Ramadhan kembali menghampiri kita. Tidak diragukan lagi, bulan suci ini banyak mengandung keistimewaan dan hikmah. Keistimewaan Ramadhan antara lain adanya pelipatgandaan pahala bagi siapa pun yang menjalankan ibadah, baik yang diwajibkan secara formal (wajib), maupun yang berupa kebajikan-kebajikan yang dianjurkan (sunnah). Dan, dalam bulan ini, setan-setan dibelenggu sehingga makhluk jahat ini tidak bisa dengan leluasa menggoda manusia.

Tapi, dalam konteks sosiologis, terutama jika kita amati fenomena yang terjadi di sekitar kita, keistimewaan Ramadhan itu ternyata membawa “sisi lain” yang sedikit banyak mengganggu keistimewaan, atau bertolak belakang dengan kemuliaan Ramadhan.

Di antara “sisi lain” yang dimaksud adalah, pertama, jumlah pengemis meningkat tajam di bulan Ramadhan, dengan kreatifitas yang berfariasi. Kita sadar bahwa memang masih banyak orang yang “berpuasa” jauh lebih lama, bahkan mungkin di antaranya ada yang “berpuasa” sepanjang usia. Mereka melakukan itu bukan karena tuntutan syariat agama. Mereka terpaksa melakukannya karena kemiskinan yang mendera.

Maka, salah satu hikmah puasa yang seharusnya bisa langsung dirasakan adalah tumbuhnya kepedulian, kepekaan, dan solidaritas sosial. Karena itu pula, Rasulullah SAW pernah bersabda: “Barangsiapa memberi hidangan berbuka pada orang yang berpuasa maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.”

Mengapa banyak orang berlomba-lomba memberikan makanan dan minuman untuk berbuka baik melalui media “buka bersama” di masjid-masjid atau dengan membagi-bagikannya di tempat-tempat umum, antara lain karena dorongan dari hadits Rasulullah tersebut. Bayangkan betapa banyak pahalanya jika seseorang memberi makanan berbuka pada ratusan atau bahkan ribuan orang. Bulan Ramadhan memang benar-benar menjadi lahan subur bagi siapa pun yang ingin menanam kabajikan.

Tapi, karena menyadari banyaknya orang yang ingin bersedekah pada bulan Ramadhan maka pada bulan ini pula banyak orang-orang “miskin” dadakan memanfaatkan kesempatan Ramadhan untuk meraih keuntungan berlipat ganda tanpa bekerja keras. Karena mereka tahu, seperti berbuat kebajikan, mengemis di bulan suci pun “pahala” (baca, pendapatannya) jauh lebih meningkat. Maka jumlah pengemis di kota-kota besar pun meningkat tajam.

Kedua, “sisi lain” yang juga mengganggu keistimewaan Ramadhan adalah meningkatnya agresifitas kelompok-kelompok tertentu yang seolah-olah mendapatkan mandat dari Tuhan untuk menjadi pengawas pelaksanaan syariat Islam. Mereka melakukan sweeping di tempat-tempat tertentu dan memberikan sanksi  kepada mereka yang tidak berpuasa, atau kepada mereka yang berjualan makanan dan minuman di siang hari Ramadhan. Tak jarang kita temukan, kelompok yang mengibarkan bendera ormas keagamaan ini merusak barang dagangan dan menghancurkan mata pencaharian orang-orang yang seharusnya mendapatkan perlindungan hukum dari negara.

Dengan dalih membantu polisi, kewenangan mereka bahkan melebihi polisi karena polisi tidak pernah melakukan penghancuran properti milik warga yang dianggap bersalah, apalagi yang tidak bersalah. Orang-orang yang tak berpuasa itu belum tentu bersalah karena bisa jadi mereka punya keyakinan lain yang tidak wajib berpuasa di bulan Ramadhan. Bahkan bagi seorang muslim pun banyak di antaranya yang tidak diwajibkan puasa seperti mereka yang dalam perjalanan (musafir), yang fisiknya lemah baik karena usia tua atau menderita penyakit tertentu, atau para pekerja otot yang dalam menunaikan tugasnya membutuhkan energi yang banyak seperti tukang becak, pesepak bola, dan lain-lain.

Untuk orang-orang yang mendapatkan keringanan (rukhshah) itu dibolehkan mengganti puasanya di hari yang lain, atau diganti dengan membayar fidyah memberi makan orang-orang miskin dengan ukuran sesuai ketentuan syariat Islam. Jadi, mensweeping mereka merupakan tindakan yang tidak manusiawi karena banyak di antara mereka tidak berpuasa disebabkan alasan-alasan kemanusiaan.

Maka pernyataan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menjadi penting bahwa menurutnya, yang harus dihormati pada bulan Ramadhan bukan hanya yang berpuasa melainkan juga yang tidak berpuasa.  Meskipun banyak kalangan yang tidak setuju, saya kira pernyataan ini patut kita apresiasi. Menghormati yang tidak puasa sama pentingnya dengan menghormati yang puasa. Karena baik yang puasa maupun tidak, semua merupakan manusia ciptaan Tuhan yang patut dihormati.

Ketiga, yang juga cukup mengganggu keistimewaan Ramadhan adalah meningkatnya konsumerisme yang berefek pada naiknya harga-harga kebutuhan pokok. Aneh bin ajaib, pada saat banyak orang berpuasa justru kebutuhan makanan dan meniman meningkat tajam. Apakah penyebabnya karena banyak orang yang tak bisa makan pada hari biasa karena didera kemiskinan, pada saat Ramadhan mereka bisa makan bahkan secara berlebihan? Wallahu a’lam. Yang jelas, kalau kita cermati pola puasa di negeri ini sepertinya hanya memindahkan jadwal waktu makan, dari sepanjang siang menjadi sepanjang malam. Kebutuhannya meningkat karena kuntitas yang dimakan pun cenderung meningkat.

Demikianlah di antara “sisi lain” Ramadhan yang patut kita cermati.

Leave A Comment