Muhibah politik Barack Obama ke Timur Tengah dan Eropa menjadi perhatian dunia. Tidak saja muhibah politik kandidat Presiden Partai Demokrat itu dapat menohok rival utamanya dari Partai Republik John McCain, tapi juga memberikan deligitimasi moral dan politik terhadap Presiden George W Bush. Pesan perubahan yang didengungkan Obama selama ini dipahami dan ditafsirkan oleh pemimpin dan masyarakat Eropa sebagai perubahan dari politik Bush, terutama menyangkut soal Irak, perdamaian Timur Tengah, perlakukan terhadap terorisme, perubahan cuaca dan seterusnya.

Karena itu, muhibah politik Obama punya momentum dan pesan politik yang jelas: anti-Bush. Obama datang dan berkunjung ke Eropa ketika administrasi politik Bush di Timur Tengah benar-benar sedang dalam keadaan lemah dan buruk. Bush dinilai gagal dalam membangun aliansi dan persekutuan dalam mengatasi masalah Irak dan Timur Tengah secara umum. Untuk itu, muhibah politik sarat pesan politik bahwasanya Obama dipandang sebagai pemimpin dan sekutu baru dalam mengatasi masalah Irak. Lebih tegas lagi, muhibah politik itu telah membawa suatu perubahan baru tentang bagaimana para pemimpin dunia sedang memposisikan secara politik dalam menyambut pemimpin dunia baru bernama Obama.

Karena itu, meskipun belum resmi menjadi Presiden Amerika, muhibah politik Obama ke Eropa telah disambut dengan penuh kehormatan dan antusiasme yang luar biasa. Sambutan itu ibarat sambutan yang diberikan kepada seorang Presiden Amerika. Mereka pantas antusias dan gegap gempita dalam menyambut kepemimpinan dan administrasi politik baru yang dinahkodai oleh Obama.  Jumat akhir pekan lalu, misalnya, muhibah politik Obama ke Paris langsung disambut dengan karpet merah oleh Presiden Perancis Nicolas Sarkozy.

Dengan menyebut Obama sebagai sahabatnya, Presiden Perancis bahkan secara terus terang berkata bahwa Perancis akan senang melihat Obama terpilih sebagai Presiden Amerika yang akan datang. Dalam versi resminya, Presiden Perancis berkata: ”So good luck to Barack Obama. If he is chosen, then French will be delighted.”  Sambutan Presiden Perancis ini jelas-jelas suatu keberanian politik yang luar biasa dalam diplomasi politik internasional, dengan terus terang melakukan ”intervensi” politik dan memberikan ”endorsemen” terbuka terhadap Obama.

Peristiwa ini tentu saja bertolak belakang dengan sambutan Perancis ketika rival utama Obama, John McCain berkunjung ke Perancis bulan Maret lalu. Waktu itu, McCain sama sekali tidak disambut Presiden Perancis dan jauh dari suasana kehangatan politik seperti yang diberikan kepada Obama. Eropa dan Timur Tengah umumnya menyambut baik dan antusias terhadap rencana politik Obama untuk menarik pasukan Amerika dari Irak. Eropa secara sendiri sudah lelah dengan isu perang Presiden Bush dan lebih menghendaki perdamaian di Timur Tengah dengan menarik pasukan Amerika.

Penarikan pasukan juga dapat dipahami sebagai konsekuensi politik dari kebijakan anti-perang yang selama ini disuarakan Obama.  Sewaktu Obama pidato di Berlin, Jerman, pesan politiknya pun jelas. Yakni, agar Amerika dan Eropa kembali bekerja sama atas dasar kepentingan bersama. Selama ini, Eropa seperti sudah menarik diri dari aliansi bersama Bush dalam perang melawan terorisme. Eropa juga tak sepakat dengan tindakan perang sepihak di Irak. Menariknya, pesan politik Obama yang anti-Bush mendapat sambutan luar biasa di Berlin.

Kita dapat menduga bahwa kecintaan dan antuasiasime luar biasa orang Eropa terhadap Obama karena dipicu oleh spirit Obama yang anti-Bush dan anti-perang. Bush sudah terlanjur diidentikan dengan pemimpin yang senang berperang, sementara Obama menjadi antitesa terhadap Bush. Karena itulah, muhibah politik Obama ke Eropa disambut gegap gempita pemimpin dan masyarakat Eropa secara umum. Obama, seperti dinobatkan media Der Spiegel yang terbit di Jerman, ibarat ”the American idol.”

Dimuat Oleh: Padang Ekspres 28 Juli 2008

Leave A Comment