Ketika Ramadhan berlalu dari hadapan kita, banyak harapan disampaikan melalui berbagai media, intinya semua menginginkan agar bisa berjumpa lagi dengan Ramadhan tahun depan atau tahun-tahun berikutnya. Artinya, semua ingin berumur panjang dan menjumpai kembali bulan yang diyakini penuh ampunan dan berkah.

Semua orang menginginkan kebaikan tapi sayangnya tidak semua orang mau menebarkan kebaikan. Semua orang mengharapkan ampunan dan berkah tapi sayangnya tidak semua orang melakukan tindakan-tindakan konstruktif yang bisa menghapus kesalahan dan mendatangkan berkah.

Antara harapan dan kenyataan masih terdapat kesenjangan. Semakin lebar kesenjangan itu, semakin buruk kualitas kemanusiaan kita. Karena tinggi rendahnya kualitas kemanusiaan bisa diukur dari sejauh mana komitmen kita pada penciptaan suasana yang konstruktif bagi kemanusiaan. Semakin banyak kita melakukan tindakan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip hidup yang baik dan manusiawi maka semakin rendah pula nilai kemanusiaan kita.

Menjaga semangat Ramadhan setelah berlalunya Ramadhan, yang paling penting adalah bagaimana menjaga kualitas kemanusiaan kita dengan cara mengimplementasikan semua hal yang kita yakini membawa berkah kemanusiaan. Karena inti dari ibadah Ramadhan, bukan terletak pada huas dan laparnya yang disebabkan karena berpuasa, tapi pada sejauh mana nilai-nilai Ramadhan itu tetap terjaga sepanjang hayat.

Salah satu metode yang paling banyak ditempuh untuk menjaga semangat Ramadhan adalah dengan menggelar acara halal bihalal. Dilihat dari substansinya, hahal bihalal memiliki makna yang sama dengan silaturrahim (biasanya diganti dengan kata silarurrahmi). Silaturrahim berasal dari bahasa Arab dan memang digunakan secara popular di masyarakat Arab. Arti harfiahnya, menyambung tali persaudaraan.

Kalau kita cermati, budaya mudik (kembali ke udik) yang terjadi secara massif pada saat setiap menjelang Idul Fitri tiba menjadi contoh paling nyata dari kegiatan silaturrahim. Dalam mudik, terjadi proses penyambungan persaudaraan yang sebelumnya terpisah karena jarak yang jauh di perantauan.

Kesibukan manusia dengan segala motifnya –baik positif maupun negatif- telah memisahkan manusia dari rumpun keluarganya, bahkan kadang membuatnya terlepas dari orbit kemanusiaannya. Momentum Ramadhan (yang arti harfiahnya “membakar”) dengan menjalankan puasa sebulan penuh menjadi media penyadaran agar manusia kembali ke orbitnya.

Dengan berpuasa, semua energi negatif (aspek-aspek haram) “dibakar” dan menyisakan energi positif (aspek-aspek halal). Di sinilah barangkali letak relevansi makna halal bihalal. Orang-orang yang berpuasa (secara benar sesuai ketentuan), unsur-unsur “haram” yang ada dalam dirinya dibersihkan sehingga menjelma menjadi “halal”. Bila mereka bersua satu sama lain (bersilaturrahim) maka terjadilah proses “halal bihalal” yang secara harfiah berarti “yang halal” bertemu “yang halal”.

Halal bihalal mempunyai implikasi yang positif bagi kekinian masyarakat Indonesia. Dalam setiap acara halal bihalal, silaturrahim menjadi keniscayaan. Seperti disebutkan dalam suatu hadits Rasulullah SAW, di antara fungsi silaturrahim adalah untuk memanjangkan usia dan memperbanyak rizki.

Panjang usia, menurut sebagian besar ulama merupakan makna metaforis. Yang melakukan silaturrahim bukan lantas usianya dipanjangkan melampaui takdir yang telah ditetapkan.  Tapi  ia akan dikenang masyarakat dari generasi ke  generasi,  karena keluhuran budinya mentradisikan silaturrahim, menjalin hubungan baik dan menebar kebaikan antar sesama manusia.

Sementara banyaknya rizki  merupakan konsekuensi logis. Karena punya ikatan persaudaraan dengan setia porang, meniscayakan  dirinya selalu menemukan kemudahan,  walaupun  pada  saat-saat kekurangan materi. Karena manusia yang paling baik pada dasarnya adalah mereka yang selalu berupaya menolong sesamanya.

Dengan halal bihalal, manusia, baik secara  individual maupun kolektif,  dituntut untuk  saling memaafkan,  bersedia  membuka diri, saling instrospeksi dan menghormati  satu sama  lain. Pejabat tinggi mau membuka rumahnya untuk dimasuki siapa saja yang akan bersilaturrahmi. Para konglomerat mau membuka kunci gudangnya untuk membantu  sesamanya.

Rutinitas yang telah merobotkan fungsi manusia dihentikan  sejenak,  untuk sekedar merenungkan kembali hakikat kemanusiaan  melalui aktivitas halal bihalal. Saling bertutur sapa, tukar  pengalaman, saling menasehati satu sama lain dengan penuh kesabaran dan kebajikan, saling berjabat tangan untuk melebur dosa dan kesalahan antar sesama.

Dalam halal bihalal, nilai-nilai kemanusiaan berusaha dijalin dengan cara berkomitmen untuk tetap saling menjaga hubungan antar sesama. Dan hubungan itu hanya bisa dilanggengkan manakala kita tetap berupaya melakukan kebaikan dan menolak setiap upaya dan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Leave A Comment