Belakangan ini Pancasila banyak dijadikan topik diskusi. Koran, televisi, kampus (perguruan tinggi), dan ormas ramai-ramai menggelar diskusi mengenai Pancasila. Yudi Latif yang menulis buku ”Negar Parupurna; Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila” laris manis menjadi pembicara dimana-mana.
 
Mengapa Pancasila menjadi topik utama? Terutama disebabkan karena ada anggapan bahwa beragam konflik yang terjadi di tanah air, terutama yang bermotifkan agama, serta merebaknya teror dan isu ”cuci otak” yang diduga melibatkan NII (Negara Islam Indonesia), semuanya disebabkan karena telah hilangnya nilai-nilai Pancasila di tengah-tengah masyarakat. Dihapuskannya pelajaran dan penataran P4 di sekolah, kampus, dan di lembaga-lembaga yang lain dianggap sebagai faktor yang berkontribusi besar terhadap merebaknya fenomena konflik dan kekerasan yang merobek-robek pluralisme dan kebhinekaan. Oleh karena itu banyak kalangan yang mengusulkan agar pelajaran Pancasila dimasukkan (kembali) dalam kurikulum sekolah-sekolah dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
 
Apakah benar dugaan (asumsi) itu, dan apakah tepat pula jalan keluar yang ditawarkan, saya kira masih membutuhkan kajian yang mendalam Jika ternyata asumsinya salah, sudah pasti jalan keluarnya juga salah (tidak tepat).
 
Menurut saya, merebaknya konflik dan patologi sosial di tengah-tenga masyarakat tidak disebabkan oleh faktor yang tunggal. Penyebabnya bisa beragam dan berkelindan satu sama lain. Bisa karena lingkungan, karena sistem pendidikan yang salah, bisa juga karena pemahaman agama yang keliru.
 
Tapi, terlepas dari kenapa dan bagaimana konflik dan patologi sosial terjadi di tengah-tengah masyarakat, saya setuju dengan upaya untuk menghidupkan kembali semangat berpancasila di tengah-tengah masyarakat. Tapi apakah cara menghidupkannya dengan memasukkannya (kembali) ke dalam kurikulum atau tidak, bukan masalah yang penting.
 
Yang paling penting adalah bagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karenanya, yang kita butuhkan bukan anak-anak menghapal Pancasila, atau para guru dan dosen memahami Pancasila. Tak ada gunanya hapalan, gak ada nilainya pemahaman, jika tidak dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
 
Untuk sampai pada tahap aktulisasi, langkah pertama yang diperlukan mungkin bukan menjadikan Pancasila sebagai mata pelajaran/mata kuliah. Tapi bagaimana menjadikan Pancasila sebagai ”milik bersama”. Pancasila kita jadikan sebagai landasan moral yang objektif, yang menjadi milik semua komponen etnis dan agama yang ada di Indonesia.
 
Menjadikan Pancasila sebagai mata pelajaran/mata kuliah tersendiri hanya akan mengisolasi Pancasila dari pelajaran-pelajaran lain. Untuk menjadikan Pancasila sebagai nilai yang objektif, ia harus merasuk ke dalam semua mata pelajaran/mata kuliah. Sebagai contoh, pelajaran agama harus diajarkan dalam perspektif Pancasila sehingga tak menimbulkan dikotomi antara keduanya. Begitu pun pada saat mengajarkan mata pelajaran yang lain.
 
Setelah berhasil diobjektifikasi, disadari atau pun tidak, nilai-nila Pancasila akan terinternalisasi ke dalam jiwa anak didik/mahasiswa. Setelah menginternalisasi maka aktualisasi menjadi keniscayaan. Karena setiap tindakan yang kita lakukan pada dasarnya merupakan proses aktualisasi dari apa yang terpikir dalam otak, dan terdetik dalam benak.
 
Seseorang yang telah mengaktualisasikan Pancasila bisa diidentifikasi, pertama, jika beragama ia tidak eksklusif; menerima kebenaran agama-agama lain sebagai kenyataan yang harus dihormati sebagaimana ia merasa orang lain juga harus menghormati keyakinan agama yang dianutnya.
 
Kedua, dalam politik ia tidak rasis dan mementingkan kepentingan rakyat di atas segalanya karena ia merupakan mandataris rakyat. Ia diberikan kewenangan oleh rakyat untuk memajukan dan menyejahterakan rakyat.
 
Ketiga, jika ia penegak hukum maka ia akan menegakkannya dengan adil, tidak berpihak pada kekuasaan dan uang. Pedang keadilan yang dipegangnya tidak tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Ia berprinsip keadilan harus ditegakkan walau langit akan runtuh.
 
Selain  ketiga hal itu, last but not least, dimana pun berada ia akan bisa menempatkan diri secara proporsional dan senantiasa menjadi teledan bagi sesamanya.

Leave A Comment