Hari ini, (Selasa, 05/11/2013) seluruh umat Muslim memperingati tahun baru Hijriah, penanda permulaan kalender Islam yang dimulai sejak peristiwa hijrah, yakni kepindahan Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya dari kota Makkah ke kota Yatsrib yang kemudian diubah namanya menjadi kota Madinah. Arti kata “madinah” adalah kota yang berperadaban.

Hijrah, sebagaimana banyak diuraikan para ahli sejarah peradaban Islam, merupakan peristiwa perpindahan yang berbentuk fisik dan non-fisik. Fisik dalam arti kepindahan secara geografis dari Makkah ke Yatsrib, sedangkan non-fisik berarti perpindahan sistem, dari situasi yang sudah baik menuju yang jauh lebih baik. Ada juga yang menyebutnya transformasi sosiologis dan politis dari yang lama menuju yang baru secara konstruktif.

Peristiwa hijrah ini penting kita kaitkan dengan peristiwa Pemilihan Umum (Pemilu) karena keduanya memiliki makna mendalam, sebagai momentum yang dijadikan pangkal tolak dari suatu era ke era lainnya. Bisa juga dikatakan sebagai garis yang menandai kebangkitan peradaban yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Hijrah yang dipraktikkan Nabi dan para sahabatnya, benar-benar dijadikan momentum untuk melakukan perbaikan di segala bidang. Baik secara struktur maupun kultur, kehidupan umat Islam terus berkembang ke arah yang lebih baik, lebih maju, dan lebih beradab.

Sebagaimana peristiwa hijrah, Pemilu juga bisa dijadikan momentum untuk melakukan transformasi sosiologis dan politis. Perlu dicatat, sebagai suatu peristiwa, transformasi bisa bermakna netral, dalam arti bisa ke arah yang lebih baik, atau bisa juga sebaliknya, dari yang sudah baik menjadi buruk atau sangat buruk.

Jika kita ingin menjadikan hijrah sebagai model atau cermin transformasi maka proses Pemilu 2014 harus benar-benar bisa dijadikan momentum transformasi kultural dan struktural ke arah yang konstruktif dan berkemajuan. Pemilu harus dijadikan “starting point” menuju peradaban baru yang bermartabat dan menyejahterakan.

Bagaimana caranya? Pertama, bagi para kandidat, seyogianya mengisi kegiatan kampanye tak sekedar untuk menarik simpati atau untuk mendulang suara sebanyak-banyaknya, tapi yang lebih penting adalah dengan melakukan pendidikan politik yang baik. Hal ini perlu diketengahkan mengingat banyak kita temukan model-model kampanye yang tidak mendidik, misalnya dengan semata-mata mengandalkan money politics.

Sebagai bagian dari aktor yang terlibat langsung dalam Pemilu, para kandidat mempunyai banyak cara untuk mendidik rakyat, misalnya dengan berkata jujur dalam kampanye, tidak mengumbar janji-janji yang tidak realistis, dan tidak melanggar semua rambu-rambu yang ditetapkan penyelenggara Pamilu.

Kedua, bagi para pemilih seyogianya bisa memilah mana kandidat yang baik dan mana yang buruk. Dengan memilih yang baik, para pemilih sudah ikut berperan dalam menjadikan Pemilu sebagai bagian dari proses transformasi kelembagaan politik ke arah yang lebih baik.

Pemilu merupakan kesempatan emas untuk mengganti para pejabat yang buruk (korup, pemalas, dan tidak aspiratif) dengan pejabat-pejabat baru yang jauh lebih baik. Setiap  warga negara yang mempunyai hak pilih punya kewenangan yang sama dan dijamin undang-undang untuk ikut serta berperan dalam proses pergantian ini.

Ketiga, yang tidak kalah penting, dalam proses Pemilu, harus ada kemauan kuat dari seluruh komponen yang terlibat untuk membangun sistem yang baik, dimulai dari perumusan undang-undang, pemilihan para penyelenggara Pemilu (anggota KPU, Bawaslu, Panwaslu, dan lain-lain), pengaturan jadwal kampanye, tatacara kampanye, dan semua proses yang harus dilalui dalam Pemilu, harus dilakukan dengan cara-cara yang baik dan bermartabat.

Keempat, setelah Pemilu berlangsung, proses transformasi selanjutnya harus diarahkan pada upaya pembentukan sistem politik yang kondusif untuk melakukan semua langkah yang konstruktif dalam memajukan bangsa dan negara. Tindak lanjut pembentukan sistem yang baik ini penting karena sebagai bagian dari proses transformasi, Pemilu tidak berhenti pada hari “H” (pencoblosan), tapi juga bagaimana kelanjutannya.

Ada pepatah yang mengatakan, merebut kemenangan itu sulit, tapi mempertahankan kemenangan jauh lebih sulit. Proses memenangkan Pemilu sulit, tapi yang lebih sulit lagi adalah bagaimana mengisi kemenangan itu dengan membangun sistem yang baik. Ketika Pemilu mampu kita jadikan sebagai pijakan transformasi sosial politik yang konstruktif itulah pada hakikatnya kita tengah menyelaraskan dan bisa menyebut Pemilu sebagai keniscayaan untuk berhijrah menuju sistem sosial dan politik yang jauh lebih baik.

Leave A Comment