Halal bi Halal, menurut Prof Quraish Shihab, adalah istilah “keagamaan”yang khas Indonesia. Istilah ini diambil dari bahasa Arab namun orang Arab sendiri mungkin tidak paham dengan maknanya karena pada dasarnya di Arab tak ada istilah “Halal bi Halal” , yang ada “silaturrahim”.

Apa pun istilahnya, Halal bi Halal merupakan kegiatan yang sengaja dilakukan umat Muslim setelah merayakan Idul Fitri. Inti dari Halal bi Halal adalah pertemuan, atau sekadar pesta kecil untuk menyambung tali persaudaraan agar yang belum kenal menjadi kenal, yang sudah kenal menjadi akrab, dan sudah akrab semakin diakrabkan.

Halal bi Halal merupakan tradisi yang baik untuk menindaklanjuti Idul Fitri, karena makna Idul Fitri adalah “kembali ke fitrah”. Fitrah yang dimaksud adalah “asal kejadian manusia”. Karena asal kejadian manusia itu suci maka banyak orang mengartikan Idul Fitri sebagai “kembali ke kondisi yang suci tanpa dosa”. Pengertian ini tak salah, tapi kurang tepat.

Betul bahwa puasa diyakini dapat menghapus dosa-dosa yang telah dilakukan manusia, tapi puasa seperti apa yang bisa berfungsi radikal semacam itu? Menurut hadits Rasulullah SAW, puasa yang bisa menghapus dosa adalah yang dilakukan dengan penuh keimanan dan niat yang sungguh-sungguh untuk mencegah diri dari perbuatan-perbuatan yang didorong oleh nafsu kemanusiaan.

Saya kira, puasa semacam itu hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang menurut katagori Imam Ghazali, “khawas al-khawas” yakni orang yang punya keimanan tingkat tinggi, yang betul-betul mampu menjaga semangat puasanya sepanjang hayat. Apakah orang-orang biasa seperti kita bisa sampai pada tahapan itu? Kita hanya bisa berrharap. Selebihnya kita serahkan sepenuhnya kepada Allah.

Makna Idul Fitri yang paling masuk akal menurut saya adalah “kembali ke asal kejadian/penciptaan manusia”. Untuk apa manusia diciptakan? Ada dua fungsi pokok, yakni untuk beribadah dan untuk saling kenal-mengenal atau menyambung tali persaudaraan (ta’aruf, silaturrahim).

Dengan melihat dua fungsi itu, kegiatan Halal bi Halal menjadi penting. Ibadah yang kita lakukan selama bulan Ramadhan  baru bisa sempurna sesuai “fitrah” pada saat ditindaklanjuti dengan upaya menyambung tali persaudaraan. Karena ibadah dan menyambung tali persaudaraan adalah dua fungsi penciptaan manusia yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Itulah sebab, kenapa pada saat Idul Fitri diajurkan untuk saling berjabat tangan. Gunanya tak sekadar untuk saling memaafkan, lebih dari itu untuk saling mengakrabkan.

Di era modern dimana hubungan kemanusiaan sudah seperti mesin, terpola secara mekanistis, untuk menciptakan suasana keakraban bukanlah perkara mudah. Apalagi, dalam konteks Indonesia yang kondisi sosiologisnya sangat plural. Suasana yang sangat plural bila tidak dibarengi dengan semangat keakraban dan kebersamaan bisa berpotensi melahirkan konflik.

Tentu ada banyak faktor yang berpotensi menyulut konflik, yang paling menonjol karena perbedaan kepentingan politik. Ragam kepentingan politik bisa menjadi modal sosial yang bisa memperkaya nuansa kehidupan bersama sehingga menjadi berwarna, menggairahkan, dan penuh semangat. Tak bisa dibayangkan, betapa membosankan jika suasana kehidupan kita hanya satu warna, monoton, tidak bisa menumbuhkan gairah.

Agar  ragam kepentingan politik tak berujung pada konflik, Halal bi Halal bisa menjadi alternatif. Syaratnya tentu dilakukan dengan terbuka, tidak hanya terbatas bagi umat Muslim, melainkan dengan melibatkan semua kalangan. Halal bi Halal yang dilakukan secara eksklusif justru akan semakin melebarkan jurang pemisah antara umat Muslim dengan yang lain.

Yang lebih penting, Halal bi Halal –minimal semangatnya– seyogianya tak hanya dilakukan pasca Idul Fitri, tapi terus menerus. Hanya dengan menjaga semangat kebersamaan terus menerus, berbagai konflik bisa diredam. Dengan semangat kebersamaan, perbedaan kepentingan akan bisa dikelola menjadi modal sosial yang konstruktif bagi masa depan kemanusiaan.

 

Leave A Comment