Ada teori pembangunan yang sudah cukup lama, popular pada tahun 70-an, yakni teori n-Ach atau the need for Achievement yang dikemukakan oleh seorang ahli psikologi sosial, David McClelland (1971). Teori ini berpijak pada dua pertanyaan: (1) Apakah seseorang memiliki “semangat baru yang sempurna” dalam menghadapi pekerjaannya?; dan (2) Apakah dia memiliki keinginan untuk berhasil?
 
Dengan teorinya, McClelland yakin bahwa keberhasilan seseorang tidak semata karena dorongan-dorongan dari luar seperti untuk kenaikan pangkat, atau untuk mendapatkan imbalan (gaji) yang lebih besar, tapi lebih karena ada panggilan dalam jiwanya yang mampu mendorong seseorang untuk meraih prestasi. Seseorang yang memiliki n-Ach akan merasa puas bila apa yang dikerjakannya mencapai kesuksesan. Adapun imbalan material hanyalah faktor sekunder. Jika dalam suatu masyarakat terdapat banyak orang memiliki n-Ach yang tinggi maka ada harapan besar bahwa masyarakat tersebut mampu mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi pula. Pendapat McClelland ini bukan sekadar asumsi, tapi sudah dibuktikan melalui penelitian sejarah yang panjang.
 
Dari dokumen-dokumen kesusastraan yang dimiliki suatu masyarakat yang ada sejak jaman Yunani Kuno bisa disimpulkan bahwa pada masyarakat yang karya kesusastraannya seperti puisi, prosa, naskah drama, dan lain-lain mencerminkan semangat dan optimisme yang tinggi maka pertumbuhan ekonomi masyarakat yang bersangkutan juga tinggi. Sebaliknya dalam masyarakat yang karya kesusastraannya tidak mencerminkan semangat dan optimisme maka pertumbuhan ekonomi masyarakatnya rendah.
 
Teori n-Ach ini saya kira masih relevan sampai sekarang, terutama bagi masyarakat yang tengah berupaya untuk maju seperti Indonesia. Bagaimana kita bisa melihat apakah masyarakat kita memiliki n-Ach yang tinggi atau tidak? Kalau bukan dari karya sastra setidaknya bisa kita lihat dari harapan-harapan yang muncul saat memasuki tahun baru. Harapan-harapan itu dapat kita baca dalam pesan singkat (SMS), status face book, twitter, dan lain-lain.
 
Harapan-harapan yang dalam bahasa spiritual disebut doa merupakan energi positif yang mampu mendorong keberhasilan kita dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa demikian? Karena setiap harapan baik yang kita baca secara otomatis akan menstimulasi otak kita yang kemudian dipompakan ke seluruh sel-sel yang ada dalam tubuh kita sehingga bergerak secara aktif untuk merealisasikan harapan-harapan itu.
 
Energi positif itu bahkan bisa dipastikan ikut mempengaruhi lingkungan sekitar karena dalam proses aktualisasinya senantiasa meniscayakan interaksi dengan lingkungan yang ada di sekitarnya. Energi positif ini, selain karena n-Ach yang built-in dalam jiwa kita, bisa juga muncul karena kondisi kritis yang ada di luar diri kita yang kemudian menjadi dasar lahirnya teori Mestakung.
 
Mestakung adalah akronim dari “semesta mendukung”. Menurut teori yang diperkenalkan Prof Yohanes Surya ini, alam semesta (lingkungan) akan senantiasa mendukung kita untuk keluar dari kondisi kritis. Seberapa besar pun kondisi kritis itu, alam semesta sudah diciptakan Tuhan dengan sendirinya akan menyesuaikan untuk bisa membantu kita keluar dari kondisi kritis itu. Keyakinan inilah antara lain yang mendorong para peserta olimpiade fisika dan matematika dibawah bimbingan Yohanes Suryo senantiasa berhasil meraih prestasi gemilang.
 
Pergantian tahun merupakan momentum yang sangat tepat untuk menumbuhkan energi positif itu. Dengan memunculkan resolusi atau harapan-harapan yang baik pada tahun baru, bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, tahun 2011 harus lebih baik dari 2010.
 
Tak perlu berharap atau bergantung pada pemerintah, jika harapan-harapan yang baik itu diucapkan dengan sungguh-sungguh, dengan memusatkan hati dan pikiran secara penuh, bukan hanya sel-sel yang ada dalam tubuh, tapi alam sekitar pun akan ikut membantu merealisasikan harapan-harapan itu. Percayalah, ada atau tidak ada pemerintah, harapan-harapan itu akan bekerja sesuai mekanisme yang ada pada dirinya!

Leave A Comment