Bob Sadino merupakan sosok interpreneur sukses yang unik dan nyentrik. Popularitasnya menjulang bukan semata karena kesuksesan bisnisnya di bidang pangan dan peternakan, tapi juga karena gaya hidup dan gagasan-gagasannya cenderung di luar kewajaran.

Salah satu keunikannya, dimana pun berada, dan kemana pun pergi, ia selalu mengenakan kemeja lengan pendek dipadu dengan celana pendek. Bahkan dengan pakaian khas inilah ia menemui Presiden Soeharto, saat penguasa Orde Baru ini sangat disegani oleh seluruh penduduk negeri pada tahun delapan puluhan.

Bernama lengkap Bambang Mustari Sadino, pemilik gerai Kemfood dan Kemchick ini lahir di Bandar Lampung, 9 Maret 1933, dari keluarga berkecukupan. Sepeninggal orang tuanya, ia gunakan harta warisan untuk ongkos pergi jalan-jalan ke Eropa. Sempat menetap di Belanda selama 9 tahun dengan bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam.

Sepulang dari Eropa, Bob membawa serta dua mobil mercedes, satu mobilnya ia jual untuk membeli sebidang tanah di daerah Kemang, Jakarta Selatan, dan satu lagi ia gunakan untuk modal berbisnis dengan cara menyewakannya pada orang lain dengan tetap ia sopiri sendiri.

Usaha “sewa mobil” Bob tidak berjalan mulus karena mobilnya rusak parah akibat kecelakaan. Tak mampu memperbaiki mobilnya, Bob banting setir menjadi kuli bangunan dengan upah “hanya” 100 rupiah perhari, sampai suatu saat karena tawaran seorang kawan, ia memulai bisnis peternakan ayam negeri saat ayam kampung masih mendominasi seluruh pasar.

Sebagai peternak ayam negeri petelor, Bob sukses menggeser dominasi ayam kampung, tentu dengan melalui jalan penuh onak dan penuh liku.Yang membuatnya istimewa, setelah meraih kesuksesan, ia tak segan membagikan ilmunya kepada siapa pun, dengan cara-cara yang unik. Ia menjadi motivator untuk semua kalangan.

Kata-kata motivasinya cenderung memutarbalikkan fakta-fakta yang banyak dikemukakan motivator pada umumnya. Di antara kita, misalnya, tentu sering mendengar ungkapan-ungkapan hebat dari motivator ternama, Mario Teguh, yang terus-menerus menganjurkan “pemantasan diri” untuk meraih kesuksesan. Hanya yang berprestasi yang layak meraih sukses. Begitulah kira-kira rumusannya.

Bagi Bob Sadino, rumus itu bisa  ia balik. Prilaku yang dianggap orang tidak pantas, ia bisa lakukan dan bahkan ia anjurkan pada orang lain sebagai “cara lain” menuju kesuksesan. Dan yang dianggap orang, maaf, goblok, ia buktikan bisa meraih kesuksesan. Maka tak ayal, salah satu peninggalan Bob yang paling populer adalah “Goblog Manajemen”.

“Goblog manajemen” bisa dikatakan anomali yang menentang nalar pada umumnya. Banyak ungkapan Bob, misalnya, yang secara frontal menentang kewajaran, berbanding terbalik dengan kata-kata yang sering diungkapkan Mario Teguh yang terus-menerus mendorong orang lain untuk meraih prestasi, prestasi, dan prestasi.

Bagi Bob, prestasi bukanlah segalanya, bahkan boleh dikatakan bukan ukuran kesuksesan. Mereka yang berprestasi di sekolah justru menjadi petanda akan menjadi karyawan, atau menjadi anak buah mereka yang tidak berprestasi. Indeks prestasi komulatif (IPK) di atas tiga koma, menurut Bob, menjadi alamat calon karyawan. Mengapa demikian, karena “orang pintar kebanyakan ide dan akhirnya tidak ada satu pun yang menjadi kenyataan. (Sedangkan) orang goblog cuma punya satu ide dan itu menjadi kenyataan.”

Banyak orang pintar tidak sukses karena sudah merasa terisi penuh dan tidak menyisakan ruang untuk diisi orang lain, padahal menerima masukan-masukan dari orang lain itulah awal dari kesuksesan. “Setiap ketemu orang baru, saya selalu mengosongkan gelas saya terlebih dahulu,” kata Bob Sadino.

Orang pintar karena berpikir ribuan mil menjadi terasa berat. Orang goblog tak pernah mikir tapi terus melangkah hingga langkahnya jauh meninggalkan orang pintar. “Orang goblog tak banyak mikir, yang penting terus melangkah. Orang pintar kebanyakan mikir, akibatnya tidak pernah melangkah.” Siapa pun boleh tidak percaya dengan kata-kata ini, yang pasti Bob Sadino telah membuktikannya sendiri.

Menggoblogkan diri sendiri terlebih dahulu menjadi syarat mutlak sebelum menggoblogkan orang lain. Menggoblogkan orang lain, dalam arti positif adalah menjadikan orang lain karyawan, menjadikan orang lain sebagai staf yang digaji dan disuruh bekerja sesuai keinginan kita.

Orang pintar banyak menjadi karyawan orang goblog karena orang goblog sulit mendapatkan pekerjaan sehingga dia membuka usaha sendiri dan saat bisnisnya berkembang, banyak merekrut orang pintar menjadi karyawannya. “Orang pintar belajar keras untuk melamar pekerjaan. Orang goblog berjuang keras untuk sukses biar bisa membayar para pelamar kerja.”

Pada umumnya, orang berbisnis mencari untung, sedangkan Bob Sadino mencari rugi karena dengan merugi ia mendapatkan lebih banyak semangat, dan jika beruntung ia menambah rasa syukur pada Tuhan.

Sekolah yang berada di gedung-gedung mewah dengan fasilitas belajar yang lengkap dan terus-menerus menuntut prestasi anak didiknya belum tentu menjadi sekolah yang baik. Sekolah terbaik bagi Bob adalah sekolah jalanan, yaitu sekolah yang memberikan kebebasan kepada murid-muridnya supaya bisa kreatif.

Murid-murid kreatif pada umumnya bukanlah murid-murid yang pintar, melainkan mereka yang terus-menerus mencoba karena terus-menerus mengalami kegagalan. Dan, percayalah, pada faktanya tidak ada kegagalan terus-menerus karena setelah kegagalan selalu datang kesuksesan. Orang pintar banyak menemui kegagalan karena kurang sabar menunggu kesuksesan.

Itulah Bob Sadino, kata-katanya provokatif dan terkadang di luar nalar. Dan itu bukan tidak disadarinya. Banyak orang menggangapnya gila sampai akhirnya dapat melihat kesuksesannya karena hasil kegilaannya.

Bob Sadino kini telah tiada. Senin (19/1/2015) lalu Allah telah memanggilnya. Selain warisan harta kekayaan untuk dua anak dan cucu-cucunya, ia meninggalkan banyak pelajaran berharga buat kita semua. Selamat jalan Om Bob!

Leave A Comment