Seorang pemimpin bisa lahir kapan saja, tanpa diduga-duga. Siapa yang bisa menduga, misalnya, Joko Widodo tiba-tiba terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia. Sementara banyak tokoh lain yang jauh lebih populer, karena sudah bertahun-tahun mengampanyekan diri, ternyata tak kunjung terpilih.

Tapi, sosok pemimpin seperti apa yang sebenarnya lebih dibutuhkan bangsa ini? Menurut saya, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, yang populer disapa Ahok, adalah (salah satu) sosok yang dibutuhkan bangsa ini. Kemampuannya bersikap independen, tanpa kompromi, terutama saat berhadapan dengan kepentingan partai politik yang cenderung menyandera, membuat Ahok punya kualitas yang berbeda dari pemimpin-pemimpin lain.

Sejak Presiden Soeharto lengser hingga saat ini, belum ada sosok Presiden RI yang benar-benar independen dan terbebas dari kepentingan partai politik. Bahkan, Presiden Joko Widodo, yang awalnya berkomitmen untuk tidak berkompromi dengan partai politik, akhirnya “menyerah” dan mengakomodasi kepentingan partai-partai yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Hebat.

Barangkali hanya Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang sedikit independen, meski ia berasal dari partai politik. Gus Dur mampu melawan kepentingan partai-partai yang tidak sejalan dengan dirinya. Sayangnya, perlawanan Gus Dur berujung pada pemakzulan dirinya.

Mungkin, karena belajar dari kasus Gus Dur itu, presiden-presiden berikutnya lantas melakukan banyak kompromi. Koalisi digalang sebesar-besarnya di parlemen untuk memberikan dukungan penuh pada presiden. Tak peduli apakah partai yang diajak berkoalisi memiliki visi dan misi yang sama atau tidak. Bahkan, yang memiliki kecenderungan ideologi yang berbeda pun tetap diajak dalam satu koalisi.

Hasilnya apa? Presiden tersandera kepentingan partai-partai. Pada saat hendak mengambil keputusan, termasuk yang sangat krusial dan berkaitan langsung dengan kepentingan rakyat, presiden selalu ragu-ragu. Pertimbangan politik selalu dikedepankan dan dianggap lebih penting dari aspirasi dan kepentingan rakyat.

Akibat pembentukan koalisi kompromistis itu, selain menyandera presiden, ada juga partai yang bersikap mendua. Kakinya berpijak di ranah koalisi pemerintah, namun pandangan-pandangan politiknya bertentangan dengan pemerintah (oposisi). Karena itu, muncul istilah yang sangat populer, “koalisi rasa oposisi”. Artinya, memang ada partai yang “menikmati” kursi kabinet, namun kader-kadernya di parlemen hampir selalu tidak sejalan dengan pemerintah.

Praktik politik dua kaki ini merupakan preseden buruk, baik bagi partai politik yang bersangkutan maupun bagi pemerintah. Secara sistemik, sikap partai semacam itu bisa menghambat proses demokratisasi. Sikapnya tidak elegan. Ibarat kata pepatah, hanya mau makan nangka (manisnya) tanpa mau terkena getahnya (pahitnya). Secara etis, sikap seperti ini tak bisa dibenarkan.

Akibat dari sikap para presiden yang kompromistis itu, negeri ini sulit melakukan akselarasi pembangunan. Penyebabnya, kebijakan-kebijakan pembangunan dari pemerintah selalu mendapatkan kritikan atau bahkan penolakan dari parlemen, termasuk dari kader-kader partai koalisi.

Maka, kita butuh sosok pemimpin seperti Ahok yang pemberani dan tak mau kompromi. Dalam banyak kesempatan, Ahok selalu menegaskan akan tetap membela Pancasila dan UUD 1945, walau risikonya kematian.

Banyak partai politik berkomitmen menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 1945. Namun dalam praktiknya, boleh dikatakan masih nol. Pada saat terjadi kasus penistaan agama atau penistaan mazhab suatu agama, partai-partai diam seribu bahasa. Partai-partai mencari selamat dan cenderung memberikan dukungan pada penistaan itu. Komitmen menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 1945 hanya jadi komoditas politik dari partai-partai.

Kita butuh sosok pemimpin seperti Ahok yang selalu bicara terus terang, yang bisa marah seketika pada saat melihat ketidakberesan. Ahok menjadi simbol pemimpin dengan karakteristik khas, yang sangat dibutuhkan Indonesia saat ini.

Di satu sisi, keanekaragaman suku, bahasa, budaya, dan agama membawa berkah, karena Indonesia menjadi negara yang kaya budaya, kaya nuansa, dan warna-warni yang indah. Di sisi lain, keragaman itu kerap menjadi pemicu gesekan, baik fisik maupun politik.

Banyak kasus warga negara terusir dari kampung sendiri. Ia dinistakan, semata-mata karena memiliki keyakinan yang berbeda dari mayoritas penduduk di kampung itu. Suatu sikap yang disadari atau tidak telah mengoyak keutuhan Bhinneka Tunggal Ika serta mencampakkan Pancasila dan UUD 1945 yang menjamin hak setiap warga negara untuk beragama dan berkeyakinan.

Terlalu banyak masalah yang dihadapi negeri ini. Untuk membenahinya dibutuhkan presiden yang benar-benar tanpa kompromi seperti Ahok. Memiliki komitmen tinggi menjaga konstitusi, pemberani, dan bersih dari korupsi. Siapa dia? Bisa Ahok, bisa juga orang lain yang punya sifat dan sikap yang sama seperti Ahok.

 

Sumber foto: http://news.liputan6.com/read/2176570/ahok-kalau-punya-hak-saya-juga-mau-interpelasi-dprd

Leave A Comment