Hubungan agama dan politik menjadi isu seksi yang tak pernah usang. Baik agama maupun politik tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Keduanya mengatur tata cara hidup manusia dari lahir, bangun tidur, hingga tidur lagi. Bagaimana kita memandang hubungan antara keduanya, ada baiknya belajar pada Sang Proklamator, Muhammad Hatta.

Di tengah hiruk pikuk kontroversi tentang halal-haram mengenai penggunaan masjid sebagai tempat kegiatan politik. Kiranya penting untuk melihat kembali pandangan dan perilaku politik Hatta.

Ada yang berpandangan bahwa berkegiatan politik di masjid halal dan bahkan dianjurkan karena sejak jaman Rasulullah SAW masjid merupakan pusat kegiatan umat Islam, termasuk dalam melakukan konsolidasi politik.

Sementara bagi yang berpendapat haram, karena masjid dianggap sebagai tempat suci, tempat beribadah yang diagungkan dan dipelihara dari tindakan-tindakan yang bisa merusak keagungannya. Kesucian masjid tidak pantas dijadikan alat meraih kekuasaan yang penuh intrik dan intimidasi.

Di luar halal-haram, ada pandangan moderat yang membolehkan masjid sebagai sarana kegiatan politik sepanjang dilakukan secara objektif, berperspektif kemanusiaan universal, dan tidak untuk kepentingan dukung mendukung kandidat politik tertentu (kepentingan kekuasaan jangka pendek).

Munculnya wacana ini sejatinya tidak bisa dilepaskan dari konsep dasar hubungan agama dan politik yang diinterpretasikan secara dinamis. Dinamika hubungan agama dan politik sudah lama berkembang, dan biasanya akan mendapatkan perhatian khusus pada momen-momen politik tertentu seperti menjelang Pilkada dan Pemilu.

Dalam konteks keindonesiaan, dinamika hubungan agama dan politik sudah muncul sejak awal republik ini berdiri. Perdebatan ideologis dalam Konstituante tentang dasar negara dengan menggunakan Islam atau ideology yang lain, merupakan titik puncak dinamika hubungan agama dan politik di Indonesia.

Dalam proses perdebatan itu, Muhammad Hatta memiliki peran yang khas dan signifikan. Dikatakan signifikan karena –dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat Indonesia bagian Timur—Hatta mengusulkan agar kalimat “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dihilangkan yang kemudian diganti menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Bagi Hatta, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah tauhid yang tidak bisa dipisahkan dari Islam. Tapi, pada saat yang sama, semangat agama lain (selain Islam) pun terpenuhi dalam asas ini, dengan menginterpretasikan keesaan sesuai dengan perspektif keimanan masing-masing. Dan yang lebih penting, dengan asas ini, tuntutan Indonesia Timur untuk menjadi negara sendiri yang terpisah dari Indonesia, tidak memiliki alasan lagi.

Menurut Deliar Noer, ada dua hal yang sangat mempengaruhi Hatta dalam beragama. Pertama, doktrin hablum minallah (hubungan dengan Allah) yang dianggapnya mutlak, praktis, tidak perlu berteori, dan benar-benar dilaksanakan. Menurutnya rasa percaya kepada Allah harus dipupuk dan ditindaklanjuti dengan amal perbuatan.

Kedua, doktrin hablum minannas (hubungan dengan manusia). Menurut Hatta, berjuang untuk membela tanah air, bangsa, dan masyarakat merupakan keniscayaan karena hal ini menyangkut tugas hidup sebagai manusia. Dan untuk melaksanakan doktrin ini ia rela diasingkan oleh pemerintah Belanda dan dibuang ke Digul dan Banda Neira.

Dalam catatan Deliar Noer, sepanjang hidupnya Hatta berbuat positif bagi tanah air, bangsa dan masyarakat, baik sebagai manusia biasa maupun ketika memegang jabatan (sebagai Wakil Presiden). Dalam berpolitik, Hatta benar-benar menginginkan persatuan Indonesia yang ditegakkan di atas keragaman suku, ras, dan agama.

Hatta mempelajari Islam dan menerapkannya secara konsisten. Ajaran-ajaran Islam yang tertuang dalam kitab suci dipraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena keyakinan pada Islam yang begitu kuat, Hatta berpandangan bahwa Islam menjadi bagian yang tak terpisahkan (unsur pendukung) dari demokrasi.

Hatta meyakini bahwa Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi keadilan, kesejahteraan, dan pemenuhan hak-hak dasar manusia. Dalam bidang ekonomi, Islam memiliki ajaran yang tegas dalam memberantas kemiskinan.

Sosialisme yang diperjuangkan Hatta, diyakininya sebagai bagian dari ajaran Islam. Sebagaimana sosialisme yang berkembang di Barat, ajaran Islam membangkitkan kalangan miskin untuk bisa meraih kesejahteraan. Hak setiap warga negara yang tertuang dalam UUD 1945, menurut Hatta merupakan ketentuan yang diperintahkan ajaran Islam.

Sepanjang hidupnya, Hatta tidak pernah mengklaim diri paling benar. Ia juga tidak pernah mengumandangkan takbir dalam pidato-pidatonya untuk menunjukkan bahwa dirinya paling Islami, atau banyak memekikkan teriakan merdeka untuk menunjukkan dirinya paling nasionalis. Bagi Hatta, meyakini Islam dan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat adalah satu kesatuan yang harus diimplementasikan dalam kehidupan dirinya.

Karena keyakinan, pandangan hidup, dan prilakunya yang mencerminkan ajaran Islam, kiranya tidak berlebihan jika ada yang berpandangan, Hatta merupakan sosok yang mampu mengintegrasikan agama dan politik kebangsaan dalam satu tarikan napas dalam kehidupannya. Inilah salah satu pelajaran penting dari Hatta untuk kita semua.

Leave A Comment