,

Politik kebersamaan adalah politik yang dijalankan dengan menghormati semua golongan dan kepentingan, untuk meraih tujuan yang sama, meskipun melalui jalan dan gerakan yang berbeda-beda.

Dalam bahasa yang lebih popular, politik gotong royong, tapi istilah gotong royong telah menjadi trade mark kekuatan politik tertentu, yang apabila kita salah menafsirkannya bisa jadi masalah.  Oleh karena itu saya lebih suka menggunakan istilah politik kebersamaan. Belum popular tapi bisa ditafsirkan dengan bebas.  Tidak mengandung beban sejarah dan atau ikatan emosional dengan kekuatan politik mana pun.

Politik kebersamaan, sesuai makna generiknya, adalah gerakan politik yang berupanya menyatukan semua kekuatan yang ada, yang datang dari pihak mana pun, tanpa kecuali.  Dalam gerakan ini, kepentingan-kepentingan parokial tidak dinafikan namun dikembangkan untuk merajut kebersamaan.  Hal-hal yang berpotensi memicu konflik antar golongan diubah menjadi energi positif yang bisa mempersatukan.

Apakah mungkin yang negative bisa menjadi positif? Sangat mungkin. Jika kita belajar matematika, negatif (minus) dikalikan negatif (minus) akan menjadi positif (plus) atau (- x – = +). Rumus yang sederhana namun seringkali kita lupakan dalam kehidupan sosial.  Jangankan sesuatu yang dapat memicu konflik, dalam konflik itu sendiripun sejatinya terdapat ruang yang menjadi melting point untuk perdamaian.

Bahkan dalam perang pun tersedia tempat dimana pihak-pihak yang saling membunuh di medan perang itu bisa saling menyapa, dan saling berjabatan tangan. Di pasar mereka saling menyapa dan bertransaksi, dan di ruang perundingan mereka saling berjabatan tangan dan berpelukan.  Jika ada ruang yang positif untuk berdamai mengapa kita harus memanfaatkan ruang negatif untuk berkonflik dan saling menjatuhkan.

Di sinilah pentingnya politik kebersamaan yang bisa menjadi ruang untuk mengekspresikan tindakan-tindakan positif untuk memajukan bangsa.  Perbedaan-perbedaan visi, misi, dan aksentuasi program dari setiap kekuatan politik biarkan ada dan berkembang sesuai jadwal dan ruang lingkup yang telah ditentukan.  Tetapi semua itu tidak harus disuarakan atau dilakukan dengan nada dan tindakan yang bisa menimbulkan kemarahan pihak lain.

Ibarat sejumlah atlit yang tengah berlomba, tentu masing-masing ingin menang dan mengalahkan lawan, tapi semua itu bisa dilakukan dengan berada di track (jalan) masing-masing tanpa mengganggu yang lain, semuanya bisa melaju cepat dalam irama yang sama sehingga menghasilkan pemandangan gerak yang indah untuk ditonton.

Di arena politik, gerakan indah itu bisa dilakukan. Semua kekuatan politik bisa bergerak cepat untuk mengalahkan para pesaingnya.Tapi dalam gerak cepat itu, jika dilakukan dengan negatif, dengan menjegal lawan-lawan politik, sudah pasti akan menimbulkan efek yang negatif pula. Dampak buruknya tidak hanya menimpa kekuatan politik yang bersangkutan (sebagai pelaku), tapi juga akan menimpa kekuatan-kekuatan politik yang lain yang tidak melakukannya.

Ingatlah pepatah, akibat nila setitik akan rusak susu sebelanga. Ada satu saja kekuatan politik melakukan tindakan yang tidak terpuji, akibat buruknya akan menimpa semuanya. Selain itu, tentu saja, yang akan menjadi korban adalah seluruh rakyat, baik yang berafiliasi langsung dengan kekuatan politik itu maupun tidak.

Dalam situasi ekonomi Indonesia yang kian terpuruk, politik kebersamaan penting untuk diketengahkan sebagai solusi.  Secara teoritis, yang bertanggung jawab untuk memperbaiki perekonomian nasional adalah pemerintah karena untuk itulah antara lain mereka dipilih/ditunjuk dan diberi imbalan (gaji). Tetapi secara praktis, semua pihak bisa bertanggungjawab karena kebijakan apa pun yang ditempuh pemerintah tidak akan bisa berjalan efektif tanpa dukungan semua pihak.

Kebijakan-kebijakan pemerintah tidak berada di ruang hampa melainkan bergerak dalam ruang dan waktu. Dalam ruang dan waktu yang sama juga bergerak semua komponen masyarakat seperti kekuatan-kekuatan politik (partai), organisasi kemasyarakatan (ormas), perkumpulan agama, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan lain-lain.

Jika semuanya bergerak masing-masing tanpa memedulikan yang lain sudah pasti akan menjadi gerakan yang sia-sia atau bahkan merusak. Seperti sekumpulan jangkrik yang dimasukkan dalam satu bejana, saling mendorong, menyentil dan menggigit, sehingga semuanya merasakan kesakitan.

Akan tetapi jika semua bergerak dengan memedulikan yang lain, pasti akan menjadi gerakan yang dahsyat baik dalam gerakan yang sama maupun berbeda-beda. Akan tampak serperti orkestra yang masing-masing suara bisa menjadi penunjang suara lainnya.  Inilah praktik politik kebersamaan.  Bahkan dalam gerakan yang berbeda-beda pun ada kebersamaan.  Ada tujuan yang bisa diraih secara bersama-sama, yakni Indonesia yang maju, makmur, danadil.

Leave A Comment