Bagi segenap kaum muslimin, bulan Ramadhan ibarat tamu agung yang sangat diharapkan kedatangannya. Ada semacam keyakinan, ketika usia kita sampai pada hari-hari berpuasa maka sama artinya dengan mendapat rahmat dari Allah SWT.

Oleh karena itu sangat wajar jika pada saat tamu ini datang, ada sambutan yang meriah. Kemeriahan itu misalnya sangat kita rasakan,bukan hanya di masjid pada saat waktu shalat tarawih tiba, tapi juga kemeriahan di mal-mal yang menjadi pusat perbelanjaan. Artinya apa?,Di satu sisi ada gejala asketisme yang tercermin dalam keramaian tempat ibadah, tapi di sisi lain juga tampak ada peningkatan konsumerisme. Acara-acara yang ditayangkan televisi, termasuk iklan-iklan yang diselipkan dalam setiap menu acara, semuanya seolah-olah “memprovokasi” agar kita meningkatkan kualitas ibadah seraya tetap menjaga agar pemenuhan kebutuhan sehari-hari terus berjalan atau malah ditingkatkan. Lantas, untuk apa berlapar-lapar puasa jika tak mampu menahan gejolak nafsu birahi disiang hari, nafsu berbelanja, serta mengkonsumsi jajanan secara berlebihan. Maka di sinilah fungsinya peringatan yang pernah disampaikan Rasulullah SAW bahwa begitu banyak orang yang menjalankan puasa namun tak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga Peringatan itu jelas bahwa puasa saya, anda, atau siapa pun bisa berpotensi sia-sia. Kapan puasa menjadi sia-sia? Pada saat kita hanya mampu menahan lapar dan haus namun tak mampu mengendalikan diri dari perbuatan-perbuatan yang tercela dan tak patut dilakukan. Agar puasa tak sia-sia maka yang harus kita lakukan adalah melakukannya baik secara lahiriah maupun batiniah. Puasa lahiriah berupa tidak makan, minum, merokok, dan berhubungan seks dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari. Sedangkan puasa batiniah adalah menjaga diri perkataan dan perbuatan yang keji dan munkar sepanjang hari, tanpa batas. Jika kita merujuk pada kaidah-kaidah fikih maka perkataan keji yang dimaksud antara lain bergunjing, berbohong, mengumpat,dan mencaci-maki orang lain dengan kata-kata kasar dan tidak senonoh. Sedangkan yang dimaksud perbuatan keji adalah setiap tindakan yang melanggar norma-norma kepatutan dan atau menimbulkan kerugian orang lain baik secara individual maupun kolektif. Berbelanja secara berlebihan, menkonsumsi makanan dan minuman secara berlebihan adalah di antara tindakan-tindakan yang tidak patut. Sedangkan korupsi, manipulasi, mencuri, menipu, dan hal-hal yang bisa merugikan orang lain dan masyarakat secara umum itulah yang disebut perbuatan keji dan munkar. Sia-sialah puasa kita jika belum mampu menahan diri dari itu semua. Selain menahan diri dari perbuatan keji dan munkar, yang seyogianya kita lakukan pada saat berpuasa adalah meningkatkan frekuensi dan kualitas ibadah. Semua perbuatan baik akan lebih afdol jika dilakukan pada saat berpuasa. Ada keyakinan bahwa ada imbalan pahala berlipat ganda bagi orang-orang yang berbuat kebajikan. Karena ada janji pelipatgandaan maka banyak di antara kaum muslimin yang berusaha mengeluarkan zakatnya pada saat berpuasa. Yang pergi umroh ke tanah suci pun akan meningkat tajam pada bulan puasa. Demikianlah. puasa memberikan harapan, meningkatkan optimisme karena ada janji-janji Tuhan yang kita yakini akan ditepati, tidak seperti janji para politisi, Tapi puasa juga bisa menjadi sia-sia jika dilakukan tanpa kesadaran penuh, jika puasa dilakukan semata-mata secara lahiriah. Mudah-mudahan puasa kita tidak sia-sia.

Leave A Comment