1-abad-muhammadiyah

Minggu, (18/11/2012) Muhammadiyah memasuki usia satu abad. Organisasi yang didirikan  KH Ahmad Dahlan, 18 November 1912 di Yogyakarta ini telah memasuki usia yang sangat matang. Secara semantik, makna kematangan sangat terkait dengan kedewasaan dan kemandirian. Kedewasaan biasanya mengacu pada usia, dan kemandirian mengacu pada sikap dan bagaimana hubungannya dengan pihak lain. 

Bicara usia barangkali sudah tak lagi relevan karena satu abad sudah melampaui terminologi kedewasaan. Yang masih relevan dibahas adalah soal kemandirian, mandiri dalam arti sikap dan ketidaktergantungan pada pihak lain. Karena Muhammadiyah menjadi bagian dari gerakan civil society maka pihak lain yang dimaksud adalah pemerintah.

Banyak kalangan mengaitkan kemandirian Muhammadiyah dengan kemampuan secara ekonomi. Indikatornya pada saat menggelar acara-acara keorganisasian bisa membiayai sendiri, tanpa bantuan pihak lain. Penilaian ini sumir karena kemandirian dilihat dari sudut yang sangat sempit.

Secara lebih luas, kemandirian bermakna kemampuan memerankan diri secara proporsional dalam menjalin hubungan-hubungan sosial, ekonomi dan politik. Dalam hubungan sosial, ekonomi dan politik ada keniscayaan saling membutuhkan, ada interdependensi antara Muhammadiyah dan pemerintah.

Sepanjang interdependensi dibangun atas prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan, saya kira tak ada pihak yang kehilangan kemandirian. Seseorang telah kehilangan kemandirian bila ia melakukan relasi dengan pihak lain dalam posisi bergantung secara mutlak, dalam arti ia tak bisa hidup tanpa bantuan pihak lain sementara pihak lain itu tidak membutuhkan apa-apa dari dirinya. Tapi ia tetap punya kemandirian bila pihak lain juga membutuhkan sesuatu dari dirinya, dan ia tetap bisa hidup tanpa bantuan dari pihak lain itu. Relasi interdependensi semacam inilah yang kita maknai dengan kedewasaan.

Bila kemandirian kita maknai seperti itu maka sejauh ini Muhammadiyah sudah cukup mandiri. Dalam hubungan dengan pemerintah, atau pihak mana pun, selalu ada timbal balik kepentingan. Muhammadiyah membutuhkan bantuan pemerintah, tapi tanpa bantuan pemerintah pun Muhammadiyah tetap bisa hidup, demikian pula pemerintah tetap bisa berjalan tanpa ada bantuan dari Muhammadiyah.

Tapi antara Muhammadiyah dan pemerintah ada interdependensi. Muhammadiyah tergantung pada pemerintah karena faktor-faktor yang bersifat administratif seperti keabsahan kelembagaan dan lain-lain. Pemerintah juga sangat membutuhkan bantuan Muhammadiyah karena sejauh ini pemerintah belum mampu menyediakan sarana pendidikan dan kesehatan kepada seluruh warga negara. Amat besar tugas-tugas pemerintah kepada warga negaranya yang diambil alih oleh Muhammadiyah.

Karena pengambil alihan tugas inilah maka seyogianya sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk ikut membantu menyediakan fasilitas (finansial dan infrastruktur) kepada Muhammadiyah. Karena merupakan kewajiban, tanpa diminta pun seharusnya bantuan itu harus diberikan. Dan yang lebih penting lagi, bantuan yang diberikan tidak ada sangkut pautnya dengan konsesi sikap politik. Meskipun dibantu Muhammadiyah tidak harus selalu mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah.

Dalam hal sikap politik, Muhammadiyah harus tetap konsisten menjadi bagian dari civil society yang kritis dan konstruktif. Kritis terhadap setiap kebijakan yang tidak sejalan dengan visi dan misi Muhammadiyah; terhadap kebijakan yang tidak pro-rakyat; dan terhadap kebijakan-kebijakan yang cenderung bertentangan etika dan moralitas publik.

Konstruktif dalam arti setiap kritik yang disampaikan Muhammadiyah bukan bertujuan untuk menjatuhkan pemerintah, melainkan untuk meluruskan agar tetap selaras dengan kepentingan rakyat. Karenanya, dalam setiap kritik yang disampaikan senantiasa disertai usulan jalan keluar ke arah yang lebih baik.

Bersama komponen civil society yang lain, Muhammadiyah tak pernah berhenti bergerak melakukan pendidikan politik, melakukan pembaruan-pembaruan nilai yang menjadi acuan dalam menyikapi setiap situasi, dan menyikapi setiap kebijakan politik yang ditempuh pemerintah. Sesuai dengan lambangnya, “Sang Surya”, Muhammadiyah tiada henti menyinari negeri.

 

Leave A Comment