Melihat situasi perekonomian nasional saat ini, ada banyak alasan yang bisa membuat kita pesimistis, mengeluh, atau bahkan menggerutu sepanjang hari.  Akibat banyak industri–terutama skala kecil dan menengah– yang tidak mampu bertahan, jumlah pengangguran akan meningkat dari waktu ke waktu, begitu pun kemiskinan. Tapi, dengan begitu apakah kita harus menyerah? Tidak. Hidup ini penuh dengan pilihan-pilihan. Jika masih ada pilihan untuk optimistis, mengapa harus memilih pesimistis.

Politik menyalakan lilin yang saya jadikan judul kolom ini adalah salah satu pilihan dalam menghadapi situasi ekonomi dan politik yang tidak menentu seperti saat ini. Pilihan ini saya ambil dari ungkapan,  Eleanor Roosevelt (1884-1962), Ibu Negara yang mendampingi Presiden ke-32 Amerika Serikat, Franklin Delano Roosevelt.

Menurut Eleanor, it is better to light a candle than curse the darkness. Lebih baik menyalakan sebatang lilin daripada mengutuk kegelapan. Banyak orang mengutip kata mutiara ini tapi pada umumnya tidak menyebutkan darimana asal muasal kutipan ini. Eleanor adalah salah satu negarawan perempuan yang banyak melahirkan kata-kata mutiara.

Mengapa politik menyalakan lilin? Karena untuk mencari jalan keluar yang baik dari setiap persoalan adalah pilihan yang bisa dilakukan siapa saja. Jika semua orang mau menempuh pilihan ini niscaya kita akan hidup dalam dunia yang terang benderang. Dan, jika pilihan ini yang ditempuh pemerintah, tentu punya makna politik yang positif bagi masyarakat secara luas.  Saya melihat, peket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan Presiden Jokowi pada awal September ini, meskipun masih banyak yang mengritik, merupakanlangkah yang positif yang banyak ditunggu terutama oleh para pegiat ekonomi.

Mengutuk, mengumpat, memaki, adalah tindakan yang paling mudah dilakukan, apalagi pada saat kita berada dalam kegelapan.  Tapi apakah tindakan itu ada manfaatnya? Sama sekali tidak ada, kecuali hanya menambah kegaduhan dan kesulitan. Tapi, apakah mencari jalan keluar dari setiap kerumitan itu selalusulit? Jawabannya iya bagi mereka yang suk amengeluh (pesimistis), tapi tidak bagi mereka yang tidak suka mengeluh (optimistis)

Ada banyak cara untuk membangun rasa optimistis, pertama, selalu melihat sudut pandang yang positif dalam menghadapi berbagai persoalan. Sekedar ilustrasi, pada saat nilai mata uang kita (rupiah) terhadap dolar Amerika melemah drastis, orang yang optimistis akan melihat ini kesempatan untuk meningkatkan mutu produk-produk dalam negeri agar kita lebih banyak mengekspor daripad amengimpor seperti yang terjadi saat ini. Terpuruknya nilai tukar rupiah adalah tantangan, bukan hambatan.

Dengan kata lain, selalu ada hikmah di balik setiap kejadian.  Kejadian-kejadian yang buruk tidak untuk membuat kita terpuruk.  Zona nyaman adalah suasana yang sering membuat kita terbuai dan lupa diri.  Seperti pada saat kita mendengarkan lagu-lagu klasik yang mendayu-dayu memanjakan telinga, kita bisa tertidur dibuatnya. Berbeda misalnya, pada saat kita mendengarkan suara-suara bising yang memekakkan telinga, kita akan berusaha dengan berbagai cara agar bisa menghindarinya. Dengan begitu, disadari atau tidak, kebisingan itu yang membuat kita kreatif.

Kedua, dengan tidak mengeluh, terutama pada saat berbicara di hadapan publik. Menurut ahli ilmu jiwa (psikolog) pesimisme bisa menular. Orang yang suka mengeluh di depan umum, tidak hanya buruk bagi dirinya, ia juga destruktif bagi lingkungannya. Si pengeluh bisa seperti berita kematian yang bisa menebarkan duka cita keseluruh penjuru.  Atau bahkan seperti epidemi yang mudah tersebar, membuat banyak orang tertular wabah penyakit.

Ketiga, banyak bergaul dengan orang-orang yang selalu optimistis.  Seperti pesimisme, optimism juga menular. Kita akan ikut tersenyum pada saat melihat orang lain tersenyum pada kita. Sebaliknya kita akan sedih pada saat melihat orang lain yang cemberut pada kita. Pada umumnya manusia mudah terbawa oleh suasana yang ada di lingkungannya.

Jika kita tidak bisa bersikap optimistis, cobalah bergaul dengan orang-orang yang optimistis niscaya lambat laun kita akan terbiasa hidup dalam suasana optimistis. Sama seperti pada saat kita ingin pintar tapi tidak mampu sekolah, maka yang bisa kita lakukan adalah bergaul dengan orang-orang pintar,  Bergaul dengan orang-orang pintar akan membuat kitasenantiasa mendengar tutur kata, nasihat, dan paparan-paparan yang mungkin sebelumnya belum kita ketahui.

Keempat, selalu berusaha untuk berbuat yang terbaik walau sekecil apa pun. Jangan pernah berpikir bahwa kita bisa berbuat semuahal semaksimal mungkin. Tuhan menciptakan manusia kelebihan dan kekurangan. Tuhan juga menciptakan manusia dengan bakat dan kemampuan yang berbeda-beda. Jangan memaksakan diri untuk berbuat sesuatu yang kita tidak mampu melakukannya, tapi lakukanlah sesuatu yang bisa kita lakukan. Jika dilakukan secara maksimal, pasti akan menutup banyak hal yang tidak mampu kita lakukan.

Di toko-toko buku atau di perpustakaan, asal mau mencari,banyak kita temukan buku-buku yang berisi nasihat-nasihat para motivator ulung. Dengan banyak membaca buku-buku yang mampu membangkitkan optimis meniscaya akan muncul banyak inspirasi untuk berbuat yang terbaik baik bagi diri kita maupun orang lain.

Menurut Winston Churchill (1874-1965), Perdana Menteri Inggris yang memenangkan Hadiah Nobel Sastratahun 1953, the pessimist sees difficulty in every opportunity, the optimist sees the opportunity in every difficulty. Termasuk yang manakah Anda saatini, orang yang pesimistis atau optimistis? Mau menyalakan sebatang lilin, atau mau terus menerus mengutuk kegelapan?

Leave A Comment