world-cup-2014-600x337

Pemilihan presiden (Pilpres) 2014 berbarengan dengan pelaksanaan Piala Dunia, perhelatan sepakbola paling ditunggu dan diminati oleh seluruh penduduk dunia, terutama bagi mereka yang hobi sepakbola, termasuk yang sekadar mengamati dan menonton.

Perhelatan Piala Dunia menjadi pelajaran penting baik bagi capres-cawapres yang tengah berkompetisi menuju Istana, maupun bagi para pendukungnya. Pertama, soal kesiapan mental. Mental pemain dan para pendukungnya harus padu untuk suatu saat bisa menerima kemenangan tanpa kejumawaan, atau menerima kekalahan dengan lapang dada.

Mental capres-cawapres dan para pendukungnya harus benar-benar siap mengahadapi segala kemungkinan yang terjadi baik pada saat kampanye maupun pada saat hari pencoblosan dan kemungkinan sengketa di Mahkamah Konstitusi (MK) ketika muncul gugatan. Kesiapan mental, terutama pada saat kalah berkompetisi sangat penting karena berkaitan erat dengan keutuhan sebagai bangsa.

Kedua, soal usaha, dedikasi, dan sportivitas.  Para peserta Piala Dunia sejak jauh-jauh hari mempersiapkan diri, dengan berlatih, dan mengikuti ajang uji coba. Artinya, saat perhelatan sudah berlangsung, sudah tidak ada lagi coba-coba, semuanya nyata, dengan lawan yang nyata. Pada situasi demikian, yang dibutuhkan hanyalah usaha, dedikasi, dan sportivitas.

Yang harus dilakukan capres-cawapres dan para pendukungnya saat ini hanyalah upaya dan dedikasi. Di samping itu, yang lebih penting adalah menjunjung tinggi sportivitas. Kampanye hitam yang banyak berkeliaran, terutama di media sosial dan beredarnya tabloid “Obor Rakyat”  menunjukkan kita belum siap menjunjung tinggi sportivitas.

Ketiga, apabila usaha, dedikasi, dan sportivitas sudah dijunjung tinggi, apa pun yang terjadi di lapangan harus diterima dengan lapang dada. Situasi lapangan sepakbola tidak jauh berbeda dengan situasi di medan Pilpres. Apa pun bisa terjadi di lapangan. Pihak yang diunggulkan bisa benar-benar menang, bisa juga kalah. Ada banyak hal yang bisa mempengaruhi kemenangan atau kekalahan tim, selain kualitas pemain, kerjasama tim di lapangan juga sangat penting.

Pada laga-laga awal Piala Dunia, kita bisa melihat dengan jelas, tim Spanyol yang diunggulkan pada saat menghadapi Belanda, ternyata kalah telak 1-5. Begitu pun pada laga berikutnya saat menghadapi Chile yang membuat La Furia Roja harus angkat koper lebih awal. Padahal kita tahu, selain juara bertahan, Spanyol adalah pemegang tropi Piala Eropa, dan menduduki peringkat pertama versi FIFA.

Pelajaran lain juga bisa kita lihat pada saat tim Ghana menghadapi Amerika Serikat. Di tim Ghana bertabur bintang, ada Sulley Muntari (Inter Milan), Kevin-Prince Boateng (Schalke04), Michael Essien (AC Milan), dan Gyan Asamoah yang semuanya bersinar di Liga Eropa. Tapi di laga yang berlangsung 16 Juni 2014 di Estadio das Dunas, Natal, tim AS berhasil menundukkan Ghana. Dengan modal semangat untuk bangkit, pada laga berikutnya, Ghana berhasil menahan laju Der Panzer (tim Jerman) dengan skore imbang 2-2.

Tim yang bagus, dengan materi pemain yang bagus, jika tidak terorganisasi dengan baik akan dikalahkan oleh tim yang biasa-biasa saja namun dikelola dengan baik. Kerjasama dan keutuhan di lapangan sangat penting untuk menjaga gempuran lawan. Kegagalan menjaga keutuhan dan kerjasama akan menjadikan tim porak poranda. Masing-masing bermain sendiri tanpa terkoordinasi dengan baik. Akibatnya, banyak tumpang tindih, tidak efisien. Banyak serangan tajam tapi sia-sia karena mudah ditebak dan dihalau pihak lawan.

Begitu pun dengan capres-cawapres dan tim pendukungnya. Dari segi visi, misi, dan program kerja dari kedua pasangan semuanya baik. Dari segi tokoh yang ditampilkan juga baik, punya kapasitas, dan layak menjadi pasangan presiden dan wakil presiden. Tapi semua itu akan sia-sia (bisa kalah) jika tidak dikelola dengan baik.

Masyarakat, atau lebih tepatnya rakyat yang akan memilih, bukan sekumpulan orang bodoh yang bisa dibohongi. Rakyat setiap hari, bahkan setiap jam dan menit, terus memantau apa pun yang dilakukan capres-cawapres dan timnya. Cara-cara kampanye yang ditempuh, apakah dilakukan secara elegan atau dengan cara-cara yang tidak elegan, semua dalam pantauan rakyat.

Keterbukaan informasi membuat rakyat begitu mudah mengakses berita apa pun yang ditempuh capres-cawapres dan para pendukungnya. Langkah-langah yang positif akan direspon dengan imbalan yang positif, dengan ikut mengampanyekan dan memilihnya. Dan langkah-langkah yang buruk juga pasti akan direspon secara buruk pula. Yakinlah, tim pendukung capres-cawapres yang gemar melakukan kampanye hitam akan memperoleh imbalan yang berakibat buruk.

Itulah hukum besi yang berlaku pada setiap kompetisi, kecurangan akan diganjar dengan hukuman yang menyebabkan tim yang berbuat curang menuai kekalahan. Kecurangan yang diperbuat Pepe (Portugal) hingga diusir dari lapangan, membuat Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan kalah telak dari tim Jerman (0-4).

Apa yang dialami tim Portugal pada laga babak penyisihan di Grup G Piala Dunia 2014 itu bukan tidak mungkin akan terjadi juga pada salah satu tim capres-cawapres pada Pilpres 2014. Dalam setiap kompetisi, etika harus dijunjung tinggi. Sportivitas dalam upaya meraih kemenangan jauh lebih penting dari kemenangan itu sendiri. Karena kemenangan yang diraih tanpa etika akan menjadi catatan buruk yang akan mengotori sejarah.

Leave A Comment