Sabtu, akhir pekan lalu, kandidat presiden Partai Demokrat Barack Obama tiba di Afghanistan. Inilah kunjungan luar negeri Obama sebagai bagian dari jawaban atas cercaan lawan-lawan politiknya. John McCain, kandidat presiden Partai Republik, seringkali mencerca Obama terkait dengan kebijakan luar negerinya. Di mata McCain, Obama dinilai sebagai kandidat yang minus sekali dari segi pengetahuan dan kebijakan luar negeri. Tampaknya, aspek ini terus diangkat McCain sebagai strategi dirinya untuk menjatuhkan dan menembak reputasi politik Obama. Ada indikasi kuat bahwa misi McCain akan berhasil.

Setidaknya, dalam sejumlah polling, popularitas Obama turun drastis dan hanya selisih dua atau tiga digit dengan McCain. Karena itu, ketika Obama terbang ke Afghanistan Timur akhir pekan lalu, perjalanan politik itu harus dibaca sebagai bagian dari strategi politik Obama tentang akurasi insting dalam pengambilan kebijakan luar negerinya. Pertama, Obama sangat punya komitmen politik serius untuk memberantas terorisme. Sikapnya anti-perang terhadap Irak seringkali dijadikan komoditas politik murahan oleh lawan-lawan politiknya untuk menghantam dirinya bahwa Obama tidak serius dalam pemberantasan terorisme.

Kedua, kunjungan ke Afghanistan akhir pekan lalu juga harus dibaca sebagai bagian dari perjalanan politik untuk menumbuhkan impresi positif tentang kemampuan politiknya dalam kebijakan luar negeri di tengah situasi perang. Tentu saja, hal ini mengandung risiko politik yang sangat serius, jika misalnya Obama melakukan kekeliruan dalam kebijakan politiknya. Sekali ada kesalahan sekecil apapun dalam kebijakan luar negeri, maka McCain dan lawan-lawan politiknya akan terus mencerca dan menjatuhkan reputasi dirinya sebagai pemimpin. Namun, di sisi lain, Obama dan timnya justru melihat peluang positif di balik itu semua. Yakni, terciptanya kesempatan politik yang terbuka luas bahwa Obama adalah kandidat presiden yang terkuat untuk memulihkan citra Amerika di mata dunia.

Ketika asumsi sebagian kaum konservatif Amerika bahwa saat ini dalam situasi perang dan dibutuhkan pemimpin seperti McCain untuk memenangkan perang melawan terorisme, Obama tampil secara meyakinkan dengan tegas ingin segera menarik pasukan Amerika dari Irak dalam tempo 16 bulan. Dia tampaknya ingin mengakhiri hantu terorisme yang semakin meruntuhkan reputasi diri Amerika dalam percaturan global dunia. Atas nama gerilya perang melawan terorisme, Amerika malah teralienasi dari sekutu-sekutu politiknya dan semakin dibenci dunia akibat korban kemanusiaan yang ditimbulkan akibat perang terhadap Irak.

Dalam konteks itulah, Obama tampil sebagai pemimpin yang diyakini dunia karena wibawa dan kemampuan politiknya untuk memulihkan tata pergaulan dunia secara lebih damai dan bersahabat. Runtuhnya moral politik Amerika di mata dunia dapat pelan-pelan terobati dengan spirit anti-perangnya, penarikan pasukan tentara Irak secepat mungkin, dan usahanya menata kembali hubungan Amerika dengan dunia lain secara lebih damai dan beradab. Namun, di sisi lain, Obama tampaknya menghadapi tantangan politik yang sangat serius.

McCain dan lawan-lawan politiknya relatif sukses menjadikan kekuatan politik Obama anti-perang justru sebagai kelemahan dalam pengambilan kebijakan politik luar negerinya. Ingatan politik warga Amerika tentang destruksi perang pelan-pelan mulai terlupakan. McCain yang justru pro-perang dan ingin mempertahakan tentara Amerika dua ratus tahun lagi di Irak, malah semakin popular di mata warga Amerika, setidaknya berdasarkan survei dan jajak pendapat nasional.

Dimuat Oleh : Padang Ekspres 21 Juli 2008

Leave A Comment