Singapura berduka. Seorang pemimpin yang telah berhasil membangun Singapura selama bertahun-tahun dengan tingkat kesejahteraan rakyat yang tinggi telah tutup usia Senin (23/3) lalu dengan meninggalkan legacy dan prestasi yang luar biasa. Lee Kuan Yew merupakan tokoh politik yang nyaris sempurna: berpengetahuan luas, visioner, dan memiliki kharisma yang besar sebagai pemimpin.

Tapi, tiga kombinasi itu (pengetahuan, visi, dan kharisma) menjadi luar biasa karena diimplementasikan dalam membangun Singapura yang bersih dan maju. Secara fisik, Singapura hanya negara kota yang kecil, dengan kekayaan alam yang tidak bisa diandalkan, dan jumlah penduduk yang tak seberapa. Jika dibandingkan dengan Indonesia, mungkin hanya “seujung kuku”.

Tapi berkat Lee, city state yang “seujung kuku”-nya Indonesia itu menjadi negara maju yang sejajar dengan negara-negara besar lainnya, menjadi salah satu pusat perputaran uang dunia. Mengapa Singapura menjadi negara maju—bahkan satu-satunya negara maju di Asia Tenggara, setidaknya untuk saat ini? Karena Lee berhasil mengelola Singapura secara terukur.

Semua potensi, berikut faktor-faktor pendukungnya, dikombinasikan dan diatur dengan cermat dan tepat untuk meraih cita-cita yang diinginkan. Lee mungkin bukan ideolog seperti Soekarno yang bisa berkonfrontasi dengan siapa pun yang dianggap mengancam (ideologi) negaranya. Lee adalah seorang pragmatis yang bisa bersahabat dengan siapa pun demi untuk memajukan bangsanya.

Demi menjalin hubungan yang harmonis dengan Presiden Soeharto misalnya, pada saat berkunjung ke Jakarta tahun 1973, Lee rela menundukkan kepala dan menaburkan bunga di makam Usman dan Harun, anggota Korp Komando Operasi (KKO) atau marinir yang pernah meledakkan bom di Singapura. Tapi terhadap rakyatnya Lee tergolong keras, atau lebih tepatnya sangat tegas, terutama dalam membangun disiplin dan dalam menegakkan aturan main.

Karena ketegasannya, Lee kadang disebut sebagai pemimpin yang kontroversial karena dalam membangun negaranya ia tak segan-segan untuk mempersempit ruang gerak rakyatnya. Hampir semua urusan penduduk Singapura diatur oleh negara. Karena itu tak jarang Lee disebut mengitervensi kehidupan privat para warga negaranya.

Terhadap sebutan itu bukan berarti Lee tak peduli. Ia sangat peduli sehingga dalam salah satu pidatonya mengatakan: “Saya kerap dituding mencampuri urusan rumah tangga warga negara. Ya, kalau saya tidak melakukan hal itu, kita tidak mungkin sampai pada titik ini. Dan saya katakan ini tanpa ada penyesalan sedikit pun.

Kami memang telah mengintervensi hal-hal yang paling pribadi dalam hidup kalian—siapa tetangga kalian, bagaimana kalian hidup, suara apa yang kalian buat, bagaimana kalian meludah, atau bahasa apa yang kalian gunakan. Kami telah memutuskan hal yang benar, terserah apa kata orang. ”Dengan prinsip “terserah apa kata orang” Lee tak jarang dianggap melanggar kekebasan berekspresi, bahkan melanggar hak-hak asasi.

Kebebasan pers di zaman Lee nyaris tidak ada. Setiap potensi kekuatan yang dianggap tidak menguntungkan bagi negara senantiasa dieliminasi. Secara terang-terangan, Lee menentang kebebasan pers dan media massa. Di tangan Lee, kehidupan di Singapura menjadi sangat teratur, akuntabel, dan semua serba terkontrol.

Hampir tidak ada data pribadi, berikut jumlah kekayaan yang dimilikinya, yang tidak diketahui dan dikontrol oleh negara. Tapi di sisi lain, semua fasilitas publik dibuat nyaman dan bersih. Uang rakyat yang dibayarkan pada negara melalui pajak benar-benar dikembalikan lagi pada rakyat dengan membangun infrastruktur, taman-taman kota, dan fasilitas umum yang benar-benar dibutuhkan rakyat.

Yang juga menarik untuk dicermati, Lee menjadi Perdana Menteri (PM) sejak Singapura belum merdeka tahun 1959. Pada saat Singapura memperoleh kemerdekaan penuh dari Inggris, 9 Agustus 1965, Lee tetap menjadi PM, dan bahkan pengabdiannya pada negara tidak berhenti pada saat dirinya berhenti menjadi PM, 28 November 1990, yang kemudian digantikan oleh PM Goh Chok Tong.

Lee mempraktikkan falsafah hidup “tut wuri handayani” dengan menjadi Menteri Senior di era kepemimpinan PM Goh Chok Tong (1990-2004), dan menjadi Menteri Mentor di era kepemimpinan anaknya, PM Lee Hsien Loong (2004-2011). Kalau bukan karena faktor kesehatan yang kian menurun, niscaya Lee akan tetap berkiprah membimbing pemimpin para pelanjutnya hingga akhir hayat.

Karena kiprah dan pengaruhnya yang begitu besar, antara Lee dan Singapura tak bisa dipisahkan. Jika di Indonesia kita menemukan banyak tokoh pendiri bangsa yang bisa berdiri sejajar, dengan kelebihan masing-masing, di Singapura, Lee menjadi tokoh pendiri bangsa yang nyaris tidak ada bandingannya. Karenanya harus diakui, tanpa Lee, mungkin Singapura tak akan maju seperti saat ini.

Leave A Comment