Menurut analisis survei, posisi politik Barack Obama dalam kondisi kritis. Kandidat Presiden Partai Demokrat itu semakin menipis daya dukungan publik dibandingkan John McCain, kandidat Presiden Partai Republik. Survei terbaru Newsweek, majalah terkemuka di Amerika,menunjukkan bahwa Obama hanya unggul tipis sekitar 3 poin dibandingkan McCain, 44% berbanding 41%. Hasil survei bulan Juli ini tentu saja mengejutkan banyak pihak terutama karena perubahan yang sangat dramatis dibandingkan bulan sebelumnya, yakni bulan Juni, ketika Obama masih memimpin survei secara nasional atas McCain dengan terpaut angka cukup besar sekitar 15 poin, persisnya 51% dibanding 36%.

Di tengah masyarakat politik yang percaya pada akurasi survei, semakin tipisnya jarak perolehan suara secara nasional antara Obama dan McCain tentu menjadi perbincangan nasional. Apalagi, konvensi Partai Demokrat di Denver segera tiba waktunya. Dengan sendirinya, turunnya dukungan publik terhadap Obama menjadi tantangan politik tersendiri buat kubu Partai Demokrat secara umum dan tim kampanye Obama secara khusus. Obama, yang semula lebih memikat pemilih independen, mulai menurun dukungannya secara drastis. Pada survei bulan Juni yang diselenggarakan oleh Newsweek, Obama masih mampu mempimpin perolehan suara di kalangan pemilih Independen dengan meraih 48% dibandingkan McCain yang hanya memperoleh 36%. Kini, pada survei bulan Juli, Obama tertinggal dan disalip oleh McCain 41% dibanding 34% yang hanya diraih Obama.

Mengapa terjadi penurunan drastis pada Obama? Ini pertanyaan susah yang tidak mudah dijelaskan secara singkat. Pada satu analisis, kita dapat mengasumsikan bahwa kontestasi dan ’konflik’ antara Obama dan Hillary belum sepenuhnya sembuh di hati para pemilih kubu Demokrat. Meskipun Hillary sudah mengakui kalah dan mendukung penuh kandidasi Obama, namun basis pendukung Hillary masih belum sepenuhnya mau menerima Obama sebagai kandidat presiden Partai Demokrat.

Mereka masih menyimpan luka serius, terutama kaum perempuan, akibat kekalahan Hillary dalam konvensi Partai Demokrat. Bahkan, terdapat angka sekitar 17 persen dari mantan pendukung Hillary yang justru ingin mengalihkan suaranya ke McCain ketimbang Obama pada Pemilu nanti. Tentu saja, ini berita buruk. Salah satu resepnya adalah kemungkinan memasang kembali posisi Hillary sebagai pasangan wapres Obama. Karena dengan begitu, atau hanya dengan cara itulah, kemungkinan basis suara Hillary yang mencapai 18 juta pemilih itu dapat sepenuh hati mendukung tiket impian Obama-Hillary untuk Presiden dan Wakilnya.

Analisis lain di balik penurunan drastis dukungan publik ke Obama lebih dipicu kebingungan pemilih pada identitas keagamaan Obama. Sementara kampanye hitam terhadap identitas keagamaan Obama terus berlanjut dan semakin intensif, survei Newsweek juga merekam tingkat krisis kepercayaan publik pada Obama dalam tiga masalah: 12% suara yang disurvei percaya bahwa Obama disumpah sebagai senator Amerika berdasarkan kitab Suci Al Quran; 26% suara meyakini bahwa Obama dibesarkan sebagai seorang Muslim; dan 39% yakin bahwa Obama mengenyam sekolah Islam ketika dibesarkan di Menteng, Jakarta. Kita semua tahu bahwa tiga hal yang diyakini pemilih dalam survei ini keliru dan tidak benar secara faktual.

Tapi, masalahnya, kebenaran secara faktual tak terkait dengan citra keliru Obama dalam persepsi pikiran pemilih. Artinya, kebenaran faktual Obama terekam dalam ingatan pikiran pemilih secara keliru dan mengakibatkan pemilih untuk tidak memilih Obama pada Pemilu nanti. Jika persepsi keliru di kalangan pemilih ini berhasil dijadikan komoditas politik, terutama sebagai bagian dari kampanye hitam oleh lawan-lawan politiknya, maka prospek Obama untuk terpilih sebagai Presiden pertama berkulit hitam semakin kritis. Kita tahu, kebanyakan orang Amerika masih trauma terhadap apapun yang terkait dengan Islam atau Muslim. Jika dia terus menerus diasosiasikan dengan identitas keislamannya, maka Obama akan menjadi target korban politik dari kampanye hitam dan persepsi yang keliru secara masif di kalangan pemilih.

Dalam politik, semua bisa terjadi. Termasuk kemungkinan menguatnya kembali simpati dan dukungan publik pada Obama. Hal itu mungkin terjadi jika Obama, pertama, pandai dan tepat dalam memilih pasangannya, kedua, mampu secara meyakinkan mengalahkan McCain dalam debat-debat publik yang akan digelar secara maraton dalam kampanye Pemilu nanti; dan terakhir, kembali tampil menjadi inspirator pemilih, pemersatu massa pemilih yang sejauh ini masih terbelah, dan menawarkan kebijakan ekonomi yang berjalan secara tepat di tengah resesi dan ketidakpastian situasi ekonomi Amerika. Jika hal-hal itu dapat diantisipasi dan diselesaikan secara tepat, saya masih tetap yakin bahwa Obama akan menjadi dan terpilih sebagai Presiden Amerika.

Dimuat Oleh: Padang Ekspres 14 Juli 2008

Leave A Comment