atau rusak— dan tidak adanya fasilitas infrastruktur dan peralatan yang menunjang proses evakuasi, menjadi salah satu faktor makin besarnya jumlah korban di Mentawai. Ini pelajaran berharga buat kita semua, terutama bagi pemerintah.

Leave A Comment