Puasa pada hakikatnya merupakan bentuk perjuangan yang berat (jihad). Karena yang diperjuangkan dalam puasa tak sekedar bersifat jasmaniah seperti menahan lapar, haus, merokok, dan bersenggama di siang hari. Yang jauh lebih penting dalam puasa adalah berjuang melawan nafsu.

Pada saat baru kembali dari medan tempur (Perang Badar), Rasulullah SAW mengatakan “kita baru kembali dari jihad kecil menuju jihad akbar”. Para sahabat lantas bertanya: “apa yang paduka maksud dengan jihad akbar?”. “Jihad akbar adalah perang melawan hawa nafsu,” jawab Rasulullah.

Seperti kita ketahui dari tarikh (sejarah) Islam, Perang Badar dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya pada bulan Ramadhan. Oleh karena itu, penegasan Rasulullah tentang jihad akbar tidak bisa dilepaskan dari kewajiban puasa bagi kaum muslimin. Inti puasa adalah melawan nafsu, dan melawan nafsu disebut jihad akbar karena sangat sulit dilakukan.

Kalau cuma menahan lapar dan haus sepanjang siang, semua orang bisa melakukannya. Anak-anak kelas satu Sekolah Dasar yang usianya antara 6-7 tahun pun mampu. Tapi apakah mereka bisa menahan amarah? Tidak bisa, bahkan orang dewasa seperti kita pun belum tentu bisa.

Oleh karena itu wajar jika Imam Ghazali mengklasifikasi puasa menjadi tiga tingkatan. Pertama, puasa ‘umum yang fungsinya sekadar menahan lapar dan dahaga. Disebut ‘umum karena hanya bisa dilakukan oleh orang-orang biasa (awam) dengan tingkat keberagamaan dan keimanan yang biasa-biasa saja.

Kedua, puasa khusus yang selain menahan lapar dan dahaga, juga disertai menahan diri dari ucapan, pendengaran, dan tindakan-tindakan yang tidak terpuji. Kata-kata kotor/jorok yang tidak berguna, kata-kata yang menyakitkan orang lain seperti mengumpat, mencela, menghina, dan mencaci-maki, serta membicarakan orang tentang hal-hal yang tidak disukainya (ghibah), semuanya tidak boleh dilakukan dalam puasa.

Mendengarkan gunjingan, cacian, ungkapan-ungkapan kotor, serta mendengarkan lantunan musik atau lagu-lagu yang menghanyutkan sehingga membuat pendengarnya lupa diri, juga tidak diperkenankan dalam puasa.

Begitu pun tindakan/perbuatan yang tidak layak dilakukan seperti menyia-nyiakan waktu, bertengkar, dan menghibur diri dengan hiburan-hiburan yang bisa membangkitkan syahwat tidak boleh dilakukan dalam puasa. Inilah sebab mengapa pada bulan Ramadhan, tempat-tempat hiburan yang bisa memanjakan fisik dan membangkitkan syahwat tidak boleh beroperasi/buka. Gunanya untuk menghormati orang yang sedang berpuasa.

Puasa khusus, kata Imam Ghazali, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang shaleh yang kuat imannya, yang rajin ibadahnya, dan senantiasa mengerjakan amal-amal kebajikan (yang diajurkan agama) dalam kehidupan sehari-harinya.

Ketiga, adalah puasa khususil khusus, yakni puasa yang khusus bagi orang-orang yang khusus. Ini merupakan puasa gabungan spesifikasi ‘umum dan khusus ditambah upaya menjaga diri dari pikiran-pikiran yang tidak terpuji serta senantiasa mengingat Allah.

Kalau puasa ‘umum dilakukan oleh ordinary persons (orang kebanyakan), puasa khusus hanya bisa dilakukan oleh very important persons (VIP) maka puasa khususil khusus hanya bisa dilakukan oleh very very important persons (VVIP), yakni para Nabi, Rasul, muttaqin dan muqarrabin.

Lantas pada tingkatan mana puasa kita? Sulit diketahui. Kita tak bisa menuduh orang lain puasanya buruk atau kurang sempurna; kita tak bisa menilai orang lain puasanya baik atau sangat baik. Kita juga tak bisa mengklaim puasa yang kita jalankan lebih baik dari orang lain.

Orang yang sedang shalat bisa kita lihat gerakan-gerakannya, bisa kita dengar bacaan-bacaan doanya. Begitu pun orang yang sedang melaksanakan ibadah haji. Dengan begitu kita bisa menilai apakah gerakan dan bacaannya benar atau tidak.

Orang yang sedang membayar zakat pun bisa kita lihat tindakannya, dan seberapa besar dana yang diberikan pada fakir-miskin bisa kita hitung nominalnya. Tapi siapa yang bisa menghitung kadar puasa? Hanya Allah yang tahu.

Kita bisa berpura-pura puasa di hadapan siapa pun tapi tak bisa berpura-pura dihadapan Allah. Kita bisa berpura-pura tidak bernafsu di hadapan siapa pun tapi tak bisa dihadapan Allah. Itulah sebab mengapa Allah berfirman bahwa “puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan mengganjarnya”.

Puasa adalah bentuk ibadah yang sulit diidentifikasi. Inilah keistimewaannya dibanding ibadah-ibadah yang lain. Dan kita juga tak bisa menilai kadarnya. Yang bisa kita lakukan hanya berupaya agar bisa berpuasa sebaik-baiknya.

Leave A Comment